- Ikatan Darah hadir sebagai film aksi-drama yang memadukan pencak silat intens dengan drama keluarga penuh emosi.
- Para pemeran menekankan bahwa pertarungan bukan sekadar fisik, melainkan sarat rasa marah, sayang, dan dendam.
- Film ini diharapkan memperluas perspektif penonton dan membuktikan Indonesia mampu menghadirkan action berkualitas di luar genre horor.
SuaraJogja.id - Industri film Tanah Air kembali menghadirkan karya segar di luar dominasi horor. Film aksi-drama berjudul Ikatan Darah siap tayang di bioskop mulai 30 April 2026.
Disutradarai oleh sineas asal Jogja, Sidharta Tata, film ini menawarkan perpaduan laga pencak silat penuh adrenalin dengan drama keluarga yang sarat emosi.
Saat ditemui di Hotel Gaia Cosmo, Yogyakarta, pada Selasa (28/4/2026), pemeran utama Livi Ciananta mengaku perannya sebagai Mega menuntut kemampuan fisik sekaligus emosi yang kompleks.
“Karakter Mega harus menghadapi banyak penjahat dengan karakter yang berbeda-beda. Setiap pertarungan punya emosi dan tensi yang berbeda, sehingga adrenalin yang dirasakan juga terus meningkat sepanjang cerita,” ujar Livi.
Meski didominasi adegan berkelahi, Livi menekankan bahwa Ikatan Darah bukan sekadar film aksi, melainkan juga drama keluarga yang dekat dengan realitas sosial.
“Ini drama keluarga dengan balutan action. Banyak sisi menyedihkan, menakutkan, sekaligus tentang kuatnya ikatan keluarga. Penonton bisa merasa relate, karena ini yang kerap kita temui di kehidupan saat ini,” tambahnya.
Hal itu dibenarkan oleh pemeran Dini, Ismi Melinda. Menurutnya, koreografi laga dalam film ini bukan sekadar pukulan atau tendangan.
“Dalam film ini, pertarungan tidak sekadar aksi fisik, melainkan juga menjadi media komunikasi antar karakter. Fighting di sini bukan sekadar pukulan atau tendangan, tapi ada rasa sayang, dendam, marah. Ini semua divisualisasikan dalam koreografi,” ungkap Ismi.
Hal senada disampaikan Abdurrahman Arif yang memerankan Boris. Ia menyebut sekitar 80 persen adegan film ini berisi aksi, namun tetap mengedepankan emosi sebagai dasar konflik.
Baca Juga: Jadi Kebijakan Progresif, Sineas Indonesia Ingatkan Dampak Ekonomi LSF Hapus Kebijakan Sensor Film
“Setiap pertarungan punya rasa. Ada yang berantem karena marah, karena sayang, atau karena dendam. Jadi dialog para tokoh sebenarnya disampaikan lewat pukulan, tendangan dan koreografi pertarungan,” jelas Arif.
Ismi Melinda menutup dengan harapan besar agar film ini memperluas perspektif penonton terhadap karya lokal.
“Harapannya film ini bisa diapresiasi dan menunjukkan bahwa kita tidak hanya bisa membuat film horor, tapi juga film action yang kuat dan menarik juga laris,” pungkas Ismi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Aliansi BEM Bersatu: Mobil Fortuner Tiyo Ardianto Tercatat Milik Adik Letjen Purn Setyo Sularso
- Cara Mencari Sinyal TVRI di TV Digital dan TV Analog agar Bisa Nonton Siaran Piala Dunia 2026
- 4 SMA di Banten Terpilih Jadi Sekolah Unggul Garuda 2026, Ini Daftarnya
- Milk Cleanser Viva untuk Umur Berapa? Ini Penjelasan dan 5 Pilihan Variannya
- 4 Cushion Terbaik untuk Usia 40 Tahun ke Atas, Anti Crack Samarkan Garis Halus Seharian
Pilihan
-
Prediksi Argentina vs Aljazair: Head to Head, Susunan Pemain dan Fakta Menarik
-
Aksi di DPR Memanas! Peserta Demo Cipayung Menggugat Ngaku Dianiaya Polisi usai Ditangkap
-
Wasit Liga Indonesia 'Berulah', FIFA Investigasi Kemenangan Timnas Jerman vs Curacao
-
Mahasiswa Gelar Demo di DPR, Tagih Janji 19 Juta Lapangan Kerja dan Desak Hentikan MBG
-
Mau Aksi di Patung Kuda, Mahasiswa UBK Sempat Dihadang di Tugu Tani
Terkini
-
APBD DIY Dihantam Krisis, 67 Persen Bergantung Dana Transfer, Pemda Terpaksa Pangkas Anggaran
-
Cuaca Panas Ekstrem Ancam Kesehatan Anak, Dokter Ingatkan Risiko Heat Stroke
-
Mahasiswa Jogja Kembali Turun ke Jalan, Tuntut Penghentian MBG dan Kopdes yang Mubazir
-
Naga Sembilan Rebut Piala IHR Paku Alam 2026, Pesta Karnaval dan Inul Daratista Hibur Pengunjung
-
Rupiah Melemah, Bantul Berburu Dolar Wisatawan Asing