Rendy Adrikni Sadikin | Shevinna Putti Anggraeni
Rabu, 19 Agustus 2026 | 10:35 WIB
Acara GEMPAR di Pasar Ngino (Suara.com/Shevinna)
Baca 10 detik
  • Disperindag sukses menggelar Program GEMPAR di Pasar Ngino Sleman lewat pertunjukan seni.

  • Program GEMPAR di Pasar Ngino Sleman memadukan transaksi ekonomi dan pelestarian budaya.

  • Hasilnya, kunjungan melonjak dan Program GEMPAR di Pasar Ngino Sleman mendongkrak omzet.

SuaraJogja.id - Suasana Pasar Ngino di Kalurahan Margoagung, Kapanewon Seyegan, Sleman begitu meriah dengan digelarnya program GEMPAR (Gerakan Meramaikan Pasar Rakyat) pada Selasa (18/8/2026).

Suara gamelan khas kesenian Jathilan memecah keriuhan transaksi jual beli di Pasar Ngino sejak pukul 07.00 WIB. Para pedagang dan masyarakat sekitar pun semakin antusias dan memadati area Pasar Ngino ketika tim Jathilan Amita Dahayu turut memeriahkan acara pesta rakyat tersebut.

Tak hanya orang dewasa dan lansia, tak sedikit pula anak-anak yang ikut melihat penampilan tim Jathilan Amita Dahayu. Selain kesenian jathilan, acara ini juga turut dimeraihkan oleh sinden Anies Cethul yang turut mengajak warga untuk menyanyi dan berjoget bersamanya.

Acara bertajuk "Pasar Berbenah, Ekonomi Bergairah" yang diinisiasi oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sleman ini bertujuan untuk mengembalikan marwah pasar rakyat bukan sekadar tempat transaksi materi, melainkan juga sebagai pusat interaksi sosial dan pelestarian budaya.

Acara ini juga turut dihadiri oleh Aris Herbandang selaku Sekretaris Disperindag Kabupaten Sleman, Heru Suryadi selaku Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan Perdagangan Tradisional, Nur Fitri Handayani selaku Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sleman, dan Untung Basuki Rachmat selaku Tokoh Masyarakat Sleman.

Jathilan Amita Dahayu Meriahkan Acara GEMPAR di Pasar Ngino Sleman (Suara.com)

Pasar dan Budaya yang Tak Terpisahkan

Sekretaris Disperindag Kabupaten Sleman, Aris Herbandang, menjelaskan bahwa GEMPAR bukan sekadar acara seremonial, melainkan upaya untuk menyegarkan kembali fungsi pasar rakyat.

"Jadi GEMPAR itu sebetulnya sebuah upaya untuk merefresh kembali pasar. Bukan hanya sebagai tempat untuk berjual beli, tetapi juga melakukan aktivitas lain. Jadi, kegiatan budaya, kegiatan jual beli, kegiatan interaksi sosial itu juga terjadi di pasar," ujar Aris di lokasi acara, Selasa (18/8/2026).

Menurutnya, pasar tradisional di Yogyakarta, khususnya Sleman, memiliki keterikatan batin yang kuat dengan kebudayaan. Karena itu, menghidupkan pasar tidak bisa hanya dilakukan dengan pembangunan fisik semata tapi juga harus menyentuh sisi kulturalnya.

Baca Juga: JPU Ungkap Fakta Dugaan Anak Ditenggelamkan dalam Kasus Little Aresha

"Kita tidak bisa terlepas dari kegiatan budaya untuk kegiatan di pasar. Makanya, kita kalau mau membuat pasar ramai ya kita harus merevitalisasi kegiatan, selain mengubah secara fisik dan tata pasarnya. Salah satunya dengan melibatkan teman-teman paguyuban untuk menggalakkan budaya," tambahnya.

Aris menambahkan pemilihan waktu keramaian pasar yang didasarkan pada hari pasaran seperti Wage dan Legi di Pasar Ngino adalah bukti nyata bahwa aktivitas ekonomi lokal berakar pada budaya masyarakat.

"Pasar Ngino itu pasarannya Wage dan Legi. Artinya, ini masalah budaya. Pedagang akan berputar mencari pasar yang pasaran harinya ramai. Inilah yang kita kuatkan kembali melalui keterlibatan paguyuban untuk menggalakkan budaya di lingkungan pasar," tambahnya.

Jathilan Jadi Magnet Pengunjung

Kehadiran kesenian Jathilan dalam acara GEMPAR di Pasar Ngino menjadi daya tarik utama. Langkah ini diambil untuk mengulang memori masa lalu, di mana pasar juga berfungsi sebagai ruang rekreasi bagi warga sekitar.

Dengan adanya penampilan seni tradisional, diharapkan masyarakat kembali antusias untuk berkunjung ke pasar rakyat. Selain menyaksikan pertunjukan, warga didorong untuk kembali "nglarisi" atau berbelanja di lapak-lapak pedagang lokal.

Load More