- Harga daging ayam di pasar tradisional Yogyakarta turun menjadi Rp25 ribu hingga Rp30 ribu per kilogram saat libur sekolah.
- Penurunan harga terjadi karena penghentian sementara penyerapan pasokan ayam untuk program Makan Bergizi Gratis selama masa libur panjang.
- Pedagang dan masyarakat merasa lega dengan stabilitas harga ini meskipun volume pembeli belum menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan.
SuaraJogja.id - Liburnya program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama libur sekolah hingga beberapa minggu kedepan berdampak langsung terhadap harga daging ayam di sejumlah pasar tradisional di Yogyakarta.
Setelah melonjak hingga Rp40 ribu per kg saat program Presiden Prabowo Subianto itu diberlakukan, kini harga daging ayam turun drastis dan kembali berada di kisaran Rp25 ribu hingga Rp30 ribu per kg.
Alih-alih merugi, para pedagang juga merasa lega karena harga kembali normal. Bilamana tidak, saat harga tinggi akibat dimanfaatkan untuk MBG, banyak masyarakat yang mengurangi pembelian.
Pedagang daging ayam di Pasar Beringharjo, Ida, Selasa (30/6/2026) mengatakan harga daging ayam saat ini berada di kisaran Rp30 ribu per kg. Harga tersebut turun cukup tajam dibandingkan beberapa waktu lalu yang sempat mencapai Rp40 ribu per kg
"Pas sebelum libur itu sampai Rp37 ribu, bahkan hampir Rp40 ribu per kilogram. Sekarang baru sekitar seminggu ini turun lagi jadi Rp30 ribu," ujarnya.
Menurut Ida, mahalnya harga ayam beberapa waktu lalu tidak serta-merta membuat pendapatan pedagang meningkat. Justru sebaliknya, masyarakat cenderung mengurangi pembelian karena harga dianggap terlalu tinggi.
"Yang beli biasa saja, tidak banyak pengaruhnya. Kalau harga mahal orang beli seperlunya saja," katanya.
Pedagang yang telah berjualan selama sekitar 10 tahun itu menyebut, penjualan ayam di pasar juga dipengaruhi aktivitas mahasiswa dan pelaku usaha kuliner di Kota Yogyakarta. Saat masa libur kuliah, permintaan dari warung makan dan usaha kuliner biasanya ikut menurun.
"Kalau anak kuliah sudah masuk, warung makan biasanya ramai lagi dan penjualan ikut naik. Sekarang kan libur sekitar dua bulan, jadi memang ada pengaruhnya," ujarnya.
Baca Juga: Viral Debat Mahasiswa dan Rektorat UNY saat Hendak Gelar Aksi, Begini Kronologi Lengkapnya
Meski harga ayam turun, Ida mengaku jumlah pembeli belum mengalami peningkatan signifikan. Sebagian besar pembeli masih membeli dalam jumlah kecil atau eceran.
Dia berharap harga ayam ke depan dapat tetap stabil di kisaran Rp30 ribu hingga Rp32 ribu per kilogram sehingga tidak memberatkan masyarakat sekaligus tetap menguntungkan pedagang.
"Kalau stabil di Rp30 ribu sampai Rp32 ribu itu sudah bagus. Jangan terlalu mahal supaya pembeli juga tidak keberatan," katanya.
Sementara pedagang di Pasar Kranggan, Sarjio mengungkapkan, harga ayam saat ini sepenuhnya mengikuti harga ayam hidup dari peternak.
"Kalau bagi pedagang kan ikut harga ayamnya. Naik ikut naik, turun ikut turun," ujarnya.
Saat ini, kata Sarjio, harga ayam berada di angka Rp25 ribu per kg. Angka itu jauh lebih rendah dibandingkan beberapa bulan sebelumnya.
"Harga ayam sekarang Rp25 ribu per kilogram. Kalau dibandingkan kemarin ya turun banyak," katanya.
Ia menilai salah satu penyebab utama turunnya harga adalah berhentinya sementara penyerapan ayam untuk kebutuhan program MBG selama masa libur sekolah.
