Budi Arista Romadhoni
Rabu, 21 Januari 2026 | 14:02 WIB
Objek wisata pantai selatan Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, dipadati wisatawan. [ANTARA/Hery Sidik]
Baca 10 detik
  • Dispar Bantul menargetkan Pendapatan Asli Daerah pariwisata sebesar Rp29 miliar pada tahun 2026, lebih rendah dari target sebelumnya.
  • Kepala Dispar Bantul menyatakan target tersebut realistis karena realisasi 2025 hanya Rp26 miliar akibat persaingan Gunungkidul.
  • Bantul akan mempertahankan tarif retribusi masuk wisata tetap Rp15 ribu untuk menjaga daya saing wisatawan.

"Sebenarnya itu tidak naik kebijakannya, karena dulu kan tiket Rp10 ribu per objek, sekarang Rp15 ribu bisa masuk seluruh objek, kalau dibagi seluruh objek kan jatuhnya tidak sampai Rp2.000, karena di pantai selatan banyak titik pantai yang bisa dikunjungi," jelasnya.

Argumentasi ini mencoba menjelaskan bahwa dengan satu tiket, wisatawan dapat menikmati lebih banyak destinasi, sehingga secara efektif biaya per objek menjadi lebih murah.

Keputusan untuk tidak menaikkan retribusi menunjukkan kehati-hatian pemerintah dalam menjaga daya saing dan tidak membebani wisatawan.

Namun, tantangan tetap ada. Bagaimana Bantul akan mengoptimalkan potensi wisatanya dengan tarif yang tetap, di tengah gempuran destinasi baru dan protes retribusi yang terus bergulir? Inilah pekerjaan rumah besar bagi Dispar Bantul untuk mencapai target PAD yang realistis namun tetap ambisius.

Load More