- Kementerian Kehutanan menyatakan rehabilitasi dampak banjir dan longsor Sumatra memerlukan waktu panjang hingga hasilnya optimal.
- Rehabilitasi harus menyesuaikan kondisi kerusakan lahan, diawali konservasi tanah dan air sebelum penanaman dilakukan.
- Pemulihan melibatkan banyak pihak, termasuk swasta dan luar negeri, serta koordinasi normalisasi sungai dengan Kementerian PUPR.
SuaraJogja.id - Kementerian Kehutanan menyatakan rehabilitasi kawasan terdampak banjir dan longsor di Sumatra tak bisa instan. Diperlukan waktu cukup panjang sebelum hasilnya bisa dirasakan secara optimal.
Direktur Jenderal Pengelolaan DAS dan Rehabilitasi Hutan Kementerian Kehutanan, Dyah Murtiningsih, menuturkan bahwa pemulihan fungsi hutan dan daerah aliran sungai (DAS) tidak bisa dilakukan secara instan.
Hal itu akan bergantung pada tingkat kerusakan dan kondisi lahan di lapangan.
Dyah bilang langkah rehabilitasi harus diawali dengan penyesuaian terhadap kondisi kerusakan. Tidak semua lahan bisa langsung ditanami sebab sebagian memerlukan penanganan konservasi tanah dan air.
"Kalau untuk rehabilitasi, satu, tadi tergantung dari kondisinya. Kondisi dari kerusakannya itu sendiri," kata Dyah saat ditemui di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Senin (12/1/2025).
Disampaikan Dyah, pihaknya perlu melihat kondisi dan lokasi lahan terdampak. Hal itu berguna untuk kesesuaian penerapan teknik konservasi yang digunakan.
Langkah ini diperlukan untuk mencegah longsor susulan, terutama pada kondisi cuaca ekstrem.
"Harus dengan menerapkan prinsip-prinsip konservasi tanah air tadi," ujarnya.
Selain kawasan darat, rehabilitasi juga dilakukan di wilayah sungai yang terdampak banjir. Penanganan tersebut melibatkan kementerian dan lembaga lain, khususnya Kementerian Pekerjaan Umum, untuk normalisasi sungai dan pengendalian banjir.
Baca Juga: UGM Gerak Cepat! 218 Mahasiswa Terdampak Bencana Banjir dan Longsor Dapat Bantuan Ini
"Kalau kita bicara di kawasan air, sungainya, itu dengan PU untuk pembersihan normalisasi sungainya," tandasnya.
Ia bilang, rehabilitasi hutan dan revegetasi tidak hanya mengandalkan anggaran pemerintah. Kementerian Kehutanan akan melibatkan berbagai pihak.
Termasuk sektor swasta dan kerja sama luar negeri. Hal ini guna mempercepat pemulihan kawasan terdampak di Sumatra.
Meski rehabilitasi akan dilakukan sesegera mungkin, Dyah menekankan bahwa hasil ekologisnya memerlukan waktu lama.
Tanaman membutuhkan waktu bertahun-tahun hingga mampu berfungsi optimal dalam menjaga kestabilan tanah dan penyerapan air.
"Ya butuh waktu agar tanaman itu bisa tumbuh besar. Tentu saja di atas lima tahun tetapi untuk rehabilitasinya kita usahakan untuk dilakukan cepat," tandasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Warga Kayumanis Bogor Tolak PSEL
- 5 Sepatu Adidas Tanpa Tali yang Serbaguna, Anti Pegal Dipakai Jalan Seharian
- 5 HP Baru 2026 Memori Besar dan Baterai Badak untuk Multitasking, Harga Rp2 Jutaan
- 5 Moisturizer Mengandung SPF untuk Pagi Hari, Melembapkan dan Mencerahkan Kulit
Pilihan
-
Kesehatan Donald Trump Bermasalah? Gedung Putih Dituding Tutupi Hasil Medical Check-up
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
Terkini
-
Bumi Sudah Melewati Batas Perjanjian Paris, Ancaman Krisis Iklim Tak Lagi Sekadar Ramalan
-
Belajar dari Gempa 2006, Jogja Memang Istimewa dalam Menangani Bencana
-
20 Tahun Gempa Jogja Mulai Terlupakan, Ancaman Megathrust Masih di Depan Mata
-
Berkas Kasus Daycare Little Aresha Rampung Pekan Depan, Rekonstruksi Tertutup Menyusul
-
Efisiensi Anggaran Paksa Seniman Bertahan Mandiri, Pemda DIY Prioritaskan Agenda Pusat