"Karena MBG tidak pakai lagi sementara ini karena libur. Sebagian besar yang mengonsumsi kan untuk MBG. Kalau MBG libur, otomatis ayamnya nganggur," ujarnya.
Akibat berkurangnya permintaan dalam jumlah besar tersebut, pasokan ayam di pasar menjadi berlimpah. Harga pun kembali turun ke level normal.
"Ya murah sekarang. Daripada tidak ada yang beli, akhirnya harganya turun," katanya.
Menurut Sarjio, harga Rp25 ribu per kg tersebut sudah berlangsung sekitar satu bulan terakhir. Meski harga lebih murah, jumlah pembeli ternyata tidak mengalami peningkatan yang berarti.
"Pembelinya tetap biasa saja," ujarnya.
Ia menjelaskan lonjakan pembelian biasanya terjadi ketika ada pesanan besar dari jasa katering. Selain itu saat memasuki musim hajatan dan perayaan tertentu.
"Kalau peningkatan pembeli biasanya kalau ada yang memakai banyak seperti katering atau momen-momen tertentu," katanya.
Namun memasuki bulan Suro, permintaan dari katering maupun hajatan justru cenderung menurun. Akibatnya pasar menjadi lebih sepi.
"Kalau Suro seperti ini sepi. Tidak banyak kondangan, jadi permintaan turun dan harga ya amblek," ujarnya.
Penurunan harga daging ayam ini juga disyukur para pembeli. Kondisi ini menjadi kabar menggembirakan karena mereka kembali bisa menikmati lauk ayam dengan harga yang lebih terjangkau.
Salah satunya Mamik, warga yang rutin berbelanja kebutuhan rumah tangga di Pasar Kranggan mengaku sempat berpikir dua kali untuk membeli ayam ketika harga menembus lebih dari Rp40 ribu per kilogram beberapa waktu lalu.
Saat itu ia hanya membeli dalam jumlah sedikit. Hal itu agar pengeluaran rumah tangga tidak terlalu besar.
"Waktu harganya di atas Rp40 ribu per kilogram saya mikir kalau mau beli ayam. Paling beli sedikit saja karena mahal," katanya.
Kini setelah harga kembali turun, ia merasa lebih lega karena bisa kembali menyediakan lauk ayam untuk keluarganya. Turunnya harga ayam menjadi angin segar di tengah tekanan biaya hidup yang masih dirasakan masyarakat.
"Sekarang bersyukur bisa beli ayam lagi dengan harga murah. Paling tidak bisa beli setengah kilogram untuk keluarga," imbuhnya.
Kontributor : Putu Ayu Palupi
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Diskon sampai 50 Persen di Sport Station, Mulai Rp500 Ribuan
- 10 Promo Sepatu Lari di Sports Station: Adidas, Reebok, dan New Balance Mulai Rp299 Ribuan
- 6 Sunscreen di Alfamart untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
Pilihan
-
Hakim Andi Sebut Nadiem Makarim Seharusnya Dibebaskan
-
Selain 10 Tahun Penjara, Nadiem Makarim Wajib Bayar Uang Pengganti Rp809,59 Miliar
-
Nadiem Makarim Divonis 10 Tahun Penjara!
-
Jangan Puji Pemerintah karena Kerja: Mengapa Publik Begitu Mudah Terpesona?
-
Kabar Duka! Legenda Persija Si Macan Betawi Tan Liong Houw Tutup Usia
Terkini
-
Program MBG Libur, Harga Daging di Pasar Jogja Turun Drastis, Pembeli Bisa Menikmati Ayam Murah Lagi
-
Konflik Timur Tengah Mereda, tapi Harga BBM Belum Tentu Turun di Indonesia, Ini Penjelasan Ekonom
-
Dugaan Malpraktik Balita di RSUD Prambanan: Polda DIY Periksa 14 Orang!
-
BRI Gelar CSR Pemberdayaan PMI, Cirebon Jadi Wilayah Prioritas
-
Duh! 142 Warga Bantul Kehilangan Pekerjaan, Efisiensi Berdampak PHK