- Pemda DIY mewaspadai eskalasi konflik Timur Tengah yang menutup Selat Hormuz berpotensi memicu kenaikan harga minyak dunia.
- Kenaikan harga minyak dunia diprediksi Kepala Biro Perekonomian akan memicu kenaikan komoditas lain menjelang Idulfitri.
- Pemda DIY akan mengikuti arahan pusat dan mengimbau masyarakat menerapkan pola konsumsi yang bijak sebagai antisipasi.
SuaraJogja.id - Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mulai mewaspadai dampak eskalasi konflik di Timur Tengah yang berujung pada penutupan Selat Hormuz. Kondisi ini dikhawatirkan akan memicu kenaikan harga minyak dunia yang secara otomatis berdampak pada stabilitas ekonomi di daerah.
Kepala Biro Perekonomian dan SDA Setda DIY, Eling Priswanto, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap situasi tersebut mengingat jalur tersebut merupakan urat nadi distribusi energi global. Ia menilai kenaikan harga minyak akan menjadi pemicu berantai bagi kenaikan komoditas lainnya.
"Kalau terkait dengan kondisi global memang, saya khawatirnya ini kan info terakhir sudah nutup ini ya, Selat Hormuz, itu nanti minyaknya [distribusi terhambat]. Nah, ketika [harga] minyak naik semua otomatis naik," kata Eling, Selasa (3/3/2026).
Disampaikan Eling, kerawanan ini terjadi tak terlepas dari Selat Hormuz yang memegang peranan vital dalam perdagangan internasional.
"Ini agak-agak rawan karena kan Selat Hormuz itu menguasai 20 persen pasar dunia yang lewat situ," ucapnya.
Meskipun dampak signifikan belum terlihat pada hari ini, Pemda DIY terus memantau perkembangan situasi hingga beberapa pekan ke depan. Apalagi, tekanan ekonomi global ini bertepatan dengan momentum menjelang hari raya Idulfitri di Indonesia.
"Kita nggak tahu ya satu minggu ke depan, dua minggu ke depan apalagi menjelang lebaran, apalagi dengan ditutupnya Selat Hormuz," tuturnya.
Terkait langkah kebijakan, Eling bilang Pemda DIY memastikan tetap menyesuaikan arahan pemerintah pusat. Ia berharap segera ada pernyataan resmi dari pusat sebagai panduan bagi masyarakat daerah dalam menyikapi ketidakpastian kondisi global ini.
Sebagai langkah antisipasi mandiri, masyarakat DIY diimbau untuk mulai menerapkan pola konsumsi yang bijak. Perilaku responsif dan kesiapsiagaan dinilai menjadi kunci utama dalam menghadapi kemungkinan terburuk.
Baca Juga: Malioboro Bebas Emisi, Bentor segera Dihapus, Becak Listrik jadi Pengganti
"Kita waspada saja. Jadi ketika memang kayak belanja bijak, kemudian memanfaatkan kebutuhan seadanya itu saya rasa ada betulnya juga. Artinya perilaku juga jangan terlalu berlebih, siapa tahu nanti terjadi apa-apa kan kita nggak tahu," tandasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan, Bakal Dipanggil Polisi Minggu Depan
- 20 Kode Redeem FF Aktif 20 Agustus 2026: Klaim Item Langka dan Bundle Spesial
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
- 4 Shio Beruntung Hari ini 21 Agustus 2026 yang Diprediksi Terbebas dari Masalah Keuangan
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Film Animasi Indonesia Ajisaka Menuju Pasar Global, Sony Pictures hingga Netflix Mulai Melirik
-
Pakar UMY Ingatkan Risiko Salah Sasaran Bansos Jika Desil DTSEN Jadi Patokan Mutlak
-
100 Ahli Ortopedi dari 15 Negara Bahas Masa Depan Penanganan Sendi di Yogyakarta
-
GEMPAR Sambangi Pasar Godean, Seni Tradisional Warok Siap Hebohkan Warga
-
Kendaraan Kustom Makin Marak di Jogja, Legalitas Masih Jadi PR Besar