- Pengecer LPG 3 kg di Kota Yogyakarta khawatir akan kelangkaan pasokan akibat migrasi konsumen dari LPG nonsubsidi.
- Pedagang eceran menghadapi pembatasan stok dari pangkalan serta keuntungan penjualan yang sangat minim setiap harinya.
- Disperindag DIY memperketat pengawasan distribusi menggunakan sistem pendataan berbasis NIK untuk memastikan penyaluran gas tepat sasaran.
"Dengan demikian, validasi bahwa masyarakat memang enggan beralih tidak hanya dilihat dari asumsi pasar, tetapi dari data transaksi dan realisasi penyaluran di lapangan," paparnya.
Selain pemantauan data, Disperindag DIY juga memperketat pengawasan distribusi LPG 3 kg. Pengawasan dilakukan melalui monitoring stok dan penyaluran di pangkalan, pengecekan kepatuhan penyalur, hingga tindak lanjut cepat apabila terdapat lonjakan permintaan yang tidak wajar.
Pemantauan dilakukan secara rutin oleh tim maupun secara insidentil ketika terjadi kasus tertentu. Pemetaan titik rawan juga dilakukan berdasarkan histori penyaluran, kepadatan konsumsi, serta laporan masyarakat.
"Pengetatan pengawasan distribusi LPG 3 kg dilakukan melalui monitoring bersama atas stok dan penyaluran, pengecekan kepatuhan pangkalan, serta tindak lanjut cepat apabila terdapat indikasi lonjakan permintaan yang tidak wajar," jelasnya.
Dalam pelaksanaannya, Disperindag DIY berkoordinasi dengan Pertamina, pemerintah kabupaten/kota, Satgas Pangan. Selain itu aparat penegak hukum untuk memastikan distribusi LPG bersubsidi berjalan sesuai ketentuan.
Penerapan sistem pembelian LPG 3 kg menggunakan KTP yang saat ini terus diperkuat. Ia menambahkan pencatatan transaksi digital ditargetkan berjalan penuh di tingkat penyalur maupun subpenyalur.
Namu pengawasan bersama tetap diperlukan. Hal ini penting agar implementasinya benar-benar konsisten di lapangan.
"Terkait efektivitas pembelian LPG 3 kg menggunakan KTP, implementasinya dipantau melalui sistem pencatatan digital pembelian konsumen di pangkalan menggunakan Merchant Apps Pertamina. Secara kebijakan, pengguna LPG 3 kg memang wajib terdata terlebih dahulu," ungkapnya.
Jika terjadi tekanan pada kuota LPG 3 kg di DIY akibat pergeseran konsumsi, pemerintah menyiapkan langkah mitigasi. Salah satunya dengan koordinasi penambahan pasokan atau extra dropping pada wilayah yang terdampak.
Baca Juga: Harga LPG Non Subsidi Meroket di Jogja, Penjual Resah, Ancaman Migrasi ke Elpiji 3 Kg Menguat?
Di saat yang sama, pengawasan distribusi juga akan diperkuat agar penyaluran tetap tepat sasaran dan tidak terjadi penimbunan.
Dari sisi ekonomi daerah, ia menilai dampak terhadap inflasi perlu dicermati. Penyesuaian harga energi non-subsidi berpotensi menimbulkan tekanan tidak langsung pada biaya usaha dan distribusi.
"Prioritas distribusi tetap diarahkan untuk sektor vital, termasuk UMKM yang memang berhak menerima LPG 3 kg," imbuhnya.
Kontributor : Putu Ayu Palupi
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- Djarum Digeledah KPK, Publik Ramai Kaitkan dengan Isu Haji Isam dan DBS
- 5 Sunscreen untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- Cara Cek KTP Kita Terdaftar di Pinjol Apa Saja?
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Gandeng 43 Kampus Muhammadiyah, PERADI Profesional Perkuat Pendidikan dan Integritas Advokat
-
Coach Justin Nilai AXIS Nation Cup Buka Jalan Talenta Muda ke Level Profesional
-
Gratis! Grand Final AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan 16 Tim dan Deretan Artis
-
Pasca Ramai Seruan Boikot, RANS Carnival di Maguwoharjo Ditinggal Musisi dan UMKM
-
Polresta Sleman Sita 561 Botol Miras Ilegal Selama Oktober 2026