- Indonesia mengalami surplus produksi telur ayam nasional sebesar 6,34 juta ton pada tahun 2025 yang melampaui kebutuhan konsumsi.
- Prof. Budi Guntoro dari UGM mengimbau pemerintah mengkaji ulang wacana investasi asing karena mengancam eksistensi peternak rakyat lokal.
- Pemerintah didorong memberdayakan peternak melalui perbaikan sistem distribusi dan koperasi daripada menambah kapasitas produksi dengan modal asing.
SuaraJogja.id - Sebuah ironi tengah menyelimuti sektor perunggasan nasional. Di saat data menunjukkan Indonesia mengalami surplus produksi telur ayam yang signifikan, wacana untuk membuka keran investasi asing di subsektor ayam petelur justru mengemuka.
Kebijakan ini dinilai mengandung risiko besar yang dapat mengancam eksistensi peternak rakyat dan menggerus kedaulatan pangan.
Guru Besar Sosial Ekonomi Peternakan dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Budi Guntoro, menjadi salah satu suara ahli yang menyoroti tajam potensi bahaya ini.
Menurutnya, langkah untuk mengundang pemodal besar dari luar negeri perlu dikaji ulang dengan sangat cermat, berdasarkan data dan kondisi riil di lapangan, bukan sekadar asumsi.
"Wacana pembukaan investasi asing pada subsektor ayam petelur dinilai perlu dikaji secara cermat di tengah kondisi produksi telur nasional yang justru mengalami l surplus," kata Budi dikutip dari ANTARA di Yogyakarta pada kamis (30/4/2026).
Data yang dipaparkan Budi menunjukkan gambaran yang jelas. Produksi telur ayam nasional pada tahun 2025 telah mencapai angka 6,34 juta ton. Angka ini bahkan diproyeksikan akan terus meningkat hingga lebih dari 6,5 juta ton pada tahun 2026.
Sementara itu, kebutuhan konsumsi nasional hanya berada di kisaran 6,22 juta ton.
"Artinya, Indonesia tidak sedang kekurangan telur, melainkan menghadapi surplus yang bersifat struktural," tegasnya.
Fakta ini mematahkan narasi bahwa investasi asing diperlukan untuk menggenjot kapasitas produksi. Prof. Budi, yang juga menjabat sebagai Dekan Fakultas Peternakan UGM, menjelaskan bahwa tantangan utama yang dihadapi industri ayam petelur saat ini bukanlah soal kurangnya produksi.
Baca Juga: UGM-Bank Mandiri Taspen Lanjutkan Kemitraan, Siapkan Talenta Muda dan Literasi Pensiun
Masalah sebenarnya terletak pada persoalan fundamental lain seperti ketimpangan pasar, fluktuasi harga yang merugikan di tingkat peternak, serta posisi tawar peternak rakyat yang sangat lemah dalam rantai pasok.
"Peternakan rakyat selama ini menjadi tulang punggung produksi telur nasional. Selain berperan secara ekonomi, sektor ini juga memiliki dampak sosial melalui penyerapan tenaga kerja dan penggerak ekonomi lokal," ungkap Budi.
Kehadiran investasi asing di sektor budidaya, jika tidak diatur dengan regulasi yang ketat dan berpihak, berpotensi menciptakan konsentrasi pasar yang didominasi oleh segelintir pemain besar.
Hal ini secara langsung akan menekan dan bahkan mematikan usaha-usaha kecil milik peternak lokal yang selama ini menjadi penyangga utama ekonomi daerah.
Dalih Program Makan Bergizi Gratis (MBG)
Salah satu argumen yang sering digunakan untuk mendorong investasi baru adalah kebutuhan untuk menyukseskan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Berita Terkait
Terpopuler
- 25 Ribu Penerima Bansos di Sulsel Terindikasi Judol
- Status Terbaru Anak Purbaya: Mafia Ancam Presiden Dibalik Pemecatan Bapak, Ada Foto Raja Juli
- Khofifah dan Emil Hadiri Pameran Tunggal Lukisan SBY, Apresiasi Karya Presiden ke-6 RI
- Titik Terang Kabar Pernikahan Andre Taulany dan Amanda Rigby, KUA: Surat Rekomendasi Sudah Masuk
- Ayahnya Dicopot dari Menkeu, Anak Purbaya Singgung Bawahan Korup: Pensiun Aja dari Politik
Pilihan
-
Mekkah Diserang Houthi, Kemlu Minta WNI Hati-hati di Arab Saudi
-
Dari Aceh hingga Nusa Tenggara, Membaca Peta Ancaman Megathrust Indonesia
-
Kabar Buruk dari Italia: Jay Idzes Cedera 30-35 Hari Absen Bela Timnas Indonesia
-
Purbaya Ogah Bicara Panjang Saat Sertijab Menkeu ke Suahasil: Terima Kasih Semua
-
Apa Salah Purbaya hingga Dipecat Lewat Panggilan Telepon?
Terkini
-
Buruh di Jogja Geruduk Kantor Gubernur DIY, Tantang Sultan Buktikan Keistimewaan untuk Pekerja
-
Ironi Pariwisata Jogja, Kampus Sepi Peminat, Industri Justru Kekurangan SDM Kompeten
-
Anak Balita Diduga Jadi Korban Kekerasan Seksual di Sleman
-
Semangat Aksara dalam Festival Kebudayaan Yogyakarta 2026
-
Dibintangi Oki Rengga, SMARTFREN Kenalkan Jaringan Unlimited 5G di Web Series Penghuni Rumah Warisan