- Ketegangan penayangan terasa di Studio 4 Jogja City Mall saat lebih dari 50 orang menyaksikan film horor fantasi karya Edwin.
- Cerita kakak beradik Putri, Ida, dan Bona yang bekerja di pabrik rambut demi menguak misteri kematian sang ibu menghadirkan teror industrial tanpa hantu maupun jumpscare.
- Horor membumi ditampilkan lewat suasana pabrik mencekam, efek praktikal nyata, dan pesan tentang budaya kerja berlebihan yang dekat dengan kehidupan generasi masa kini.
SuaraJogja.id - Ketegangan menyelimuti Studio 4 XII Jogja City Mall, Sleman, pada Kamis (21/5) malam ketika lebih dari 50 orang menonton "Monster Pabrik Rambut" karya Edwin.
Film bergenre horor fantasi ini berkisah tentang tiga orang kakak beradik, diperankan oleh Rachel Amanda (Putri), Lutesha (Ida), dan Iqbaal Ramadhan (Bona), yang bekerja di sebuah pabrik rambut dan manekin PT Raga Abadi.
Bukan tanpa sebab, mereka terpaksa bekerja di sana untuk menguak misteri meninggalnya sang ibu yang dirasa janggal.
Walaupun bertema horor, sinema ini tidak mengandalkan hantu maupun jumpscare untuk menakuti penonton. Teror sebenarnya terletak pada suasana pabrik yang gelap dan dingin.
"Tidak ada setan dan jumpscare berlebihan. Horornya justru datang dari situasi di pabrik dan monster yang hadir di dalam cerita," kata Iqbaal saat konferensi pers.
Selain itu, monster yang diperlihatkan juga dibuat secara nyata dengan teknik practical effect. CGI dalam film ini dibuat sangat minim agar pemain dapat merasakan suasananya secara langsung.
"Semua dibuat nyata, bukan cuma layar hijau atau biru. Jadi kami sebagai pemain bisa benar-benar masuk ke suasana. Buat gen Z seperti saya, ini jadi pengalaman menarik karena seperti melihat cara film horor era 80-90an diproduksi," imbuhnya.
Edwin pun mengaku ingin membangun ketegangan di dalam filmnya melalui situasi industrial yang mencekam. Seperti adanya mesin-mesin besar yang berisiko tinggi, rambut berterbangan, hingga tekanan kerja yang tinggi.
"Buat aku, membayangkan hal sesederhana bekerja di pabrik, lembur, capek, berhadapan dengan alat-alat industri berat, itu saja sudah sangat horor tanpa harus ada setan," ujar Edwin.
Baca Juga: Film Lokal Rasa Hollywood, 'Pelangi di Mars' Buktikan Mimpi Anak Bangsa
Film Monster Pabrik Rambut terasa dekat dengan kehidupan generasi masa kini yang akrab dengan budaya kerja berlebihan sampai lupa istirahat.
Produser Muhammad Zaidy juga menyebut bahwa film ini sengaja menghadirkan horor yang lebih membumi, terinspirasi dari realitas sehari-hari.
"Di film 'Monster Pabrik Rambut', memberikan warna baru film horor di Indonesia. Film ini menggambarkan saat tempat kerja bisa lebih horor dari dari film horor itu sendiri," pungkas Zaidy.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
- 4 Shio Beruntung Hari ini 21 Agustus 2026 yang Diprediksi Terbebas dari Masalah Keuangan
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Hampir 1.000 Orang Ramaikan Fun Run, Dorong Wisata dan UMKM Sleman
-
Film Animasi Indonesia Ajisaka Menuju Pasar Global, Sony Pictures hingga Netflix Mulai Melirik
-
Pakar UMY Ingatkan Risiko Salah Sasaran Bansos Jika Desil DTSEN Jadi Patokan Mutlak
-
100 Ahli Ortopedi dari 15 Negara Bahas Masa Depan Penanganan Sendi di Yogyakarta
-
GEMPAR Sambangi Pasar Godean, Seni Tradisional Warok Siap Hebohkan Warga