- Pakar kegempaan UGM menyatakan memori kolektif masyarakat Yogyakarta mengenai gempa besar tahun 2006 mulai memudar setelah dua dekade.
- Pembangunan masif di Yogyakarta saat ini dinilai belum sepenuhnya mempertimbangkan aspek keselamatan dan ketangguhan terhadap ancaman gempa bumi.
- Masyarakat perlu meningkatkan kesiapsiagaan bencana secara komprehensif daripada sekadar menunggu prediksi waktu terjadinya gempa besar di masa depan.
SuaraJogja.id - Dua puluh tahun setelah gempa bumi besar mengguncang DIY pada 27 Mei 2006, muncul kekhawatiran baru yang yang justru tidak berasal dari pergerakan lempeng bumi. Saat ini ingatan masyarakat terhadap bencana tersebut sudah memudar.
"Ketika saya mengajar mahasiswa angkatan 2025, saya bertanya apakah mereka mengetahui gempa besar tahun 2006. Ternyata sebagian besar tidak memiliki ingatan kolektif tentang peristiwa itu karena mereka lahir setelah kejadian tersebut," papar pakar kegempaan UGM, Gayatri Indah Marliyani dalam seminar sinergi UGM-Kagama "20 Tahun Gempa Yogyakarta 2006 dan Antisipasi Gempa Bumi Megathrust Jawa di UGM, Yogyakarta, Sabtu (30/6/2026).
Menurut Dosen Departemen Teknik Geologi UGM tersebut, gempa 2006 di DIY yang menyebabkan 6.652 orang meninggal dunia itu semakin terlupakan di tengah pesatnya pembangunan hotel, apartemen dan kawasan wisata di DIY.
Apalagi terjadi pergantian generasi yang tidak mengalami langsung tragedi 2006 yang menyebabkan kesadaran kebencanaan perlahan mulai tergerus. Padahal para peneliti seringkali mengingatkan adanya ancaman gempa besar, termasuk potensi megathrust di selatan Jawa.
Gayatri menyebut tantangan terbesar saat ini bukan hanya memahami ancaman gempa, tetapi menjaga agar memori kolektif masyarakat terhadap bencana tidak hilang. Sebab kondisi saat ini jauh berbeda dibandingkan dua dekade lalu.
Berbagai kemajuan telah dicapai dalam sistem monitoring, penelitian, teknologi kebencanaan, hingga ketersediaan data geologi saat ini. Namun setelah 20 tahun berlalu, muncul generasi baru yang tidak memiliki pengalaman langsung terhadap gempa besar Yogyakarta.
Fenomena tersebut menunjukkan dalam satu generasi saja, ingatan mengenai bencana dapat memudar. Padahal pengalaman kolektif sering kali menjadi faktor penting yang membentuk kesiapsiagaan masyarakat.
"Saat gempa 2006 terjadi, banyak warga terkejut karena tidak menyangka Yogyakarta dapat mengalami bencana besar dengan korban jiwa dan kerusakan yang begitu luas. Pada masa itu, informasi kebencanaan masih terbatas, sistem komunikasi belum berkembang seperti sekarang, dan pemahaman masyarakat mengenai risiko gempa masih rendah," tandasnya.
Namun dengan berubahnya situasi, teknologi semakin maju, peta kebencanaan semakin detail, dan penelitian geologi berkembang pesat, mestinya pengetahuan tentang kebencaan, termasuk gempa bumi bisa meningkat.
Baca Juga: Jalan Damai 57 Biksu Tembus Panas dan Luka, Yogyakarta Jadi Titik Istimewa Menuju Borobudur
Namun berkurangnya kesadaran akibat jarak waktu yang semakin jauh dari peristiwa bencana jadi masalah.
Apalagi pembangunan terus bergerak cepat di DIY seperti maraknya bangunan baru, hotel, apartemen, hingga pusat aktivitas ekonomi ternyata belum semuanya mempertimbangkan aspek keselamatan dan ketangguhan terhadap gempa bumi.
Padahal DIY berada di wilayah yang memiliki beberapa sumber ancaman gempa sekaligus, baik dari sesar aktif di daratan maupun zona subduksi di selatan Pulau Jawa.
"Apakah konstruksi yang dibangun saat ini sudah cukup tangguh terhadap gempa? Apakah pembangunan tersebut telah mempertimbangkan aspek keberlanjutan dan keselamatan," tandasnya.
Gayatri menambahkan, aktivitas kegempaan di Jawa tergolong tinggi. Data selama sebelas tahun terakhir menunjukkan banyaknya kejadian gempa, baik gempa dangkal maupun gempa yang terjadi pada kedalaman lebih besar.
Di wilayah selatan DIY sendiri terdapat klaster gempa yang berkaitan dengan aktivitas sesar aktif. Aktivitas tersebut menunjukkan sumber gempa di kawasan tersebut masih aktif bergerak dan menjadi zona megathrust di selatan Jawa meski hingga saat ini tidak ada teknologi yang mampu memprediksi secara pasti kapan gempa besar akan terjadi.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Warga Kayumanis Bogor Tolak PSEL
- 5 Sepatu Adidas Tanpa Tali yang Serbaguna, Anti Pegal Dipakai Jalan Seharian
- 5 HP Baru 2026 Memori Besar dan Baterai Badak untuk Multitasking, Harga Rp2 Jutaan
- 5 Moisturizer Mengandung SPF untuk Pagi Hari, Melembapkan dan Mencerahkan Kulit
Pilihan
-
Kesehatan Donald Trump Bermasalah? Gedung Putih Dituding Tutupi Hasil Medical Check-up
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
Terkini
-
Bumi Sudah Melewati Batas Perjanjian Paris, Ancaman Krisis Iklim Tak Lagi Sekadar Ramalan
-
Belajar dari Gempa 2006, Jogja Memang Istimewa dalam Menangani Bencana
-
20 Tahun Gempa Jogja Mulai Terlupakan, Ancaman Megathrust Masih di Depan Mata
-
Berkas Kasus Daycare Little Aresha Rampung Pekan Depan, Rekonstruksi Tertutup Menyusul
-
Efisiensi Anggaran Paksa Seniman Bertahan Mandiri, Pemda DIY Prioritaskan Agenda Pusat