- Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, menerima teror sejak Februari 2026 pasca surat kritik kepada Presiden terkait hak pendidikan.
- Tiyo mengalami teror digital meliputi ancaman penculikan, pembunuhan karakter dengan isu LGBT, hingga tuduhan manipulasi dana KIP-K.
- Rangkaian intimidasi meluas hingga mengancam fisik Tiyo dan keluarganya, namun BEM UGM menyatakan tidak akan gentar mengawal isu publik.
Ia menegaskan foto tersebut tidak berkaitan dengan afiliasi politik, melainkan momen reuni biasa yang turut dihadiri Anies sebagai alumni.
Teror Fisik dan Intimidasi ke Keluarga
Selain serangan digital, Tiyo juga mengaku sempat mengalami penguntitan. Peristiwa itu terjadi saat ia berada di sebuah kedai bersama rekannya.
Saat itu ada dua pria tak dikenal disebut memotretnya dari kejauhan sebelum menghilang ketika disadari.
Lebih parah lagi, rangkaian teror itu bahkan menjangkau ibunya di kampung halaman. Pesan bernada tuduhan penggelapan dana dikirimkan pada tengah malam kepada sang ibu.
"Pesannya yang pertama adalah bahwa 'anakmu, Tiyo Ardianto, itu sebagai Ketua BEM dia nilep uang'," tuturnya.
"[Pesan] kedua adalah bahwa ada berita orang tua Ketua BEM UGM kecewa karena anaknya nilep uang gitu," imbuhnya.
Ia menyebut sang ibu mengaku ketakutan setelah menerima pesan tersebut.
"Dua pesan itu yang sampai ke ibu saya dan ibu saya secara verbal tanpa saya tanya mengatakan bahwa ibu cukup takut, ibu takut," ungkapnya
Baca Juga: Yu Beruk Meninggal Dunia, Jogja Kehilangan 'Ratu Panggung'
Teror makin meluas ke sekitar 20 hingga 30 pengurus BEM UGM yang menerima pesan serupa dari nomor tak dikenal.
"Sekitar 20 sampai 30 itu menerima teror juga dari nomor tidak dikenal yang pesannya juga sama dengan apa yang diterima oleh ibu bahwa Ketua BEM UGM melakukan penggelapan uang," tandasnya.
Tak Gentar Hadapi Teror
Tiyo mengaku tidak ingin berspekulasi soal siapa pelaku di balik rangkaian teror tersebut. Namun ia menyoroti pernyataan Menteri HAM Natalius Pigai yang menegaskan pemerintah bukan pelaku teror terhadap dirinya.
"Mohon maaf, Pak Natalius Pigai, saya ini nggak perlu tahu siapa yang melakukan teror. Yang dibutuhkan oleh publik adalah jaminan bahwa ketika menghadapi teror, negara itu hadir di sana," tegasnya.
Ia menilai yang dibutuhkan saat ini adalah jaminan perlindungan atas kebebasan akademik dan keselamatan mahasiswa. Hingga kini, menurutnya, belum ada pernyataan resmi yang memberikan rasa aman dari negara.
Berita Terkait
Terpopuler
- Di Tangan Suahasil, MBG Jadi Prioritas Subsidi Energi Dipangkas
- Luky Alfirman Jadi Wamenkeu usai Dicopot Purbaya, Pengamat Soroti Arah Kebijakan Suahasil
- Sehari Dijabat Suyudi Ario Seto, Polri Langsung Rombak 19 Kapolda: Ini Daftar Lengkapnya!
- Tan Cheng Hoe Gerah Lihat Pemain Malaysia Larut dalam Kekecewaan: Stop Nangis
- 7 Sepatu Jalan Paling Awet yang Solnya Empuk untuk Perjalanan Jauh
Pilihan
-
Kalapas Cibinong Dipecat dari ASN, Buntut Klaster Mewah dalam Penjara
-
Resmi, Syahganda Nainggolan Jadi Kepala Bakom RI Gantikan Muhammad Qodari
-
Hadir di Istana, Pratikno Buka Suara Soal Isu Jadi Ketua Wantimpres Era Prabowo
-
Disorot Gegara Gaya Hidup Mewah, Timothy Ivan Mundur dari Deputi II Bakom RI: Ingin Introspeksi Diri
-
KBRI di Singapura Tak Punya Dokumen Soal Jenjang Pendidikan Gibran di Orchid Park dan MDIS
Terkini
-
Tak Sekadar Turnamen, Juara ANC Dibidik Masuk Jalur Pembinaan FFI hingga U-21
-
Proyek PSEL DIY Dikebut Akhir Tahun, Tapi Izin Belum Diajukan
-
Stem Cell Jadi Ladang Bisnis Kecantikan, Dokter Ingatkan Produk Ilegal dan Klaim Berlebihan
-
BRI dan KPK Perkuat Gerakan Antikorupsi melalui PELOPOR 2026
-
Papermoon Gelar Pesta Boneka #10 di Jogja, Hadirkan 193 Seniman dari 24 Negara