Budi Arista Romadhoni | Hiskia Andika Weadcaksana
Sabtu, 08 Agustus 2026 | 15:57 WIB
Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Yogyakarta saat memadamkan salah satu kebakaran lahan pada 2 Agustus 2026 (dok: Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Yogyakarta).
Baca 10 detik
  • Dinas Damkarmat mencatat 42 kejadian kebakaran di Kota Yogyakarta dari Januari hingga Juli 2026.
  • Kepala Dinas menyebutkan cuaca panas kering dan aktivitas pembakaran sampah tanpa pengawasan memicu peningkatan kebakaran lahan.
  • Petugas berhasil memadamkan kebakaran lahan di Umbulharjo dan Gedongtengen pada Agustus 2026 tanpa adanya korban jiwa.

SuaraJogja.id - Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Yogyakarta mencatat tren peningkatan kebakaran dalam beberapa waktu terakhir. Sejak awal tahun hingga Juli 2026 saja, sudah ada 42 kejadian kebakaran yang terjadi di wilayah kota gudeg tersebut.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Yogyakarta, Taokhid menuturkan 5 kasus dari jumlah itu merupakan kebakaran lahan. Pada awal Agustus ada tambahan 2 kejadian kebakaran lahan di waktu hampir bersamaan pada Minggu (2/8/2026). 

"Ternyata pada musim kemarau cuaca panas kering ini ada indikasi peningkatan kasus kebakaran yang berkaitan dengan lahan. Indikasinya disebabkan karena membakar sampah tidak diawasi, yang kemudian merembet," kata Taokhid, dikutip, Sabtu (8/8/2026).

Kebakaran lahan beberapa waktu lalu itu tepatnya terjadi Muja Muju, Kemantren Umbulharjo pada area lahan seluas 32 meter persegi. Tak kurang dari 1 jam, kejadian kebakaran lahan seluas sekitar 56 meter persegi di area asrama di Pringgokusuman Kemantren Gedongtengen. 

Dua kejadian kebakaran lahan itu dapat dipadamkan petugas Damkarmat Kota Yogyakarta bersama personel Relawan Pemadam Kebakaran (REDKAR) dan partisipasi masyarakat sekitar.

Taokhid menyatakan tidak ada korban jiwa dalam kejadian 2 tersebut. Namun memang ada tanaman dan lahan yang ludes terbakar. 

Peristiwa itu tentu menjadi peringatan serius bagi seluruh masyarakat sebab jika lengkah bisa berdampak meluas ke permukiman masyarakat.

"Satu kejadian kebakaran lahan di lingkungan asrama. Tapi yang lain itu kebakaran lahan-lahan kosong. Pemilik tidak di tempat. Di kota kadang, lahan-lahan kosong tidak terurus, banyak tanaman liar, rumput liar tidak ada yang mengurus," terangnya.

Kondisi tersebut, kata Taokhid, kerap dimanfaatkan oknum tak bertanggung jawab untuk membuang sampah sembarangan. Belum lagi terkait aktivitas warga yang memilih untuk membakar rumput liar yang mengering. 

Baca Juga: Murah, Mudah Didapat, Sulit Ditinggalkan, Kisah Kelam Mantan Pengguna Obat Keras di Jogja

Ketika pembakaran sampah tidak diawasi dan terkena angin, api akan dengan mudah merembet ke rumpun bambu dan seketika langsung membesar.

"Cuaca yang panas kering ditambah angin ketika ada api, ada bara saja bisa cepat sekali kemudian timbul kerawanan kebakaran di lahan yang banyak rumput dan tanaman kering," ujarnya.

"Maka antisipasinya kami harap masyarakat tidak membakar sampah," tambahnya.

Dia menyampaikan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Yogyakarta terus melakukan edukasi dan sosialisasi ke masyarakat agar tidak membakar sampah atau apapun di lahan agar tidak memicu kebakaran lahan. 

"Jangan sampai kemudian melakukan pembakaran sampah di lahan lingkungan pemukiman. Di samping mengganggu lingkungan, juga berpotensi menimbulkan kerawanan kejadian kebakaran. Jangan sampai kemudian merembet ke bangunan dan menimbulkan dampak kerugian yang lebih besar," tegasnya.

Load More