- Mahasiswa UGM menciptakan inovasi untuk mengurai sampah
- Sampah organik nanti akan menjadi pupuk yang memiliki nilai lebih
- Cacing digunakan sebagai media untuk menciptakan pupuk berkualitas
SuaraJogja.id - Siapa sangka cacing tanah bisa jadi primadona dalam mendukung teknologi ramah lingkungan?
Tak hanya menjadi teman para pemancing tapi ternyata dapat membantu pengolahan sampah organik.
Ide itu diungkap oleh kelompok mahasiswa Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) Universitas Gadjah Mada (UGM).
Mereka berhasil 'menaikkan kelas' hewan berlendir itu lewat inovasi cerdas bernama Wormibox, sebuah alat budidaya cacing berbasis Internet of Things (IoT) yang mampu mengubah sampah organik menjadi pupuk bernilai jual.
Lewat perpaduan antara bioteknologi, rekayasa alat, dan semangat zero waste, tim ini membuktikan bahwa solusi besar untuk masalah limbah bisa lahir dari sesuatu yang kecil, bahkan dari seekor cacing.
Salah satu anggota tim Fikriansyah Ridwan dari Fakultas Teknik UGM menuturkan bahwa Wormibox dirancang untuk mengontrol dan memantau kondisi hidup cacing agar proses dekomposisi berjalan optimal.
"Kami menggunakan microcontroller yang berfungsi untuk mengontrol serta memonitor suhu dan kelembapan media dari cacing ini," kata Fikri, kepada awak media, Jumat (10/10/2025).
Disampaikan Fikri, keseimbangan suhu dan kelembapan sangat penting dalam hal ini.
Tujuannya agar cacing dapat memakan sampah organik secara optimal serta berkembang biak dengan baik.
"Fungsinya agar cacing bisa dengan optimal memakan sampah organik serta dapat hidup dan berkembang dengan baik," tandasnya.
Di dalam alat ini terdapat dua sensor, kelembapan dan suhu, yang diolah oleh microcontroller untuk menyalakan kipas dan pompa air secara otomatis.
"Ketika suhu terlalu panas, kipas akan menyala dengan sendirinya," ucapnya menjelaskan sistem kerja Wormibox.
Anggota tim lain, Maulana Iqbal Pambudi dari Fakultas Peternakan, mengatakan pemilihan cacing sebagai fokus riset dilakukan melihat potensinya yang masih jarang dimanfaatkan.
"Kami menggunakan cacing karena ini sebagai alternatif pada masyarakat, karena magot kami rasa sudah cukup mainstream," tutur Iqbal.
Jenis cacing yang digunakan adalah African Nightcrawler atau ANC atau cacing merah yang sudah akrab di kalangan para pemancing.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- Daripada Nyicil BeAT: Ini 5 Motor Keren Murah Bertenaga untuk Pelajar, Harga Mulai 5 Jutaan Saja
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Beroperasi Bertahun-tahun Tanpa Izin Resmi, Pabrik Pengolahan Oli Bekas di Tangerang Resmi Ditutup
- Suzuki Burgman 15 Sudah Ada di Dealer, Skutik Penantang NMAX dengan Layar TFT dan Traction Control
Pilihan
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
-
Resmi! Roy Suryo dan Dokter Tifa Tak Ditahan Jaksa, Ini Syarat yang Harus Dipenuhi
-
Sudewo Tolak Dakwaan Gabungan Kasus DJKA dan Perangkat Desa, Kuasa Hukum Sebut Langgar KUHAP!
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
Terkini
-
Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah, Raudi Akmal: Pengadilan Sudah Nyatakan Saya Tak Terlibat
-
Penetapan Tersangka Raudi Akmal Dipertanyakan, Kuasa Hukum Singgung Putusan Pengadilan
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
-
Kades Curhat Harus Urus Kopdes hingga Program Lain Terabaikan, Ratusan Mahasiswa Geruduk DPRD DIY
-
Ars Longa: Generatio, Awal Trilogi ARTJOG Bicara soal Warisan Luka