Budi Arista Romadhoni | Hiskia Andika Weadcaksana
Kamis, 09 Juli 2026 | 20:05 WIB
Kunjungan PM India Narendra Modi ke Candi Prambanan, Rabu (8/7/2026) kemarin. (Dok: Kemenpar).
Baca 10 detik
  • Kementerian Pariwisata mendorong pembukaan penerbangan langsung dari India menuju Bandara Internasional Yogyakarta untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke Jawa Tengah.
  • Pemerintah mengusulkan insentif biaya pendaratan bagi maskapai dan rencana skema bebas visa kunjungan untuk mempermudah akses wisatawan asal India.
  • Kunjungan Perdana Menteri India ke Candi Prambanan dimanfaatkan sebagai momentum strategis memperkuat citra destinasi wisata budaya bagi wisatawan India.

SuaraJogja.id - Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mendorong pembukaan penerbangan langsung dari India menuju Yogyakarta International Airport (YIA). Hal ini sebagai upaya meningkatkan kunjungan wisatawan India ke Yogyakarta dan Jawa Tengah. 

Langkah itu mengemuka usai momentum kunjungan Perdana Menteri (PM) India, Narendra Modi ke Candi Prambanan, Rabu (8/7/2026) kemarin.

Menteri Pariwisata (Menpar) Republik Indonesia, Widiyanti Putri Wardhana menyatakan bahwa penguatan konektivitas udara menjadi salah satu fokus untuk memperluas akses wisatawan India. 

Selain berkoordinasi dengan pemerintah India terkait pembukaan rute ke YIA, Kemenpar turut mendorong Angkasa Pura memberikan insentif berupa pembebasan biaya pendaratan (landing fee) dan parkir pesawat (parking fee) pada periode tertentu.

"Ke depan, Kemenpar akan terus berupaya dan bekerja sama dengan berbagai pihak untuk menghadirkan paket wisata yang menarik sekaligus memperkuat konektivitas menuju Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah," kata Widiyanti melalui keterangan tertulis yang diterima Suara.com, Kamis (9/7/2026).

"Kami berharap semakin banyak wisatawan India mengunjungi destinasi pariwisata prioritas seperti Candi Prambanan, Borobudur, dan desa-desa wisata," imbuhnya.

Dorongan membuka rute langsung tersebut dilatarbelakangi tren kunjungan wisatawan India yang terus meningkat. Data Kemenpar mencatat sebanyak 298.450 wisatawan asal India berkunjung ke Indonesia pada Januari-Mei 2026.

Angka itu naik 0,40 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Dalam dua tahun terakhir, jumlah wisatawan India juga meningkat dari 606.439 kunjungan pada 2023 menjadi 734.490 kunjungan pada 2025.

Selain konektivitas, Kemenpar turut mengusulkan India masuk dalam skema Bebas Visa Kunjungan (BVK). Usulan tersebut masih dibahas di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian sebagai bagian dari upaya mempermudah wisatawan India berkunjung ke Indonesia.

Baca Juga: Tragedi Kecelakaan Maut di Jogja: Pemotor Tak Berhelm Tabrak Nenek 80 Tahun hingga Tewas

Di sisi promosi, Kemenpar memanfaatkan kunjungan Narendra Modi ke Candi Prambanan untuk meningkatkan eksposur destinasi budaya Indonesia di pasar India. 

"Melalui momentum kunjungan Perdana Menteri Modi, kami berharap dapat semakin memperkuat citra Indonesia sebagai destinasi pariwisata berkelas dunia di mata wisatawan India dan komunitas internasional," tandasnya.

Prambanan, kata Menpar, diposisikan sebagai salah satu destinasi utama selain Bali yang dinilai memiliki daya tarik kuat bagi wisatawan India, terutama pada segmen wisata budaya dan spiritual.

"Kami ingin menjadikan Prambanan sebagai salah satu jembatan penting dalam memperkuat hubungan pariwisata budaya dan spiritual antara Indonesia dan India. Bersama Bali, Prambanan memiliki kedekatan emosional dan spiritual yang kuat dengan wisatawan India," tuturnya.

Menurut Kemenpar, pengembangan pasar India tidak hanya mengandalkan promosi semata. Lebih dari itu tetap perlu didukung pengembangan agenda wisata seperti Siwaratri, Mahasiwaratri, Prambanan Shiwa Festival, dan Prambanan Jazz Festival yang diharapkan mampu menarik lebih banyak wisatawan mancanegara.

"Kami melihat kunjungan Perdana Menteri Modi ke Prambanan sebagai momentum yang sangat penting untuk memperkuat hubungan antar masyarakat atau people-to-people contact antara Indonesia dan India. Hubungan kedua negara bukan hanya hubungan diplomatik, tetapi juga hubungan budaya dan peradaban yang telah terbangun sejak lama," pungkasnya.

Load More