- Pedagang kuliner Pasar Sentul Yogyakarta mengeluhkan omzet turun drastis pasca-revitalisasi dua tahun lalu di rooftop.
- Konsep pujasera di lantai tiga tertutup membuat pengunjung tidak mengetahui lokasi tersebut, menyebabkan sepinya pembeli.
- Akses sulit, parkir terbatas, serta kenaikan tarif sewa menjadi faktor pendukung pedagang kuliner memilih tutup atau pindah.
SuaraJogja.id - Keluhan revitalisasi pasar di Kota Yogyakarta kembali disampaikan pedagang, khususnya di sektor kuliner. Setelah pedagang Pasar Terban, keluhan serupa juga dialami pedagang makanan dan minuman di Pasar Sentul yang mengeluhkan sepinya pengunjung di pusat jajanan serba ada (pujasera) yang berada di lantai 3 atau rooftop.
Sejak menempati pasar yang direvitalisasi dua tahun silam, omzet mereka berkurang lebih dari 90 persen. Padahal sebelum dipindahkan dari alun-alun Sewadanan Pura Pakualaman, mereka laris manis diserbu pengunjung dan wisatawan.
"Dulu waktu di sewadanan kami bisa jual 100 mangkok mie ayam per hari, sekarang ini laku 10 saja sudah syukur. Ada kalanya sehari tidak ada yang beli," papar pedagang mie ayam, Murtijo di Yogyakarta, Senin (19/1/2026).
Bukan tanpa sebab, konsep bangunan rooftop di Pasar Sentul tertutup dari luar. Sehingga pengunjung tidak tahu ada pujasera yang buka hingga malam hari di pasar tersebut.
Padahal awalnya ada 40-an pedagang kuliner yang menempati pujasera. Namun seiring sepinya pengunjung, yang tersisa kini hanya segelintir. Lapak-lapak kuliner di pasar tersebut pun tutup.
"Dari sekitar 40 pedagang kuliner yang ikut pindah, kini yang aktif pada siang hari tinggal lima lapak. Kalau sore, hanya dua atau tiga yang jualan hingga malam, lainnya pilih tutup lebih cepat, atau pergi sama sekali tidak jualan," ungkapnya.
Laki-laki 50 tahun ini mengaku, sejak direlokasi, pedagang memang sempat mendapat keringanan. Hampir satu setengah tahun pertama, mereka tidak dikenai biaya sewa.
Namun setelah itu, tarif diberlakukan secara bertahap dengan diskon hingga 75 persen. Selama delapan bulan terakhir, pedagang hanya membayar sekitar Rp700 ribu. Namun sejak Januari 2026 ini, tarif naik menjadi Rp1.031.000 untuk enam bulan yang harus dibayar sekaligus tanpa cicilan.
Padahal omzet pedagang turun drastis. Banyak diantara mereka yang mengaku pengunjung tidak tahu masih ada aktivitas kuliner di lantai atas.
Baca Juga: 5 Pantai di Bantul Yogyakarta yang Bisa Dikunjungi Sekaligus dalam Satu Hari
"Ini yang berat. Bayarnya harus langsung. Nggak bisa nyicil. Orang tidak mau kesini karena masuk pasar kok kesannya sudah tutup," ungkapnya.
Menurut mereka, konsep rooftop tertutup membuat pasar kehilangan daya tarik. Kuliner ditempatkan di atas, sementara aktivitas di bawah hanya ramai hingga sekitar pukul 17.00. Setelah itu, kawasan sepi dan pengunjung mengira pasar sudah tutup.
"Rooftop tapi nggak ada view. Salah konsep karena yang makan kan biasanya ingin lihat pemandangan, apalagi ada di lantai 3," jelasnya.
Masalah tidak berhenti di sepinya pengunjung. Akses ke pasar juga menjadi keluhan utama.
Parkir mobil terbatas dan tidak ada basement. Pengunjung pun harus berjalan serta naik ke atas. Saat hujan, kondisi makin menyulitkan karena jas hujan tidak diperbolehkan dibawa masuk.
"Orang males parkir, males naik," tandasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kenapa Maudy Ayunda Disebut Tak Napak Tanah? Ini Kronologinya
- Menteri Keuangan Purbaya Diganti Hari Ini? Wakilnya Sudah ke Istana Pakai Jas
- 3 Rekomendasi Helm Half Face Rp200 Ribuan yang Paling Dicari Bikers, Nyaman Buat Harian
- Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
- Defisit APBN 'Cuma' 0,91 Persen, Purbaya Khawatir Kementerian-Lembaga Minta Anggaran Tambahan
Pilihan
-
Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor
-
Dilantik Jadi Menkeu, Suahasil Akui Tak Berkomunikasi Dengan Purbaya
-
Purbaya Diganti, Nilai Tukar Rupiah Langsung Loyo ke Level Rp17.699
-
Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
-
Ada Pelantikan di Istana Sore Ini, Pratikno Ngaku Dapat Undangan Mendadak
Terkini
-
Kasus Asusila di Ponpes Sleman: Eks Pengurus Ditetapkan Tersangka, Keberadaannya Masih Misterius
-
Dari Pintu ke Pintu, Mantri BRI Dewi Natalia Bantu Pedagang Lampung Akses Pembiayaan
-
Anggaran Minim, BPBD DIY Geser Alokasi Atasi Bencana di Jogja
-
Indonesia Dikepung Lima Bencana, Jusuf Kalla Sebut Lingkungan Rusak oleh Kita Sendiri
-
5 Tahun Holding UMi, Sinergi BRI, Pegadaian, dan PNM Dorong UMKM Bertumbuh