- Polresta Sleman menaikkan kasus kekerasan seksual balita ke tahap penyidikan pada 16 September 2026.
- Penyidik memeriksa tiga saksi dan aktif mengumpulkan alat bukti tanpa menemui kendala berarti.
- Polisi memastikan proses hukum tetap berjalan dan berkoordinasi dengan UPTD Sleman untuk pendampingan anak.
SuaraJogja.id - Polresta Sleman telah menaikkan kasus dugaan kekerasan seksual terhadap bayi di bawah usia 4 tahun ke tahap penyidikan. Sejauh ini, polisi telah memeriksa tiga saksi dan masih mencari alat bukti untuk mengungkap perkara tersebut.
Kanit PPA Satreskrim Polresta Sleman Iptu Cahya Fitria mengatakan penyidikan dimulai pada 16 September 2026. Tiga saksi yang diperiksa berasal dari pihak ibu korban selaku pelapor, pihak terlapor, serta keluarga terlapor.
Kendati demikian kepolisian tak menyebut secara detail status pihak terlapor yang telah diperiksa dalam kasus ini.
"Sampai dengan saat ini ada tiga saksi. Tersangkanya belum ada, masih dalam penyidikan," kata Cahya kepada wartawan di Mapolresta Sleman, Jumat (18/9/2026)
Cahya mengatakan penyidik kini fokus mengumpulkan alat bukti untuk memperjelas konstruksi perkara. Ia memastikan tidak ada kendala dalam proses penanganan kasus tersebut.
"Tentunya tidak ada kendala untuk kami. Kami sudah menaikkan ke tingkat penyidikan, kami mencari alat bukti," tegasnya.
Di sisi lain, polisi turut berkoordinasi dengan UPTD Kabupaten Sleman untuk memberikan pendampingan terhadap anak.
"Nah itu kami juga koordinasi dengan UPTD Kabupaten Sleman untuk melakukan pendampingan. Mungkin nanti ada pendampingan psikologisnya," imbuhnya.
Terkait informasi adanya intimidasi terhadap ibu korban, polisi belum menemukan indikasi tersebut. Cahya mengatakan dugaan itu masih dalam proses penyelidikan.
Baca Juga: Ponpes Ash-Sholihah Buka Suara Terkait Kasus Dugaan Kekerasan Seksual Pengurusnya
"Kalau itu masih dalam penyelidikan, kami belum mendapati," ucapnya
Sementara soal mediasi yang disebut telah dilakukan hingga tiga kali antara pihak keluarga, kata Cahya, perkara kekerasan seksual tidak diselesaikan melalui restorative justice (RJ) di tingkat penyidikan.
Polisi menyatakan proses hukum tetap berjalan meski sebelumnya terdapat upaya mediasi.
"Tentunya untuk KS (kekerasan seksual) kami sampaikan untuk tindak pidana kekerasan seksual tidak ada RJ atau mediasi," ujarnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Panitia Batalkan Undang Raffi Ahmad di GSI Youth Fest Hero Summit
- Sejumlah Jenderal Polri Dikabarkan Diamankan, Satu 'Bintang Empat' Sudah Dilepas
- Prestasi Kinclong Netty Rosdiana Siagian: Mundur dari Polri, Tak Sejalan dengan Hati Nurani
- Kenapa Raffi Ahmad Diboikot? Ini Kronologi Acara Sumpah Pemuda sampai Rans Carnival Sepi
- Margarito Kamis Jelaskan Isi Putusan MA, RI Tak Lagi Punya Wakil Presiden yang Sah?
Pilihan
-
Tak Perlu Bongkar Kitab, Muhammadiyah Bikin AI Khusus ChatHPT untuk Jawab Persoalan Agama
-
Sejumlah Jenderal Polri Dikabarkan Diamankan, Satu 'Bintang Empat' Sudah Dilepas
-
Gempa M 5,5 Guncang Laut Barat Laut Tanimbar, Getaran Terasa hingga Saumlaki
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
Terkini
-
Viral Titik Nol Km Jogja Dipasang Kawat Duri, Pemda DIY Merasa Tak Dikabari Polisi
-
IAGI Soroti Tantangan Eksploitasi Kekayaan Geologi: Jangan Korbankan Lingkungan!
-
Tak Perlu Bongkar Kitab, Muhammadiyah Bikin AI Khusus ChatHPT untuk Jawab Persoalan Agama
-
Copot Kapolres Sukoharjo Tak Cukup, Penggeledahan Ponpes Disebut JPW Efek Mutasi Awur-awuran
-
Generasi Muda Mulai Apatis terhadap Tuhan, Muhammadiyah Jawab Fenomena Agnostisisme dengan ChatHPT