Budi Arista Romadhoni
Rabu, 04 Februari 2026 | 16:07 WIB
Pedagang Pasar Beringharjo mengeluhkan kenaikan harga, Rabu (4/2/2026). (Suara.com/Putu]
Baca 10 detik
  • Menjelang Ramadan 1447 H, harga sayuran dan cabai rawit naik signifikan di pasar tradisional DIY akibat curah hujan dan permintaan program MBG.
  • Pedagang merespons kenaikan harga dengan mengurangi stok barang dan mengecilkan porsi jual demi menjaga minat serta stabilitas harga jual.
  • Disperindag DIY menyatakan komoditas strategis lain stabil, namun melakukan operasi pasar dan pasar murah antisipatif untuk menekan gejolak harga.

SuaraJogja.id - Menjelang Ramadan 1447 Hijriah, harga sejumlah bahan pangan, terutama sayuran dan cabai rawit, merangkak naik di pasar tradisional di DIY. Kegelisahan pun mulai dirasakan para pedagang makanan dan sayuran.

Di Pasar Beringharjo, Ida, pedagang sayur mengaku kenaikan harga sudah terasa dalam dua pekan terakhir. Hampir seluruh jenis sayuran mengalami kenaikan, meskipun tidak semuanya melonjak tajam.

"Ada kenaikan, alau sayuran itu hampir semua naik, sekitar 80 persen. Kalau cabai-cabaian, yang naik itu cabai rawit," ujar Ida di Pasar Beringharjo, Rabu (4/2/2026).

Harga cabai rawit menjadi komoditas yang paling mencolok. Saat ini, harga cabai rawit telah menyentuh Rp75 ribu per kilogram. Padahal dua minggu sebelumnya masih berada di kisaran Rp35 ribu per kilogram.

"Dalam seminggu bisa empat kali naik," katanya.

Meski harga naik, Ida memastikan stok sayuran sejauh ini masih aman. Pasokan sayur-mayur yang dijualnya sebagian besar berasal dari wilayah Magelang. Namun beberapa jenis sayuran mulai sulit diperoleh di pasaran seperti brokologi dan kembang kol.

Sayuran yang sebelumnya tergolong murah kini ikut terkerek naik. Buncis, labu siam hingga pokcoy tidak lagi dijual dengan harga lama.

Curah hujan tinggi disebut menjadi faktor utama yang memengaruhi harga. Selain itu, meningkatnya permintaan juga ikut mendorong kenaikan, terutama sejak adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Sayuran yang tadinya murah sekarang ikut naik. Itu pengaruh dari MBG, ditambah cuaca juga," jelasnya.

Baca Juga: Jatah Makan Bergizi Gratis Jadi Menu Buka Bersama, Inovasi Ramadan di Sekolah Gunungkidul

Fluktuasi harga ini justru tidak membuat pedagang merasa diuntungkan. Ida mengaku lebih senang jika harga stabil dibandingkan naik turun tajam.

"Kita lebih senang kalau harga stabil. Jangan terlalu berani spekulasi," tandasnya.

Untuk meminimalkan risiko kerugian, pedagang memilih mengurangi pasokan dan stok barang. Apalagi meski jumlah kunjungan relatif masih normal, namun volume belanja menurun.

"Pembelinya nggak berkurang, biasa saja. Cuma jumlah belinya dikurangi. Yang tadinya beli cabai rawit lima kilogram, sekarang cuma dua setengah kilogram," katanya.

Hal senada juga dirasakan Yanti, pedagang snack dan makanan siap saji yang memilih tidak menaikkan harga jual meski keuntungan semakin menipis. Di tingkat bawah, strategi bertahan dilakukan dengan cara mengurangi stok, mengecilkan porsi, hingga menyesuaikan belanja harian.

Menjelang Ramadan, ia memilih tidak menaikkan harga jual meski biaya bahan baku terus naik. Sebab menaikkan harga justru berisiko kehilangan pembeli.

"Kalau saya naikkan lagi harganya, pembeli pasti bilang, lho kok naik.  Kalau pun naik, tidak banyak, paling cuma sedikit," ujarnya.

Sebagai gantinya, Yanti menerapkan strategi pengurangan porsi. Harga tetap namun isi disesuaikan secara perlahan.

"Biasanya sambal dua sendok jadi satu setengah. Buah dan yang lain juga naik, ya tetap dirata-ratakan, dikurangi porsinya. Kayak nyicil begitu,. Tapi tetap harus jalan, tetap harus muter makanan," katanya.

Keuntungan dari jajan pasar, menurut Yanti, memang sangat tipis. Per item, keuntungan bersih hanya berkisar Rp500 hingga Rp1.000. Dalam sehari, penghasilan bersihnya kadang hanya sekitar Rp100 ribu, bahkan bisa kurang.

"Daripada mahal tapi enggak laku, lebih baik sedikit untungnya tapi tetap jalan. Misalnya dulu orang beli 30, sekarang jadi 20, ya disesuaikan," ujarnya.

Kenaikan harga bahan pokok juga memaksa Yanti mengurangi belanja ke pasar. Bahkan hingga menekan pengeluaran rumah tangga.

"Iya, dari keluarga juga. Takutnya pembeli keberatan. Apalagi pembeli kan macam-macam," ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY, Yuna Pancawati, menyatakan secara umum kondisi harga bahan pokok di DIY masih dalam kategori terkendali sejak minggu pertama 2026.

Kenaikan harga terutama terjadi pada komoditas cabai yang bersifat fluktuatif dan dipengaruhi faktor cuaca serta pasokan. Komoditas strategis seperti beras, telur, dan bawang relatif stabil," ungkapnya.

Berdasarkan pengamatan perkembangan harga dari minggu pertama Januari hingga minggu keenam Februari 2026, harga beras medium berada di kisaran Rp13.163–Rp13.288 per kilogram dengan rata-rata Rp13.186 per kilogram. Beras premium bahkan cenderung sangat stabil di angka Rp14.825 per kilogram.

Harga telur ayam ras justru menunjukkan tren penurunan bertahap, dari Rp29.750 per kilogram pada awal Januari menjadi Rp27.313 per kilogram pada minggu keenam Februari dengan rata-rata Rp28.329 per kilogram.

Namun harga cabai menunjukkan fluktuasi tajam. Cabai merah keriting sempat turun hingga minggu ketiga sebelum kembali naik, dengan rata-rata Rp32.733 per kilogram. Cabai merah besar juga mengalami penurunan tajam sebelum kembali naik, dengan rata-rata Rp39.058 per kilogram.

Cabai rawit merah mencatat kenaikan signifikan pada minggu keenam hingga Rp63.125 per kilogram, dengan rata-rata Rp47.329 per kilogram. Cabai rawit hijau berada di level tinggi meski cenderung menurun, dengan rata-rata Rp57.261 per kilogram.

Untuk komoditas bawang, harga bawang merah relatif menurun dan stabil di kisaran Rp35.250–Rp39.000 per kilogram, sedangkan bawang putih honan stabil di kisaran Rp31.750–Rp32.750 per kilogram.

Dalam rangka menjaga stabilitas harga dan ketersediaan bahan pokok menjelang Idulfitri, Disperindag DIY telah menyiapkan sejumlah langkah antisipatif. Salah satunya melalui pemantauan intensif harga dan pasokan di pasar tradisional dan pasar rakyat.

"Kami juga melaksanakan operasi pasar sebanyak 12 kali pada komoditas strategis serta pasar murah di enam lokasi untuk menekan gejolak harga dan menjaga daya beli masyarakat," imbuhnya

Kontributor : Putu Ayu Palupi

Load More