- Pada Selasa malam (27/1/2026), Satpol PP Yogyakarta menertibkan 13 PKL di Malioboro dan Pasar Kembang, menyita barang dagangan mereka.
- Penertiban rutin ini dilakukan karena PKL melanggar zona larangan serta menimbulkan keluhan soal asap dan sampah.
- Operasi tersebut mencerminkan dilema antara penegakan aturan kota demi kenyamanan dan perjuangan hidup para pedagang kecil.
SuaraJogja.id - Malioboro, sebuah nama yang tak hanya identik dengan denyut nadi pariwisata Yogyakarta, tetapi juga menjadi saksi bisu ribuan kisah perjuangan hidup.
Di balik riuhnya tawa wisatawan dan gemerlap toko-toko, tersimpan drama pilu para Pedagang Kaki Lima (PKL) yang setiap hari harus kucing-kucingan dengan petugas, demi sesuap nasi.
Sebuah video yang viral baru-baru ini, memperlihatkan seorang pedagang sate yang berguling-guling di trotoar saat menghindari penertiban, bukan sekadar tontonan, melainkan cerminan getirnya dilema antara tuntutan perut dan ketatnya aturan.
Selasa (27/1/2026) malam, Jalan Suryatmajan dan Pasar Kembang kembali menjadi arena penertiban. Sebanyak 13 PKL, delapan di Malioboro dan lima di Pasar Kembang, harus menghadapi kenyataan pahit: barang dagangan mereka diamankan oleh Satpol PP Kota Yogyakarta.
Kepala Bidang Penegakan Peraturan Perundang-undangan Satpol PP Kota Yogyakarta, Dodi Kurnianto, menjelaskan bahwa ini adalah operasi rutin di kawasan yang memang telah ditetapkan sebagai zona larangan PKL.
"Kami sudah berulang kali melakukan penindakan," ujarnya, menegaskan konsistensi pemerintah.
Namun, di balik angka-angka penertiban itu, ada wajah-wajah lelah, tangan-tangan yang cekatan menyiapkan dagangan, dan harapan yang digantungkan pada setiap rupiah yang didapat.
Mereka adalah para ibu dan bapak yang mungkin memiliki anak-anak di rumah menanti makanan, atau cicilan yang harus dibayar. Saat petugas datang, mereka berlarian, bukan karena ingin melawan, melainkan karena takut kehilangan satu-satunya sumber penghidupan.
Video pedagang sate yang terjatuh dan berguling itu, menurut Dodi, "terjatuh sendiri. Tidak ada unsur kesengajaan atau kekerasan." Namun, bagi mata yang melihat, itu adalah gambaran keputusasaan yang menyayat hati.
Baca Juga: Hadirkan Perumahan Mewah di Tengah Kota Yogyakarta, Nirwana Villas Malioboro Pastikan Legalitas Aman
Dilema di Dua Sisi: Perut Lapar vs. Kenyamanan Kota
Dodi Kurnianto menegaskan bahwa penertiban ini bukan tanpa alasan. Selain karena melanggar aturan, keberadaan PKL ilegal ini juga banyak dikeluhkan.
"Banyak keluhan dari pemilik usaha di sekitar Malioboro dan juga dari wisatawan," ungkapnya.
Asap sate yang mengepul, misalnya, tak hanya mengganggu pernapasan karyawan toko batik seperti Stefi, tetapi juga membuat dagangan bau asap.
"Baju-baju batik yang dipajang juga akhirnya bau asap, ini hampir setiap hari," keluh Stefi.
Persoalan sampah yang ditinggalkan PKL juga menjadi momok, mencoreng citra Malioboro sebagai destinasi wisata unggulan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- Djarum Digeledah KPK, Publik Ramai Kaitkan dengan Isu Haji Isam dan DBS
- 5 Sunscreen untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 Shio Paling Beruntung 29 Oktober 2026: Bisnis Lancar dan Finansial Aman
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Coach Justin Nilai AXIS Nation Cup Buka Jalan Talenta Muda ke Level Profesional
-
Gratis! Grand Final AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan 16 Tim dan Deretan Artis
-
Pasca Ramai Seruan Boikot, RANS Carnival di Maguwoharjo Ditinggal Musisi dan UMKM
-
Polresta Sleman Sita 561 Botol Miras Ilegal Selama Oktober 2026
-
Tak Ingin Sakiti Hati Warga Jogja, OM Wawes Pilih Batal Manggung di RANS Carnival