- NTP DIY Januari 2026 turun 1,36% karena pendapatan petani melemah meskipun harga pangan konsumen meningkat.
- Warga Yogyakarta mengalami penurunan daya beli signifikan, terpaksa mengurangi jenis dan kuantitas belanja bahan pangan.
- Fluktuasi harga pangan DIY dianggap struktural, disebabkan distribusi dan tata kelola produksi yang tidak efisien.
Tari juga harus merelakan bila ada tetangga atau pembeli yang berhutang dulu. Kondisi ini yang membuatnya semakin khawatir akan masa depannya yang harus jadi kepala keluarga setelah suaminya meninggal dunia beberapa tahun silam.
"Belanja harian rumah yang akhirnya saya kurangi, apa yang saya masak untuk angkringan ya dimakan sehari-hari," jelasnya.
Secara terpisah Sekda DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti menyebut fluktuasi harga pangan sebagai persoalan struktural yang berulang setiap tahun di DIY.
"Ketika harga naik, sering kali petani tidak menikmati. Tapi ketika panen melimpah, harga justru bisa anjlok sampai Rp10.000. Ini problem klasik," ujarnya.
Operasi pasar yang dilakukan Pemda DIY maupun pemkab/pemkot diakui belum efektif sepenuhnya dalam rangka meredam kenaikan harga bahan pokok. Pengendalian harga pun selama ini masih bersifat reaktif.
"Kita tidak bisa terus jadi pemadam kebakaran. Dropping hanya menahan sementara," tandasnya.
Menurutnya, persoalan utama terletak pada distribusi dan tata kelola produksi. Panen yang serempak, pola tanam yang kaku, serta distribusi yang tidak efisien membuat harga mudah bergejolak.
Padahal Pemda sudah mencoba masuk lewat kerja sama Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) sebagai off-taker dan subsidi logistik untuk menyeimbangkan harga. Namun upaya tersebut belum sepenuhnya menjawab persoalan di tingkat akar rumput, terutama ketika daya beli masyarakat terus melemah.
Kenaikan upah minimum yang relatif kecil menjadi dilema tersendiri. Di satu sisi, pekerja menuntut kenaikan untuk mengejar biaya hidup. Di sisi lain, pengusaha mengklaim keterbatasan kemampuan.
Baca Juga: PSIM Yogyakarta Lepas Kasim Botan, Manajer Tim Spill Pemain Asing Baru
"Ini dilematis. Kalau pengusaha menyerah, lapangan kerja terancam," imbuhnya.
Kontributor : Putu Ayu Palupi
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- Work to Run: 5 Sepatu Lari Hitam Polos yang Tetap Rapi di Kantor dan Nyaman Dipakai Lari
- 5 HP Redmi RAM 8 GB Memori 256 GB Termurah di Bawah Rp1,5 Juta, Spek Juara
Pilihan
-
Serangan Mematikan Rusia Jelang Gencatan Senjata, 26 Warga Ukraina Tewas
-
Bejatnya Kiai Cabul Ashari di Pati: Ngaku Keturunan Nabi hingga Istri Orang Bebas Dicium
-
Mengungkap Jejak Pelarian Kiai Cabul Pati: Terendus Ritual di Kudus, Kini Raib Bak Ditelan Bumi
-
Diterpa Kontroversi dan Dilaporkan ke Bareskrim Terkait Ceramah JK, Ade Armando Mundur dari PSI
-
Lolos Blokade AS! Kapal Tanker Iran Rp 3,8 T Menuju Riau, Kemlu RI: Tak Langgar Hukum
Terkini
-
Penjualan Hewan Kurban di Sleman Lesu, Pedagang Keluhkan Penurunan Omzet
-
Petani Jogja Makin Terjepit! Biaya Angkut dan Karung Mahal Gegara BBM Naik, Kesejahteraan Merosot
-
Diduga Keracunan Makanan Pamitan Haji, 43 Warga Sleman Alami Diare dan Demam
-
Menyambut Derby DIY di Super League Musim Depan, Bupati Sleman: Hilangkan Rivalitas Tidak Sehat
-
Viral Pelari di Jogja Dipukul OTK Saat Ambil Minum, Begini Kronologinya