Nur Khotimah | Gagah Radhitya Widiaseno
Rabu, 06 Mei 2026 | 11:49 WIB
Bedah Buku "Muslim Ahmadiyah dan Indonesia" di UKDW Yogyakarta: Bukti Resiliensi dan Cinta Tanah Air (Suara.com/Gagah Radhitya)
Baca 10 detik
  • Ahmadiyah peringati usia 100 tahun di Indonesia lewat buku kesaksian tokoh lintas agama. 
  • Tuduhan kitab suci baru dan ritual haji di Parung dibantah tegas menggunakan logika. 
  • Jemaat membuktikan kesetiaan pada NKRI dengan prinsip damai tanpa membalas persekusi yang dialami. 

Pemaparan mendalam datang dari narasumber kredibel lintas universitas besar. Tokoh sekaliber Prof. Alimatul Qibtiyah dari UIN Sunan Kalijaga dan Dr. Zainal Abidin Bagir dari UGM turut menyumbangkan pandangan mereka.

Resiliensi Damai Tanpa Balas Dendam

Meski sering mengalami diskriminasi hingga perusakan fasilitas ibadah, mereka pantang membalas dendam. Sikap elegan ini berakar kuat dari semboyan universal mereka.

"Pada saat persekusi hebat itulah sang Khalifah menegaskan motto ini. Maknanya adalah: kekerasan tidak boleh dibalas dengan kekerasan," tambah Amir Nasional JAI.

Komitmen tanpa kekerasan ini terus dipegang teguh demi menjaga kondusivitas. Mereka membuktikan bahwa ajaran Islam bisa ditegakkan lewat cinta kasih, bukan amarah.

Bukti Kesetiaan Tanpa Syarat pada NKRI

Komunitas ini memberikan jaminan bahwa mereka tidak memiliki agenda terselubung. Mereka adalah organisasi murni keagamaan yang tunduk pada hukum negara.

"Kami tidak memiliki interest (kepentingan) politik apa pun untuk menguasai teritori suatu daerah atau negara, dan kami tidak berniat mengubah ideologi negara. Kami taat sepenuhnya kepada pemerintah yang sah."

Sebagai bukti nyata cinta Tanah Air, anggota jemaat dilarang keras turun ke jalan untuk berdemonstrasi. Menjaga ketertiban umum dan tidak menghujat pemerintah adalah bagian dari manifestasi iman mereka.

Baca Juga: Peringatan Dini BMKG: Akhir Pekan di Jogja Berpotensi Hujan Badai Petir dan Angin Kencang

Load More