- Pelangi di Mars dipuji karena animasi dan efek visualnya setara film Hollywood.
- Film ini digarap sejak 2020 oleh Upie Guava dan Dendi Reynando dengan dukungan ratusan orang.
- Menggunakan teknologi XR, hasilnya jadi visual kelas dunia yang belum pernah ada di film Indonesia.
SuaraJogja.id - Film terbaru Mahakarya Pictures berjudul "Pelangi di Mars" berhasil mencuri perhatian sejak tayang perdana pada 18 Maret 2026.
Karya ini menuai pujian karena kualitas animasi dan efek visualnya yang dinilai mampu bersaing dengan film-film Hollywood.
Disutradarai oleh Upie Guava, "Pelangi di Mars" merupakan film hybrid animasi dan live-action yang menggunakan teknologi XR.
Teknologi ini sebelumnya dipakai dalam produksi besar seperti The Mandalorian dan The Batman, sehingga kehadirannya di film lokal menjadi sebuah terobosan.
Lahir dari Keresahan
Proyek ini berawal pada 2020, ketika Upie Guava merasa mimpi besar anak-anak Indonesia mulai memudar. Ia ingin menghadirkan karya yang bisa membangkitkan kembali semangat tersebut.
Visi ini kemudian diperkuat dengan bergabungnya produser Dendi Reynando dari Mahakarya Pictures. Dendi sendiri memiliki keresahan karena minimnya IP anak asli Indonesia yang bisa dikenalkan kepada anak-anak di bioskop maupun toko mainan.
Perjalanan Panjang 5 Tahun
Dengan visi besar itu, perjalanan produksi berlangsung lebih dari lima tahun. Tantangan muncul karena teknologi XR masih asing di Indonesia. Namun, perlahan proyek ini mendapat dukungan ratusan orang yang percaya pada ide “gila” tersebut.
Dedikasi kolektif inilah yang akhirnya melahirkan film dengan visual kelas dunia, sesuatu yang belum pernah terlihat di perfilman Indonesia sebelumnya.
Visual yang Mengguncang
Hasil kerja keras tim terlihat jelas di layar. "Pelangi di Mars" menghadirkan pengalaman sinematik yang berbeda, dengan perpaduan animasi dan live-action yang halus.
Visualnya disebut-sebut setara dengan standar internasional, membuktikan bahwa karya lokal mampu menembus batas.
YouTuber Muntaz Halilintar yang sempat melihat langsung proses produksi di Doss Guava XR Studio juga mengungkapkan kekagumannya.
“Salah satu set paling gila yang pernah saya lihat. So much effort, so much heart to it,” ujarnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Profil Ahmad Bahar, Penulis 'Gibran The Next President' yang Rumahnya Digeruduk GRIB Jaya
- 4 HP RAM 12 GB Memori Besar Harga Rp2 Jutaan, Gaming dan Edit Video Lancar Jaya
- Bawa Energi Positif, Ini 7 Warna Cat Tembok yang Mendatangkan Hoki Menurut Feng Shui
- 5 HP Snapdragon untuk Budget Rp2 Juta, Multitasking Stabil dan Hemat Baterai
- 6 Sunscreen Moisturizer Terbaik untuk Anti Aging, Kulit Kencang dan Bebas Kerutan
Pilihan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
-
Bertambah Dua, 7 WNI Kini Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan Flotilla Gaza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
-
'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600
Terkini
-
Penonton Jogja Geger! Penayangan Eksklusif Badut Gendong Bikin Tegang dan Campur Aduk Emosi
-
Motor Listrik Rakitan Siswa SMK Ini Tembus 132 Km/Jam, Suaranya Nyaris Tak Terdengar
-
Rupiah Melemah, Biaya Produksi Pertanian di Jogja Naik, Pemda DIY Siapkan Pemetaan Dampak ke Petani
-
Jogja Darurat Pendidikan: 5.023 Anak Putus Sekolah, Nasib Guru Honorer di Ujung Tanduk
-
Rupiah Tembus Rp17.600, Aisyiyah: Pernyataan Prabowo 'Desa Tak Butuh Dolar' Cederai Rakyat