- Indonesia menghabiskan Rp160 triliun tiap tahun untuk kesehatan di luar negeri, padahal memiliki banyak fakultas kedokteran.
- Mendiktisaintek Brian Yuliarto menekankan peningkatan layanan dan fasilitas rumah sakit agar mampu bersaing global.
- Strategi fokus membangun "pusat unggulan" di beberapa rumah sakit pendidikan menjadi kunci menarik pasien internasional.
SuaraJogja.id - Sebuah ironi tajam terungkap di tengah gemuruh perkembangan pendidikan kedokteran di Indonesia.
Meski memiliki "ratusan fakultas kedokteran yang tersebar di berbagai perguruan tinggi," Indonesia justru menghadapi fakta pahit: belanja kesehatan masyarakatnya ke luar negeri masih sangat tinggi, mencapai angka fantastis 10 miliar dolar AS atau setara Rp160 triliun setiap tahun.
Angka ini bukan hanya sekadar statistik, melainkan tamparan keras bagi sistem layanan kesehatan nasional yang seharusnya mampu menampung kebutuhan warganya.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto tidak menyembunyikan kekecewaannya.
"Bayangkan kalau 10 persen saja bisa kita kelola di dalam negeri, itu sudah sekitar Rp16 triliun,” ujar Brian usai membuka Program Pendidikan Dokter Spesialis di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Jumat (1/3/2/2026).
Pernyataan ini bukan hanya kritik, melainkan seruan mendesak agar Indonesia segera berbenah dan mengoptimalkan potensi besar yang sebenarnya sudah dimiliki.
Fenomena masyarakat Indonesia yang berbondong-bondong mencari pengobatan ke luar negeri, seperti ke Penang, Malaysia, menjadi bukti nyata adanya pekerjaan rumah besar. Brian menegaskan bahwa persoalan utama bukan pada kualitas sumber daya manusia (SDM) dokter Indonesia.
"Dokternya sama, kualitas ilmunya tidak kalah. Tapi layanannya yang harus kita tingkatkan," tandasnya.
Ini mengindikasikan bahwa masalahnya terletak pada penguatan sistem, fasilitas, dan standar kualitas layanan yang belum mampu bersaing di kancah global.
Baca Juga: Banyak iPhone hingga Mac Berserakan di Gedung FK, Warganet: Fix Sultan
Mendiktisaintek Brian mendorong agar rumah sakit pendidikan dan rumah sakit di bawah perguruan tinggi, termasuk jaringan Rumah Sakit Muhammadiyah dan Aisyiyah (RSMA), mulai difokuskan untuk membangun "pusat unggulan (center of excellence)."
Strategi ini krusial: tidak semua rumah sakit harus maju serentak di semua lini, melainkan memilih satu atau dua rumah sakit yang difokuskan menjadi rujukan internasional di bidang tertentu.
"Kalau semuanya mau dimajukan bersamaan, akhirnya tidak ada yang benar-benar maju. Kita perlu pilih satu yang benar-benar unggul, nanti yang sudah maju bisa menarik yang lain," jelasnya.
Brian mencontohkan keberhasilan rumah sakit di luar negeri yang mampu membangun reputasi global karena fokus pada layanan spesifik dan konsisten menjaga kualitas.
Dengan pendekatan serupa, ia optimis rumah sakit di Indonesia, khususnya RSMA, bisa menjadi tujuan pasien mancanegara.
"Jangan kita yang pergi ke Penang. Harusnya orang Malaysia yang datang ke rumah sakit Muhammadiyah," ujarnya, menantang visi baru bagi layanan kesehatan nasional.
Berita Terkait
Terpopuler
- Demi Ketenangan Almarhum, Orang Tua Affan Kurniawan Mohon Tak Ada Peringatan Setahun Kematian
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- 12 Ikan Hias Pembawa Keberuntungan Menurut Feng Shui, Cocok untuk Akuarium di Rumah
- Jelang FIFA ASEAN Cup 2026, Kevin Diks Tegas Sistem Empat Bek Lebih Cocok
- Mau Terlihat Lebih Muda? Ini 5 Pilihan Warna Lipstik yang Bisa Dicoba
Pilihan
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
-
Info Terbaru Gempa NTT: 15 Warga Manggarai Tewas, 280 Bangunan Jadi Puing
-
5 Bandara Rusak Diguncang Gempa NTT, Landasan Pacu Sampai Retak
-
Pesona Masjid Pancasila Kediri: Sederhana di Luar, Bikin Pangling di Dalam
Terkini
-
Wujudkan Mobil Impian, BRI KKB Expo 2026 Tebar Promo Suku Bunga Mulai 1,81 Persen
-
Rayakan HUT Ke-81 RI Lebih Hemat dengan Ragam Promo Spesial dari BRI
-
Bukan Sekadar Horor Biasa, 'Munafik: Melawan Iblis' Hadir dengan Unsur Religi Serta Budaya Jawa
-
ROG AI Masterclass 2026: ASUS ROG Buka Edukasi AI di Yogyakarta, Kota Pertama Rangkaian Nasional
-
Yuk Nikmati Liburan Seru ke Pantai Selatan Yogyakarta Bareng PORTA