- Libur Nataru di Yogyakarta menciptakan perputaran uang Rp9 Triliun, namun warga lokal hanya menjadi penonton euforia pariwisata.
- UMP DIY yang rendah (Rp2,4 Juta) kontras dengan pengeluaran wisatawan yang mencapai Rp1 Juta per orang selama dua hari.
- Warga seperti Suharto dan Rina mengalami kesulitan hidup meski bekerja, bahkan harus mengambil pekerjaan tambahan untuk menutupi biaya.
SuaraJogja.id - Libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) selalu menghadirkan wajah Yogyakarta yang gemerlap. Hotel penuh, jalanan macet, restoran ramai, dan destinasi wisata sesak oleh wisatawan dari berbagai daerah. Perputaran uang pun beredar deras di kota ini diperkirakan mencapai Rp 9 Triliun dengan estimasi total pengeluaran per orang sebesar Rp1 juta per orang.
Namun di balik riuh rendah dan euforia pariwisata itu, ada wajah lain yang jauh dari gemerlap. Warga lokal justru banyak yang sekedar jadi penonton dari kemewahan yang melintas di depan mata mereka.
Bilamana tidak, ditengah rendahnya Upah Minimum Provinsi (UMP) DIY yang hanya sebesar Rp2,4 Juta, gaji tersebut hanya cukup untuk memenuhi rata-rata pengeluaran wisatawan hanya dalam dua hari.
Sebut saja Suharto, warga Kota Yogyakarta yang sudah bekerja sebagai pegawai tetap di katering. Meski sudah bekerja selama lebih dari 30 tahun, pria asal Pingit, Kota Yogyakarta ini tak lebih dapat gaji sekitar Rp1,8 Juta per bulan, jauh dari nominal UMP ataupun Upah Regional (UMR) Kota Yogyakarta 2026 sebesar Rp 2,6 juta.
"Gaji Rp 1,8 juta dengan catatan ada tiga event tiap minggu selama sebulan karena satu kali event saya dapat gaji Rp150 ribu meski sudah jadi karyawan tetap. Biasanya satu minggu itu tidak pasti. Ada yang tiga kali, sering-sering ada yang cuma dua kali. Jadi tidak pasti," papar Suharto saat ditemui di Yogyakarta, Selasa (6/1/2026).
Laki-laki 65 tahun tersebut mengaku kalau baru sepi event, pihak katering tidak mempekerjakannya. Karena tak ada pemasukan, maka bapak tiga anak itu memilih jualan nasi di rumah bersama istrinya.
Dia bersyukur ada beberapa orang yang memesan nasi bungkus padanya meski tak banyak. Pemasukan dari berjualan itu yang akhirnya dipakainya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
"Kami bertahan dengan kerja tambahan seadanya. Ya kita harus ada kesibukan di rumah. Ya cuma jualan nasi. Orang rumah bikinkan pesanan. Tidak buka warung, cuma bikin pesanan. Sering nasi, sering juga snack," jelasnya.
Suharto mengaku dia dan istrinya saat ini hidup berdua setelah anak-anaknya berkeluarga dan tinggal terpisah. Ditengah minimnya penghasilan tetap dan tidak ada jaminan bulanan, mereka yang sudah renta harus tetap berjuang demi menyambung hidup.
Baca Juga: Anti Galau Mobil Pertama! 4 Mobil Bekas Paling Nyaman dan Bandel di Bawah Rp70 Juta untuk Pemula
Alih-alih menyekolahkan anaknya setinggi langit, rendahnya UMR di Yogyakarta membuatnya membuang mimpi punya anak berpendidikan tinggi. Realitas ini menjadi semakin kontras jika dibandingkan dengan biaya pendidikan yang besar.
Contohnya UGM yang memiliki skema uang kuliah tunggal (UKT) yang pada kelompok tertentu bisa mencapai belasan hingga puluhan juta rupiah per semester.
Sekolah swasta ternama seperti Muhammadiyah pun menetapkan biaya masuk dan SPP jutaan rupiah per tahun. Bagi keluarga dengan penghasilan sekitar Rp2 juta per bulan, angka-angka itu terasa nyaris mustahil.
Karenanya saat Jogja penuh wisatawan yang menghabiskan jutaan rupiah untuk hotel, kuliner, dan hiburan saat Nataru lalu, Suharto hanya gigit jari karena tak bisa ikut menikmati kemeriahan tersebut.
Padahal banyak wisatawan mengaku senang berkunjung ke Yogyakarta karena alasan harga-harga yang murah. Namun buat warga lokal sepertinya, hal itu tak dinikmatinya.
"Iya, orang luar pada ke sini, habiskan banyak uang buat piknik. Kalau orang Jogja lihatnya, bayaran mereka gede, bisa piknik. Sementara orang Jogja sendiri buat makan saja susah karena gajinya sedikit," tandasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kenapa Maudy Ayunda Disebut Tak Napak Tanah? Ini Kronologinya
- Menteri Keuangan Purbaya Diganti Hari Ini? Wakilnya Sudah ke Istana Pakai Jas
- 3 Rekomendasi Helm Half Face Rp200 Ribuan yang Paling Dicari Bikers, Nyaman Buat Harian
- Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
- Defisit APBN 'Cuma' 0,91 Persen, Purbaya Khawatir Kementerian-Lembaga Minta Anggaran Tambahan
Pilihan
-
Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor
-
Dilantik Jadi Menkeu, Suahasil Akui Tak Berkomunikasi Dengan Purbaya
-
Purbaya Diganti, Nilai Tukar Rupiah Langsung Loyo ke Level Rp17.699
-
Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
-
Ada Pelantikan di Istana Sore Ini, Pratikno Ngaku Dapat Undangan Mendadak
Terkini
-
Kasus Asusila di Ponpes Sleman: Eks Pengurus Ditetapkan Tersangka, Keberadaannya Masih Misterius
-
Dari Pintu ke Pintu, Mantri BRI Dewi Natalia Bantu Pedagang Lampung Akses Pembiayaan
-
Anggaran Minim, BPBD DIY Geser Alokasi Atasi Bencana di Jogja
-
Indonesia Dikepung Lima Bencana, Jusuf Kalla Sebut Lingkungan Rusak oleh Kita Sendiri
-
5 Tahun Holding UMi, Sinergi BRI, Pegadaian, dan PNM Dorong UMKM Bertumbuh