- Tren kasus DBD di Yogyakarta menurun menjadi 270 kasus pada 2025 dari 301 kasus tahun sebelumnya, tetap jadi prioritas.
- Pengendalian DBD fokus pada penyebaran nyamuk Wolbachia dan PSN 3M Plus, didukung Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik.
- Yogyakarta bukan daerah endemis rabies dan malaria, namun menangani kasus impor rabies serta menyediakan layanan gigitan hewan penular.
SuaraJogja.id - Tren kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Yogyakarta tercatat menurun. Kendati demikian penurunan itu belum signifikan dan masih tetap menjadi prioritas pengendalian.
Epidemiolog Kesehatan Ahli Muda Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Anandi Iedha Retnani, menyampaikan tren DBD secara umum cenderung stabil.
Kasus DBD pada 2024 tercatat 301 kasus, sedangkan pada 2025 sebanyak 270 kasus.
"Jadi ada penurunan, meski angkanya masih mendekati tahun sebelumnya," kata Anandi, Selasa (3/2/2026).
Disampaikan Anandi, fokus pengendalian DBD ini tidak lepas dari kemampuan nyamuk Aedes Aegypti yang adaptif di lingkungan perkotaan.
Salah satu upaya inovatif pengendalian adalah penyebaran nyamuk ber-Wolbachia yang terbukti membantu menurunkan kemampuan nyamuk menularkan virus dengue.
"Monitoring tahun 2024 menunjukkan sekitar 87,2 persen populasi nyamuk di Kota Yogyakarta sudah mengandung Wolbachia," ujarnya.
Namun, intervensi biologis tersebut tidak menggantikan peran masyarakat. Pengendalian utama tetap melalui Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus yang dilakukan rutin minimal seminggu sekali.
3M Plus itu yakni Menguras tempat penampungan air, Menutup rapat wadah penampungan air, Mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air, Plus upaya mencegah gigitan nyamuk dan menjaga kebersihan lingkungan.
Baca Juga: UU Keistimewaan DIY Tinggal Cerita Sejarah, GKR Hemas Desak Masuk Pembelajaran Sekolah
Pendekatan di masyarakat kini berbasis Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik. Nantinya setiap keluarga bertanggung jawab memantau jentik nyamuk di rumahnya sendiri.
Fogging hanya dilakukan sebagai langkah terakhir apabila ditemukan kasus dan Angka Bebas Jentik (ABJ) di bawah 95 persen. Sebab fogging hanya membunuh nyamuk dewasa dan tidak menyasar jentik.
Terkait zoonosis lainnya, lanjut Anandi, Kota Yogyakarta bukan wilayah endemis rabies dan tidak ditemukan kasus rabies pada manusia. Namun, kunjungan pasien akibat gigitan hewan penular rabies (GHPR) tetap tinggi karena kota ini menjadi rujukan pelayanan.
Dua fasilitas layanan rabies center berada di RS Pratama dan Puskesmas Jetis. Pasien yang datang tidak hanya warga Kota Yogyakarta, tetapi juga dari luar daerah.
"Tidak semua gigitan perlu vaksin. Pertolongan pertama paling penting adalah mencuci luka dengan sabun dan air mengalir selama 10–15 menit. Namun, layanan tetap kami berikan sesuai indikasi medis," tegasnya.
Sementara itu, kasus malaria yang tercatat di Kota Yogyakarta mayoritas merupakan kasus impor dari wilayah endemis di Indonesia Timur, seperti Papua. Penularan tidak terjadi di dalam kota karena vektor Anopheles dan parasit malaria tidak berkembang di wilayah ini.
Berita Terkait
Terpopuler
- Sejumlah Jenderal Polri Dikabarkan Diamankan, Satu 'Bintang Empat' Sudah Dilepas
- Panitia Batalkan Undang Raffi Ahmad di GSI Youth Fest Hero Summit
- Sejumlah Jenderal Diperiksa Propam, Ini Respons Mabes
- Jenderal Listyo Sigit Prabowo Ditetapkan Tersangka Penyadapan Presiden Prabowo
- Margarito Kamis Jelaskan Isi Putusan MA, RI Tak Lagi Punya Wakil Presiden yang Sah?
Pilihan
-
Helikopter Penerbad Mi-17 Jatuh Saat Padamkan Karhutla di Pematang Limau, Dua Personel Hilang
-
Hanya Sebulan di Istana, Presiden Prabowo Pecat Listyo Sigit Prabowo
-
Tersandung Skandal Penyadapan, Prabowo Pecat Listyo Sigit dari KSP dan Tunjuk Letjen Ariyo Jadi Plt
-
Nusron Wahid Diperiksa KPK Terkait Suap HGB
-
Konser Andrea Bocelli di JIExpo Ricuh: Massa Bakar Pembatas Jalan, Wartawan Terhantam Batu
Terkini
-
Ponpes HQ Sukoharjo Digeledah Polisi, Menag Tegaskan Hukum Berbicara
-
Tukang Cukur hingga Warteg Kena Pajak, Sultan Sebut Seperti Zaman VOC
-
69 Kampus Eropa Hadir di Yogyakarta, Buka Informasi Studi dan Beasiswa
-
Skandal Penyadapan Presiden Prabowo, JPW Ingatkan Masyarakat Sipil Tak Terdistraksi Isu Elit
-
Sri Sultan Sebut Penurunan Foto Wapres Gibran Tidak Pantas, DPRD DIY Ungkap Fakta Sebenarnya