- Pengecer LPG 3 kg di Kota Yogyakarta khawatir akan kelangkaan pasokan akibat migrasi konsumen dari LPG nonsubsidi.
- Pedagang eceran menghadapi pembatasan stok dari pangkalan serta keuntungan penjualan yang sangat minim setiap harinya.
- Disperindag DIY memperketat pengawasan distribusi menggunakan sistem pendataan berbasis NIK untuk memastikan penyaluran gas tepat sasaran.
SuaraJogja.id - Kekhawatiran mulai dirasakan para pengecer LPG 3 kilogram (kg) atau gas melon di Kota Yogyakarta. Harga yang perlahan naik dan stok yang dibatasi membuat pedagang eceran waswas, terlebih jika semakin banyak masyarakat beralih dari LPG nonsubsidi yang naik harganya ke LPG 3 kg bersubsidi.
Sebut saja Yati, pengecer LPG 3 kg di Gowongan, Kota Yogyakarta yang mengaku khawatir tidak kebagian menjual gas melon dari pangkalan karena diambil warga yang nonsubsidi. Dengan jumlah yang terbatas, perempuan 67 tahun ini mengaku juga tidak bisa menyimpan stok banyak karena pembelian dari pangkalan dibatasi.
"Sekarang ambil di pangkalan sudah Rp19 ribu. Saya jual ke pembeli Rp21 ribu," ujar Yati di Yogyakarta, Kamis (23/4/2026).
Selisih harga tersebut membuat keuntungan yang didapatnya tidak seberapa. Sehari maksimal dia hanya mendapatkan keuntungan Rp6.000 hingga Rp10.000 dari berjualan gas melon.
Padaha bagi Yati, menjual LPG 3 kg tetap menjadi sumber tambahan penghasilan yang penting bagi keluarganya. Selain berjualan gas, sehari-hari ia juga menyetor makanan ke beberapa angkringan di sekitar rumahnya.
Pendapatan dari penjualan gas melon membantu menambah pemasukan rumah tangga. Apalagi suaminya sudah tidak bisa bekerja karena sakit.
"Untungnya sedikit, tapi lumayan buat tambahan. Cuma sekarang stok dibatasi, tidak boleh beli banyak, kalau nanti diborong yang nonsubsidi, gimana saya bisa jualan," katanya.
Kondisi serupa juga dirasakan Edi, pengecer LPG 3 kg lainnya di Yogyakarta. Ia mengaku mulai khawatir jika pasokan LPG bersubsidi semakin tertekan akibat pergeseran konsumsi dari LPG nonsubsidi.
"Kalau banyak yang migrasi dari LPG non-subsidi ke 3 kg, takutnya jadi langka," ungkapnya.
Baca Juga: Harga LPG Non Subsidi Meroket di Jogja, Penjual Resah, Ancaman Migrasi ke Elpiji 3 Kg Menguat?
Keuntungan dari penjualan LPG 3 kg sebenarnya sangat kecil. Dalam sehari, Edi mengaku mendapatkan keuntungan yang ia peroleh sering kali tidak lebih dari Rp10 ribu.
Padahal LPG 3 kg tetap menjadi kebutuhan utama masyarakat kecil. Banyak pembeli datang untuk kebutuhan rumah tangga, warung makan, hingga angkringan.
"Ya harapannya ada aturan agar yang nonsubsidi tidak berganti ke gas melon," ungkapnya.
Sementara itu Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY, Yuna Pancawati mengungkapkan di tengah kekhawatiran para pengecer, pem terus memantau pergerakan konsumsi LPG bersubsidi. Yuna memastikan indikasi migrasi konsumen ke LPG 3 kg dapat dilihat dari data penyaluran di pangkalan resmi.
"Terkait potensi migrasi konsumen ke LPG 3 kg, indikator riil pemantauan dilakukan melalui data realisasi penyaluran di pangkalan dan perbandingannya dengan kuota wilayah, termasuk melihat pola kenaikan harian atau mingguan yang tidak wajar," ungkapnya.
Menurutnya, pembelian LPG 3 kg secara nasional kini diarahkan menggunakan pendataan berbasis Nomor Induk Kependudukan (NIK) atau KTP di pangkalan resmi melalui sistem digital milik Pertamina. Dengan sistem tersebut, pergerakan konsumsi LPG bersubsidi dapat ditelusuri lebih objektif.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- Djarum Digeledah KPK, Publik Ramai Kaitkan dengan Isu Haji Isam dan DBS
- 5 Sunscreen untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 Shio Paling Beruntung 29 Oktober 2026: Bisnis Lancar dan Finansial Aman
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Coach Justin Nilai AXIS Nation Cup Buka Jalan Talenta Muda ke Level Profesional
-
Gratis! Grand Final AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan 16 Tim dan Deretan Artis
-
Pasca Ramai Seruan Boikot, RANS Carnival di Maguwoharjo Ditinggal Musisi dan UMKM
-
Polresta Sleman Sita 561 Botol Miras Ilegal Selama Oktober 2026
-
Tak Ingin Sakiti Hati Warga Jogja, OM Wawes Pilih Batal Manggung di RANS Carnival