- Beras MBG diharapkan dipilih tidak hanya mengenyangkan anak
- Ahli gizi UGM menyarankan penggunaan beras yang bisa menambah nutrisi siswa
- Jogja terus berupaya dalam menekan kasus stunting
"Program Makan Bergizi Gratis ini bagus, tapi perlu dipastikan kualitas bahan pangannya. Gamagora 7 bisa saja digunakan untuk mendukung program nasional ini," paparnya.
Ia juga mengingatkan agar wacana ketahanan pangan tidak berhenti pada isu distribusi atau logistik saja, tetapi mencakup aspek kualitas dan keberlanjutan produksi.
Dengan varietas yang cepat panen dan bernilai gizi tinggi, Indonesia dapat meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat fondasi kesehatan generasi muda.
Contohnya varietas seperti Gamagora 7 membuat petani bisa panen tiga kali setahun.
Artinya produksi beras nasional meningkat dan kaya gizi sehingga ketahanan pangan kita hanya soal kuantitas, tetapi juga kualitas.
Varietas hasil rakitan tim peneliti UGM ini merupakan padi amfibi berumur pendek hanya 95 hari di musim hujan dan 85 hari di musim kemarau.
Produktivitas tinggi mencapai 9–10 ton per hektar di lahan lempung.
Selain cepat panen, varietas ini juga tahan terhadap kondisi iklim ekstrem. Selain itu bisa tumbuh di lahan sawah maupun lahan tadah hujan yang sering tergenang.
"Bahkan ketika hujan berhenti dua minggu, lalu turun lagi dua minggu kemudian, tanamannya tetap bisa recovery dengan baik.
Baca Juga: Yogyakarta Berhasil Tekan Stunting Drastis, Rahasianya Ada di Pencegahan Dini
Taryono menambahkan, pemerintah, termasuk Pemda DIY tidak perlu mengkhawatirkan stok beras premium.
UGM telah membudidayakan Gamagora 7 di berbagai daerah seperti Klaten, Grobogan, Ngawi, Nganjuk, Blitar, NTB, dan Sumatera Utara.
Varietas ini sudah menjadi varietas anjuran pemerintah daerah di beberapa wilayah.
Di lahan yang sesuai, hasilnya stabil di kisaran 9 ton per hektar, meski dapat turun 20 persen jika terkena serangan hama seperti tikus.
"Jadi saat harga beras naik dan langka, maka varietas ini bisa jadi pilihan," ujarnya.
Sementara Sekretaris UGM, Andi Sandi mengungkapkan kampus memang berperan untuk meningkatkan ketahanan pangan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kenapa Maudy Ayunda Disebut Tak Napak Tanah? Ini Kronologinya
- Menteri Keuangan Purbaya Diganti Hari Ini? Wakilnya Sudah ke Istana Pakai Jas
- Status Terbaru Anak Purbaya: Mafia Ancam Presiden Dibalik Pemecatan Bapak, Ada Foto Raja Juli
- Update Reshuffle Kabinet Hari Ini: Menlu Sugiono Dikabarkan Diganti
- Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
Pilihan
-
Dari Aceh hingga Nusa Tenggara, Membaca Peta Ancaman Megathrust Indonesia
-
Kabar Buruk dari Italia: Jay Idzes Cedera 30-35 Hari Absen Bela Timnas Indonesia
-
Purbaya Ogah Bicara Panjang Saat Sertijab Menkeu ke Suahasil: Terima Kasih Semua
-
Apa Salah Purbaya hingga Dipecat Lewat Panggilan Telepon?
-
Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor
Terkini
-
Purbaya Dicopot Pas Lagi Rapat RAPBN, Akademisi UMY Soroti Etika dan Kepatutan Penguasa
-
Menjemput Rezeki dari Balik Layar Gadget hingga Ujung Canting, Kisah Difabel Bertahan Hidup di Jogja
-
PORTA by Ambarrukmo Hadirkan Pameran Eksperimental Photography "Somewhere Blue" by Nia Nanoka
-
Dari Olahraga untuk Negeri, BRI Raih Indonesia Sports Industry of the Year 2026
-
Dari Aceh hingga Nusa Tenggara, Membaca Peta Ancaman Megathrust Indonesia