Budi Arista Romadhoni
Senin, 15 Juni 2026 | 15:56 WIB
Ilustrasi panas terik. [Ist]
Baca 10 detik
  • Dokter UMY memperingatkan ancaman serius heat stroke bagi anak di Indonesia akibat cuaca panas ekstrem yang melanda wilayah tersebut.
  • Sistem pengaturan suhu tubuh anak yang belum sempurna membuat mereka sangat rentan mengalami gagal fungsi organ akibat suhu panas.
  • Orang tua diimbau menjaga hidrasi anak dan membatasi aktivitas luar ruangan saat terik untuk mencegah risiko kondisi medis fatal.

SuaraJogja.id - Gelombang cuaca panas yang melanda sejumlah wilayah Indonesia mulai memunculkan ancaman serius bagi kesehatan anak.

Dokter dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengingatkan orang tua untuk tidak menganggap remeh paparan panas berlebih karena dapat memicu heat stroke, kondisi darurat medis yang berisiko merusak organ vital hingga mengancam nyawa.

Dosen Program Pendidikan Dokter Spesialis Kedokteran Keluarga Layanan Primer UMY, Siti Rizki Fauziah, mengatakan anak-anak menjadi kelompok paling rentan terdampak cuaca panas ekstrem karena kemampuan tubuh mereka dalam mengatur suhu belum berkembang sempurna.

"Anak-anak masih dalam masa pertumbuhan sehingga sistem regulasi suhu tubuhnya belum sebaik orang dewasa. Kondisi panas yang berlangsung terus-menerus memberikan beban lebih besar bagi tubuh mereka," ujarnya dikutip dari ANTARA pada Senin (15/6/2026).

Menurut Siti, risiko tersebut semakin tinggi karena tubuh anak lebih cepat menyerap panas dari lingkungan. Di sisi lain, mekanisme pendinginan tubuh melalui keringat belum bekerja secara optimal, sehingga panas lebih mudah terperangkap di dalam tubuh.

Tak hanya faktor biologis, perilaku anak juga menjadi penyebab meningkatnya risiko heat stroke. Banyak anak tetap aktif bermain di luar ruangan meski cuaca terik dan sering kali mengabaikan tanda-tanda awal kelelahan akibat panas seperti haus, pusing, atau tubuh mulai lemas.

Padahal, heat stroke bukan sekadar kondisi kepanasan biasa. Jika suhu tubuh terus meningkat dan tidak segera ditangani, kondisi tersebut dapat menyebabkan gangguan fungsi organ penting seperti otak, jantung, hingga ginjal.

"Heat stroke harus dipandang sebagai kegawatdaruratan medis yang serius karena merupakan kegagalan sistem pengaturan suhu tubuh. Jika terlambat ditangani, dampaknya bisa sangat berbahaya," tegasnya.

Siti menjelaskan, gejala awal yang perlu diwaspadai orang tua adalah keringat berlebihan, sakit kepala, pusing, mual, muntah, lemas, hingga kram otot. Jika kondisi memburuk menjadi heat stroke, anak dapat mengalami kebingungan, sulit berkomunikasi, mengantuk berlebihan, bahkan kehilangan kesadaran.

Baca Juga: PTN Masih Ngeyel Buka Jalur Mandiri, PTS di Jogja Terancam Tutup Prodi

Peringatan ini sejalan dengan imbauan Kementerian Kesehatan yang meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak cuaca panas, terutama bagi bayi dan balita yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami dehidrasi dan gangguan kesehatan akibat paparan suhu ekstrem.

Para orang tua diminta memastikan anak mencukupi kebutuhan cairan, mengurangi aktivitas di bawah terik matahari pada siang hari, serta segera mencari pertolongan medis jika muncul gejala yang mengarah pada heat stroke.

Di tengah tren suhu udara yang semakin panas, kewaspadaan menjadi kunci. Sebab, ancaman heat stroke pada anak tidak hanya menyebabkan ketidaknyamanan, tetapi juga dapat berubah menjadi kondisi darurat yang berujung pada kerusakan organ permanen apabila terlambat ditangani.

Load More