- Penyandang disabilitas di Yogyakarta menghadapi kendala aksesibilitas dan minimnya informasi rinci saat mengunjungi kawasan wisata sejarah Tamansari.
- Komunitas difabel mendesak penyediaan panduan multisensori, bahasa isyarat, serta detail navigasi ruang agar wisata lebih inklusif dan aman.
- Pihak Keraton Yogyakarta mulai menghadirkan audio guide, video bahasa isyarat, dan dokumen Braille untuk mendukung wisata yang setara.
Sementara itu Carik I Kawedanan Radya Kartyasa Keraton Yogyakarta, Nyi KRT Nur Sundari, mengakui aksesibilitas masih menjadi pekerjaan rumah besar di banyak situs bersejarah.
Karenanya Tamansari yang menjadi salah satu ikon warisan budaya Kesultanan Yogyakarta berupaya menghadirkan pelayanan publik yang setara bagi seluruh masyarakat.
"Melalui kehadiran panduan multisensori, Tamansari siap melangkah maju menuju kawasan wisata sejarah yang inklusif, terbuka, dan dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa sekat keterbatasan fisik," paparnya.
Ia mengatakan, keterlibatan dunia akademik menjadi penting untuk membantu menghadirkan solusi yang lebih konkret dan aplikatif dalam pengembangan wisata inklusif.
Panduan multisensori yang mulai diluncurkan di Tamansari bukan sekadar fasilitas tambahan namun bagian dari transformasi pengelolaan museum dan situs warisan budaya agar semakin terbuka bagi penyandang disabilitas.
Dalam program tersebut, Tamansari kini mulai menghadirkan berbagai fasilitas baru seperti audio guide untuk navigasi dan penyampaian sejarah. Selain itu video guide visual yang lebih akomodatif, brosur informatif, hingga buku panduan huruf Braille bagi wisatawan tunanetra.
Konsep multisensori juga dirancang agar pengalaman wisata tidak hanya bertumpu pada visual semata, tetapi melibatkan suara, sentuhan, dan berbagai bentuk penyampaian informasi yang lebih adaptif.
"Langkah ini dinilai penting karena Tamansari selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata budaya paling populer di Yogyakarta, namun memiliki karakter bangunan bersejarah yang tidak selalu mudah diakses oleh semua pengunjung," jelasnya.
Nur berharap program tersebut dapat menjadi proyek percontohan bagi pengembangan wisata inklusif di situs cagar budaya lain di Yogyakarta. Sebab bagi komunitas difabel, aksesibilitas bukan sekadar tambahan fasilitas, melainkan hak dasar agar mereka dapat menikmati ruang budaya.
Baca Juga: Jogja Darurat Pendidikan: 5.023 Anak Putus Sekolah, Nasib Guru Honorer di Ujung Tanduk
"Diharapkan kaum difabel bisa berwisata dengan aman, mandiri, dan bermartabat seperti pengunjung lainnya," tandasnya.
Kontributor : Putu Ayu Palupi
Berita Terkait
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 5 Serum untuk Mengecilkan Pori-pori, Bikin Kulit Mulus Sesuai Review Pembeli
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 8 Pilihan Parfum di Alfamart yang Semakin Berkeringat Semakin Wangi
- 25 Kode Redeem FF Aktif 5 Juli 2026: Kesempatan Dapat Bundle BR Elite dan Item Premium
Pilihan
-
Roy Suryo Menang Praperadilan! Hakim Nyatakan Penangkapan dan Penahanan Tidak Sah
-
Dokumen Kunker Menteri PU ke New York Bocor, Ajak Istri dan Anak Jelang Final Piala Dunia?
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
Terkini
-
Prabowo Dampingi PM India Narendra Modi Beribadah di Prambanan, 2.690 Personel Gabungan Siaga Penuh
-
Rekonstruksi Pembunuhan di Depan SMA 3 Jogja Digelar, Empat Orang Masih DPO
-
Perpres Cap LGBTQ Ancaman Nonmiliter, Dinsos DIY Belum Lakukan Penindakan, Fokus Perkuat Keluarga
-
Trah Sri Sultan HB II Ajukan Uji Materi Baru UU Gelar Pahlawan Nasional ke MK, Soroti Poin Ini
-
Sigit Mustofa Nahkodai Warkaban 2026-2029, Perkuat Solidaritas Diaspora Bantul di Seluruh Indonesia