Rendy Adrikni Sadikin | Shevinna Putti Anggraeni
Rabu, 19 Agustus 2026 | 19:28 WIB
Nur Fitri Handayani, Kepala Bappeda Sleman (Suara.com/Shevinna)
Baca 10 detik
  • Disperindag Sleman menggelar program GEMPAR di Pasar Ngino Sleman.

  • Pedagang Pasar Ngino didorong melek digitalisasi dan pembayaran QRIS.

  • Bappeda Sleman mewacanakan konsep pasar sore kuliner di Pasar Ngino.

Nur Fitri juga menyinggung keunggulan kekuatan branding kuliner khas yang mampu mendatangkan pembeli secara masif, seperti Jenang Upeh hingga Bebek Bacem di Pasar Ngino.

Melihat potensi tersebut, Bappeda membuka peluang untuk memperpanjang jam operasional pasar melalui konsep pasar sore.

"Pasar jangan berhenti di jam 2 siang. Kita dengan teman-teman dinas akan lihat, pasti kita akan cek segmennya cukup tidak, misalnya kita buat pasar sore yang khusus kuliner ikoniknya Ngino gitu. Kita akan buat kebiasaan bahwa nongkrong di pasar itu juga asik dan murah intinya," tuturnya.

Lebih jauh, keberadaan pasar tradisional dinilai memiliki peran strategis sebagai penstabil perekonomian daerah di tengah fluktuasi daya beli masyarakat.

"Kalau kami di Bappeda membuat desain-desain makronya. Menjaga daya beli pasar itu adalah penstabil inflasi sebenarnya. Inflasi itu bisa dijaga dengan adanya keberadaan pasar tradisional, karena ada proses tawar-menawar harga yang cocok," pungkasnya.

Melalui sinergi antara pemerintah daerah, pedagang, dan masyarakat lewat gerakan GEMPAR, Pasar Ngino diharapkan dapat terus berbenah menjadi pusat ekonomi lokal yang modern, inklusif, tanpa kehilangan daya tarik sosialnya.

Load More