- Campak disebabkan virus RNA, sering muncul saat liburan, dan masih menjadi perhatian serius di Indonesia.
- Penularan terjadi melalui percikan udara, ditandai demam, batuk, ruam, serta berpotensi komplikasi serius.
- Pencegahan utama adalah vaksinasi MMR tiga kali dan menjaga pola hidup bersih serta sehat secara konsisten.
SuaraJogja.id - Musim liburan dan hari raya kerap menjadi ajang silaturahmi, namun di balik kehangatan interaksi sosial, ancaman penyakit menular seperti campak bisa mengintai.
Dosen Program Studi Spesialis Kedokteran Keluarga Layanan Primer Unika Atma Jaya, Dr. dr. Regina Satya Wiraharja, M.Sc., mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai campak, penyakit yang disebabkan oleh serangan virus RNA dari keluarga Paramyxoviridae.
Penyakit ini, menurutnya, masih menjadi perhatian serius di Indonesia, dengan ribuan kasus dan puluhan kematian tercatat setiap tahunnya.
"Virus penyebab campak dapat menular melalui percikan ludah atau ingus penderita yang tersebar di udara saat bernafas, batuk, atau bersin," jelas dr. Regina dikutip dari ANTARA.
Setelah masuk ke dalam tubuh, virus akan berkembang biak dan menyebar melalui saluran getah bening, limpa, hati, dan saluran pernapasan, dengan masa inkubasi delapan hingga 14 hari.
Pemahaman akan cara penularan ini menjadi krusial, terutama saat mobilitas dan interaksi sosial meningkat drastis selama musim liburan.
Gejala campak muncul dalam beberapa tahap yang khas. Tahap awal, sekitar dua sampai tujuh hari, ditandai dengan demam tinggi, badan lemas, pilek, batuk, serta mata merah dan sensitif terhadap cahaya.
"Dalam beberapa kasus juga dapat muncul bercak khas di bagian dalam pipi yang dikenal sebagai Koplik spots," tambah dr. Regina.
Tahap selanjutnya adalah munculnya ruam kemerahan, biasanya pada hari ke-4 hingga ke-14, dimulai dari area telinga atau wajah kemudian menyebar ke seluruh tubuh dalam enam sampai tujuh hari, seringkali disertai demam tinggi.
Baca Juga: Dinkes Sleman Temukan 33 Positif dari 148 Suspek Campak di Awal 2026
Memasuki tahap penyembuhan, demam mereda dan ruam berubah menjadi kecokelatan sebelum menghilang.
Meskipun dalam banyak kasus campak dapat sembuh dengan sendirinya, dr. Regina menekankan bahwa penyakit ini berpotensi menimbulkan komplikasi serius. Radang paru, diare, dehidrasi, infeksi telinga tengah, hingga peradangan otak adalah beberapa ancaman yang patut diwaspadai.
Risiko komplikasi ini bahkan lebih tinggi pada kelompok rentan seperti bayi, individu dengan daya tahan tubuh lemah, serta mereka yang kekurangan gizi atau vitamin A.
"Pada ibu hamil, infeksi campak dapat meningkatkan risiko komplikasi kehamilan seperti keguguran, kelahiran prematur dan kelahiran bayi dengan berat badan lahir rendah," tegasnya, menyoroti bahaya campak bagi kesehatan ibu dan anak.
Data menunjukkan bahwa campak masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Pada tahun 2025, tercatat 11.094 kasus campak terkonfirmasi dengan 69 kematian. Angka ini berlanjut hingga minggu ketujuh tahun 2026, dengan 572 kasus dan empat kematian. Data ini menjadi pengingat serius akan pentingnya upaya pencegahan.
"Apabila seseorang mengalami gejala yang mengarah pada campak, segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan serta membatasi kontak dengan orang lain guna mencegah penularan lebih lanjut," imbau dr. Regina.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan Hari Ini 5 Agustus 2026: Segalanya Berjalan Lancar
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
- Link Resmi Pandang.istanapresiden.go.id buat Daftar Upacara Bendera HUT RI di Istana Negara
Pilihan
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
Terkini
-
Menyesap Selang Demi Setetes Air, Potret Ketangguhan Warga Bantul Bertahan Saat Kemarau
-
Pasien Asuransi Pemerintah Masih Menunggu, Industri Sebut Administrasi Jangan Kalahkan Kemanusiaan
-
UMY Kembangkan 5 AI Pendeteksi Penyakit, Bantu Diagnosis Kanker hingga Tumor Otak Lebih Cepat
-
Unisa Yogyakarta Perkuat Riset Lewat Laboratorium Animal House, Dukung Pengembangan Kandidat Obat
-
Isu Keamanan Jelang HUT RI Bikin Khawatir, Sri Sultan Singgung Soal Pagar Tinggi di Mal