Nur Khotimah | Rosiana Chozanah
Minggu, 05 April 2026 | 16:11 WIB
Gala Premiere Film Pelangi di Mars. (dok. ist)
Baca 10 detik
  • Pelangi di Mars dipuji karena animasi dan efek visualnya setara film Hollywood.
  • Film ini digarap sejak 2020 oleh Upie Guava dan Dendi Reynando dengan dukungan ratusan orang.
  • Menggunakan teknologi XR, hasilnya jadi visual kelas dunia yang belum pernah ada di film Indonesia.

SuaraJogja.id - Film terbaru Mahakarya Pictures berjudul "Pelangi di Mars" berhasil mencuri perhatian sejak tayang perdana pada 18 Maret 2026.

Karya ini menuai pujian karena kualitas animasi dan efek visualnya yang dinilai mampu bersaing dengan film-film Hollywood.

Disutradarai oleh Upie Guava, "Pelangi di Mars" merupakan film hybrid animasi dan live-action yang menggunakan teknologi XR.

Teknologi ini sebelumnya dipakai dalam produksi besar seperti The Mandalorian dan The Batman, sehingga kehadirannya di film lokal menjadi sebuah terobosan.

Lahir dari Keresahan

Proyek ini berawal pada 2020, ketika Upie Guava merasa mimpi besar anak-anak Indonesia mulai memudar. Ia ingin menghadirkan karya yang bisa membangkitkan kembali semangat tersebut.

Visi ini kemudian diperkuat dengan bergabungnya produser Dendi Reynando dari Mahakarya Pictures. Dendi sendiri memiliki keresahan karena minimnya IP anak asli Indonesia yang bisa dikenalkan kepada anak-anak di bioskop maupun toko mainan.

Perjalanan Panjang 5 Tahun

Dengan visi besar itu, perjalanan produksi berlangsung lebih dari lima tahun. Tantangan muncul karena teknologi XR masih asing di Indonesia. Namun, perlahan proyek ini mendapat dukungan ratusan orang yang percaya pada ide “gila” tersebut.

Baca Juga: Napas Baru Perfilman Indonesia, Karya Sineas Lokal Mulai Digandrungi Masyarakat dengan Torehan Jutaan Penonton

Dedikasi kolektif inilah yang akhirnya melahirkan film dengan visual kelas dunia, sesuatu yang belum pernah terlihat di perfilman Indonesia sebelumnya.

Visual yang Mengguncang

Hasil kerja keras tim terlihat jelas di layar. "Pelangi di Mars" menghadirkan pengalaman sinematik yang berbeda, dengan perpaduan animasi dan live-action yang halus.

Visualnya disebut-sebut setara dengan standar internasional, membuktikan bahwa karya lokal mampu menembus batas.

YouTuber Muntaz Halilintar yang sempat melihat langsung proses produksi di Doss Guava XR Studio juga mengungkapkan kekagumannya.

“Salah satu set paling gila yang pernah saya lihat. So much effort, so much heart to it,” ujarnya.

Load More