- Ketua Dewan Pendidikan DIY Sutrisno Wibowo meminta pemerintah tidak gegabah mencetak ulang buku pelajaran pada Rabu, 12 Agustus 2026.
- Dewan Pendidikan DIY menyarankan pemerintah melakukan riset sampel di sekolah dan memanfaatkan buku elektronik untuk efisiensi anggaran.
- Ketua Komisi D DPRD DIY Dwi Wahyu menyatakan pencetakan ulang hanya karena ukuran huruf kecil dinilai tidak mendesak.
SuaraJogja.id - Rencana Presiden Prabowo Subianto melakukan pembenahan buku pelajaran dengan alasan ukuran huruf dinilai terlalu kecil menuai pro dan kontra. Di tengah kebijakan efisiensi anggaran, Dewan Pendidikan DIY meminta pemerintah tidak gegabah mengubah atau mencetak ulang buku sebelum memastikan persoalan tersebut benar-benar mendesak.
Ketua Dewan Pendidikan DIY, Sutrisno Wibowo di DPRD DIY, Rabu (12/8/2026) menilai persoalan ukuran font dalam buku pelajaran harus dilihat berdasarkan jenjang pendidikan. Ukuran huruf yang dianggap kecil pada buku SD belum tentu menjadi persoalan bagi siswa SMP maupun SMA.
"Kalau untuk SD, ukuran font mungkin memang perlu lebih besar. Tetapi kalau SMP dan SMA, saya kira buku yang sudah ada sudah cukup," ujarnya.
Menurutnya, ukuran font 10 atau 11 tidak otomatis berarti buku tersebut harus diganti. Standar umum memang menggunakan ukuran font 12, tetapi kondisi setiap buku dan kebutuhan peserta didik perlu dikaji terlebih dahulu.
Karenanya Sutrisno meminta pemerintah melakukan riset dengan mengambil sampel di sejumlah sekolah sebelum memutuskan kebijakan perubahan buku secara nasional.
"Harus ada kajian. Jadi tidak serta-merta. Ada riset sampel, mungkin beberapa sekolah. Dari hasil riset itu baru diambil kebijakan," tandasnya.
Ia mengingatkan, jika persoalan font yang relatif kecil langsung dijadikan alasan untuk mencetak ulang buku dalam jumlah besar, maka kebijakan tersebut justru berpotensi tidak sejalan dengan semangat efisiensi anggaran.
Sebab persoalannya bukan sekadar apakah pencetakan ulang merupakan pemborosan. Namun lebih dari itu apakah kebijakan tersebut memang memiliki urgensi yang kuat.
"Ini bukan semata-mata persoalan pemborosan anggaran, tetapi persoalan urgensi. Intinya riset dulu, jangan gegabah," katanya.
Baca Juga: 42 Kasus Kebakaran Tercatat hingga Juli 2026 di Kota Jogja, Warga Diminta Tak Bakar Sampah
Sutrisno menyebut ada alternatif di tengah kebutuhan pembaruan bahan ajar. Pemerintah dinilai tidak harus selalu mengandalkan buku fisik dan mencetak seluruh materi dalam jumlah besar.
Pemanfaatan buku elektronik atau ebook dinilai bisa menjadi pilihan untuk menekan biaya pencetakan. Selain itu menyesuaikan pola belajar generasi yang semakin akrab dengan perangkat digital.
"Buku di sekolah itu penting, tetapi tidak harus semua dicetak. Sekarang kita bisa menggunakan ebook, sebenarnya bisa lebih murah juga," ujarnya.
Menurut Sutrisno, laptop dan telepon pintar sudah menjadi perangkat yang lazim digunakan siswa. Karena itu, sebagian materi pembelajaran dapat disediakan dalam format digital, sementara buku fisik tetap dicetak secara terbatas untuk kebutuhan yang memang penting.
Ia menilai pemerintah perlu mulai membangun budaya membaca melalui buku digital. Digitalisasi buku pendidikan bukan hanya soal menghemat anggaran, tetapi juga menyesuaikan sistem pendidikan dengan perkembangan teknologi.
"Harus kita budayakan ebook. Karena sudah masanya sekarang seperti itu dan anak-anak sudah lebih tertarik membaca lewat elektronik," tandasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
- TNI Mau Ambil Alih Kamtibmas? TB Hasanuddin: Itu Tugas Polri
- 5 Pilihan HP Samsung RAM 12 GB Agustus 2026, Performa Ngebut Anti Lag
- Warga Teror Pekerja Stadion Sudiang, Pembangunan Tribun Selatan Terpaksa Ditinggalkan
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Jogja Fashion Week 2026: Panggung Kreativitas dan Regenerasi Desainer Muda
-
Bentangkan Merah Putih 1.000 Meter, Serukan Rakyat Masih Bersatu di Tengah Persoalan Bangsa
-
Hari UMKM Nasional, BRI Peduli Perkuat UMKM Desa Brilian melalui Pendampingan Berkelanjutan
-
Perusakan Makam Mertua Seniman Djaduk Berakhir Damai, Polisi Ungkap Alasan Juru Kunci
-
Prabowo Rombak Buku Pelajaran karena Font Kekecilan, Dewan Pendidikan DIY Sebut Tak Urgen