- Ratusan warga Dusun Kalidadap di Bantul bertahan dari kemarau panjang dengan menyedot selang air secara manual.
- Tradisi tanpa mesin sejak era 1970-an ini memanfaatkan prinsip gravitasi untuk mengalirkan air dari Sendang Wonosari.
- Warga mematuhi aturan pembagian waktu dan melestarikan lingkungan demi menjaga keberlanjutan sumber air bersih tersebut.
Gemericik kecil yang terdengar dari dalam selang menjadi pertanda bahwa kebutuhan air di rumahnya kembali terpenuhi.
Bagi Sagi, ritual itu harus dilakukan hingga tiga kali setiap hari.
Ketika ujung selang terangkat dari dasar bak atau permukaan air menurun karena dipakai mengairi sawah, aliran otomatis terputus dan harus diaktifkan kembali dengan cara disedot.
"Jadi kami harus memastikan ujung selang tetap tercelup ke dalam air. Kalau terangkat atau air surut, kami harus menyedotnya lagi," katanya.
Tanpa pompa listrik dan tanpa mesin, warga sepenuhnya mengandalkan prinsip gravitasi.
Setelah udara di dalam selang tersedot keluar, air akan mengalir sendiri menuju rumah-rumah yang berada lebih rendah dari posisi mata air.
Rumah Sagi berjarak sekitar 500 meter dari sendang. Untuk mengalirkan air hingga ke rumah, ia membutuhkan lima gulung selang, masing-masing sepanjang sekitar 100 meter.
"Saya hanya pasang sekitar lima gulung selang," ujarnya.
Bagi warga yang tinggal lebih jauh, perjuangannya tentu lebih berat.
Baca Juga: Ramai-ramai Pasang Pagar Tinggi, Pakuwon Mall Jogja Tepis Isu demi Keamanan
Parinah (67), misalnya, harus memasang hingga 11 gulung selang agar air bisa mencapai rumahnya yang berjarak sekitar satu kilometer. Setiap hari ia juga berjalan bolak-balik ke sendang hingga tiga kali hanya untuk memastikan air tetap mengalir.
Air itu menjadi penopang seluruh aktivitas rumah tangga, mulai dari memasak, mandi, mencuci pakaian, mencuci peralatan makan hingga kebutuhan minum keluarga.
"Saya menghabiskan 11 gulung selang. Masing-masing panjangnya sekitar 100 meter," katanya.
Cara sederhana itu ternyata telah diwariskan lintas generasi. Menurut Sagi, sistem distribusi air menggunakan selang telah digunakan warga sejak era 1970-an.
Dibanding harus memikul ember atau jeriken setiap hari dari mata air ke rumah, memasang selang dianggap jauh lebih ringan, meski tetap membutuhkan kedisiplinan untuk menjaga aliran air tetap hidup.
Namun, ada aturan yang dipatuhi bersama. Warga hanya boleh menyedot selang hingga sekitar pukul 14.30 WIB. Setelah pukul 15.00 WIB, aliran dari sendang dialihkan untuk mengairi sawah melalui pipa yang lebih besar.
Berita Terkait
Terpopuler
- Prabowo Mau Gratiskan Pendidikan SD hingga Universitas Negeri, Dananya dari Uang Korupsi
- Andre Taulany Resmi Nikahi Amanda Rigby, Mantan Istri Erin: Hamil Duluan Kali
- Viral Video Ulama Houthi Serukan Serangan ke Masjidil Haram dan Masjid Nabawi
- 6 HP Samsung Terbaik 2026! Mulai dari Kelas Flagship Hingga Entry-level
- Viral Foto Duduk Bareng, Terungkap 6 Momen Kedekatan Gubernur Sherly dan Ahmad Luthfi
Pilihan
-
Emil Audero dan 5 Pemain Tinggalkan Rayo Vallecano
-
WNI 18 Tahun Terancam Hukuman Mati di Malaysia: Ada Barbuk 25 Kg Sabu dan Heroin
-
Akhirnya Buka Suara Usai KPK Usut Korupsi di ATR/BPN, Ini Penjelasan Lengkap Nusron Wahid
-
Pria yang Tendang Perempuan di Senayan City Ditangkap Polisi!
-
Usut Dugaan Korupsi KSO Pertamina EP, Kejagung Geledah Kantor Setda hingga Bapenda Kota Bekasi
Terkini
-
Penonton Yogyakarta Bergidik Ngeri Saksikan Memburu Pemangsa, Jump Scare Picu Suasana Tegang
-
Prabowo Sebut Pakar Saking Pintarnya Jadi Goblok, Muhammadiyah Ingatkan Pakar Berbasis Ilmu dan Data
-
Muhammadiyah Sentil Menkeu Baru, Jangan Biarkan Rupiah Jatuh Terus
-
Polemik Royalti Musik, Pelaku Usaha Bingung, Pekerja Seni Menunggu Hak
-
Kasus Dugaan Kekerasan Seksual Bayi di Sleman Naik Sidik, Polisi Periksa 3 Saksi