- Pakar kegempaan UGM menyatakan memori kolektif masyarakat Yogyakarta mengenai gempa besar tahun 2006 mulai memudar setelah dua dekade.
- Pembangunan masif di Yogyakarta saat ini dinilai belum sepenuhnya mempertimbangkan aspek keselamatan dan ketangguhan terhadap ancaman gempa bumi.
- Masyarakat perlu meningkatkan kesiapsiagaan bencana secara komprehensif daripada sekadar menunggu prediksi waktu terjadinya gempa besar di masa depan.
"Yang dapat dilakukan oleh para ilmuwan adalah mengidentifikasi sumber gempa, memperkirakan potensi magnitudo, serta memetakan dampak yang mungkin ditimbulkan," ujarnya.
Karena itu masyarakat perlu mengubah cara pandang terhadap isu megathrust. Fokus utama bukan pada pertanyaan kapan gempa besar akan datang, melainkan apakah masyarakat sudah siap apabila peristiwa tersebut benar-benar terjadi.
Kesiapan tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari bangunan tahan gempa, jalur evakuasi yang jelas, kesiapsiagaan keluarga, hingga akses terhadap informasi yang valid dan berbasis ilmu pengetahuan. Sebagai daerah wisata yang menerima jutaan pengunjung setiap tahun, DIY juga menghadapi tantangan tambahan.
"Wisatawan yang hanya datang satu atau dua hari sering kali tidak memahami risiko kebencanaan. Padahal dalam kondisi darurat, pengetahuan sederhana mengenai jalur evakuasi maupun titik aman dapat menjadi faktor yang menentukan keselamatan," paparnya.
Sementara itu, Rektor UGM, Ova Emilia, mengungkapkan pelajaran terbesar dari gempa di DIY tidak hanya berkaitan dengan aspek fisik dan infrastruktur. Namun lebih dari itu ketangguhan manusia dalam menghadapi bencana.
"Berbagai data statistik memang dapat menggambarkan jumlah korban, kerusakan bangunan, maupun kerugian ekonomi. Namun terdapat dimensi lain yang tidak sepenuhnya dapat ditangkap melalui angka," ungkapnya.
Karena itu UGM mengembangkan kajian mengenai human flourishing atau kesejahteraan manusia secara utuh. Konsep tersebut tidak hanya berbicara mengenai kesehatan dan kesejahteraan ekonomi, tetapi juga kebahagiaan, makna hidup, hubungan sosial, serta kemampuan seseorang untuk berkembang secara positif.
Dalam konteks DIY, Ova melihat pengalaman menghadapi gempa 2006 menunjukkan masyarakat memiliki modal sosial dan budaya yang kuat untuk bangkit dari krisis. Kemampuan tersebut menjadi modal penting dalam membangun ketangguhan jangka panjang menghadapi berbagai ancaman, termasuk potensi gempa besar di masa depan.
"Masyarakat memiliki kemampuan untuk meredam trauma, meregulasi emosi dengan baik, serta mempercepat proses pemulihan psikososial pascabencana," imbuhnya.
Baca Juga: Jalan Damai 57 Biksu Tembus Panas dan Luka, Yogyakarta Jadi Titik Istimewa Menuju Borobudur
Kontributor : Putu Ayu Palupi
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Kenapa Maudy Ayunda Disebut Tak Napak Tanah? Ini Kronologinya
- 3 Rekomendasi Helm Half Face Rp200 Ribuan yang Paling Dicari Bikers, Nyaman Buat Harian
- Defisit APBN 'Cuma' 0,91 Persen, Purbaya Khawatir Kementerian-Lembaga Minta Anggaran Tambahan
- Viral Karnaval Mirip Ritual Satanisme di Pekalongan, Ada Penyembelihan Hewan dan Okultisme
- Polisi Sebut Wanita di Video Viral Biksu Thailand Mendadak Kaya Sejak Bolak Balik Masuk Kuil
Pilihan
-
Dilantik Jadi Menkeu, Suahasil Akui Tak Berkomunikasi Dengan Purbaya
-
Purbaya Diganti, Nilai Tukar Rupiah Langsung Loyo ke Level Rp17.699
-
Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
-
Ada Pelantikan di Istana Sore Ini, Pratikno Ngaku Dapat Undangan Mendadak
-
Update Reshuffle Kabinet Hari Ini: Menlu Sugiono Dikabarkan Diganti
Terkini
-
Kasus Asusila di Ponpes Sleman: Eks Pengurus Ditetapkan Tersangka, Keberadaannya Masih Misterius
-
Dari Pintu ke Pintu, Mantri BRI Dewi Natalia Bantu Pedagang Lampung Akses Pembiayaan
-
Anggaran Minim, BPBD DIY Geser Alokasi Atasi Bencana di Jogja
-
Indonesia Dikepung Lima Bencana, Jusuf Kalla Sebut Lingkungan Rusak oleh Kita Sendiri
-
5 Tahun Holding UMi, Sinergi BRI, Pegadaian, dan PNM Dorong UMKM Bertumbuh