- InJourney Community Care melatih 300 siswa di Yogyakarta mengenai keterampilan mitigasi dan evakuasi darurat menghadapi ancaman Sesar Opak.
- Program edukasi bencana ini menargetkan 1.000 siswa dari sepuluh sekolah di wilayah DIY sebelum Mei tahun 2026 mendatang.
- Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesiapan mental dan teknis generasi muda agar mampu bertindak tenang serta selamat saat bencana.
SuaraJogja.id - Dua dekade setelah gempa dahsyat 2006, ancaman dari jalur Sesar Opak tetap menjadi realita yang tak bisa diabaikan bagi warga Yogyakarta.
Menyadari bahwa bencana bisa berulang kapan saja, ratusan siswa di Bantul, Gunungkidul, dan Kota Yogyakarta kini terus digembleng dengan keterampilan tanggap darurat. Hal ini guna memutus rantai ketidaksiapan yang pernah terjadi di masa lalu.
Pelatihan tanggap bencana itu digelar oleh InJourney Community Care yang diikuti oleh 300 siswa dari SMA 5 Yogyakarta, SMA 1 Sewon Bantul dan SMA 1 Patuk Gunungkidul.
Program ini diharapkan tercapai sebelum puncak peringatan 20 Tahun Gempa Yogyakarta pada Mei 2026 mendatang.
Direktur Operasi InJourney Destination Management Indung Purwita Jati menilai literasi bencana menjadi krusial bagi generasi muda.
Program yang menargetkan 1.000 peserta dari 10 sekolah di seluruh DIY ini merupakan hasil kolaborasi lintas sektor melalui Sekber Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB).
Fokusnya untuk memastikan sekolah-sekolah yang berada di jalur rawan bencana memiliki kesiapan mental dan teknis.
"Target kita siswa SMA mengingat program tanggap bencana itu harus dimulai dari dini. Kami berharap dengan literasi dan juga pemahaman SMA yang sudah matang. Sehingga mereka bisa menyebarluaskan bagaimana seharusnya jika terjadi bencana," ungkap Indung, Jumat (24/4/2026).
"Mereka bisa memberikan edukasi kepada orang-orang sekitarnya, sehingga bisa cepat tanggap, serta tujuannya untuk selamat," imbuhnya.
Baca Juga: Cuaca Jogja Kamis Ini: Siap-siap Basah, BMKG Prediksi Hujan Intensitas Sedang Guyur Kota Gudeg
Para siswa tidak hanya menerima teori di dalam kelas. Mereka dilatih melakukan mitigasi awal, teknik penyelamatan, hingga puncaknya melakukan simulasi evakuasi darurat yang melibatkan seluruh penghuni sekolah, termasuk para guru.
Salah satu siswa SMA Negeri I Patuk, Gunungkidul, Rahmat Sholeh Setiawan mengaku belum pernah mengalami bencana besar seperti yang terjadi di tahun 2006.
Siswa Bagi kelas 11 kelahiran 2008 ini hanya mendengar cerita dari orang tua maupun saudara tentang bencana gempa bumi besar yang melanda Yogyakarta.
Usai mengikuti pelatihan, menurutnya, ketenangan diperlukan dalam menghadapi bencana. Tujuannya untuk lebih fokus dalam bersikap dan menentukan posisi dan perilaku yang tepat dalam situasi bencana.
"Langkah yang pertama itu ketenangan. Jika panik, jadinya tidak fokus dan bisa membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Ketenangan dimiliki jika memiliki penguasaan terhadap materi tanggap bencana yang tepat," kata Rahmat.
Peringatan 20 tahun gempa Yogyakarta pada Mei mendatang diharapkan tidak hanya menjadi momen reflektif atas tragedi masa lalu.
Berita Terkait
Terpopuler
- Masuk Red Notice Interpol, Erick Soedjasa Ditangkap Bareskrim di Bandara Juanda
- Arti Weton Bumi Kapetak Menurut Primbon Jawa: Karakter Tangguh dan Tahan Banting Menuju Sukses
- Skandal Biksu Thailand Viral: Dana Kuil Rp46 M Raib, Emas 16 Kg Disita hingga Rekaman Tak Senonoh
- Berapa Harga Oven Mini? Cek 9 Rekomendasi Merek Berkualitas dan Kisarannya
- 8 Cara Mudah Membersihkan Panci Gosong dan Berkerak agar Kembali Kinclong
Pilihan
-
Pakar UNS Soroti Pemangkasan Anggaran Kebencanaan: Negara Kita Suka Kejadian Dulu Baru Dikaji!
-
Catat! Jadwal Resmi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Lawan Malaysia di SUGBK
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
-
Drone Thermal Dikerahkan, SAR Perluas Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Perairan Anak Krakatau
Terkini
-
5 Tahun Holding UMi, Sinergi BRI, Pegadaian, dan PNM Dorong UMKM Bertumbuh
-
Lima Jurnalis Hilang di Anak Krakatau, Muhammadiyah Minta Pencarian Gunakan Teknologi Terbaru
-
Heboh LHKP Muhammadiyah Cap Program MBG Haram, Haedar Nashir Buka Suara
-
Jelang Tanwir ke-114, Muhammadiyah Sentil Masalah Bangsa Menumpuk, Elite Tak Gerak Cepat
-
Dana Desa Dipangkas untuk Kopdes Merah Putih, Banyak Lurah Takut Masuk Penjara, DIY Andalkan Danais