- Aktivis sembilan puluhan Edi Khemod menyatakan situasi politik Indonesia kini menyerupai kondisi menjelang Reformasi.
- Pernyataan tersebut disampaikan di Yogyakarta pada hari Selasa tanggal dua puluh lima Agustus tahun dua ribu dua puluh enam.
- Edi menilai gerakan masyarakat sipil mampu menekan pemerintah namun harus didampingi oleh para pakar.
SuaraJogja.id - Aktivis '98 sekaligus drummer Seringai, Edi Khemod ikut buka suara terkait gejolak situasi sosial dan politik Indonesia saat ini. Berbagai gerakan yang dibungkam seperti pemblokiran rekening aktivis Pati hingga pembungkaman kebebasan berekspresi dan demokrasi menunjukkan pola yang mengingatkannya pada kondisi menjelang Reformasi 1998.
Edy bahkan mengaku tidak terkejut ketika berbagai persoalan sosial, aksi masyarakat sipil, hingga respons keras terhadap gerakan kembali muncul. Baginya, kondisi tersebut merupakan sesuatu yang sejak lama telah ia khawatirkan.
"Gue kalau ditanya situasi sekarang ya kayak gitu-gitu, enggak heran. Ini yang udah gue protes sejak dulu, terus kemudian sekarang terjadi," ujar Edy di Yogyakarta, Selasa (25/8/2026).
Menurut Edy, kekhawatiran tersebut bukan baru muncul belakangan. Ia mengaku telah menyuarakan persoalan serupa sejak menjadi mahasiswa pada 1998.
Karena itu, ketika situasi yang pernah dikhawatirkannya kembali muncul, Edy memilih tidak terkejut. Ia menilai kondisi saat ini justru menjadi pembuktian bahwa persoalan yang dulu ia kritik belum sepenuhnya selesai.
"Ketika sekarang rezimnya terjadi, ya jangan heran kalau itu terjadi. Jadi gue tuh bukan diam, tapi gue lebih ke, I know it. Gue tahu ini akan terjadi," tandasnya.
Ketika ditanya apakah ada kekhawatiran Indonesia kembali mengalami situasi seperti 1998, Edy justru menilai proses tersebut sudah berlangsung. Ia mengingat kembali pengalaman sebagai mahasiswa pada 1998.
"Loh, sedang? Maksudnya sedang kok ini. Kita lagi di dalam fase yang sama," ujarnya.
Edy juga menyinggung adanya tindakan kekerasan dalam merespons aksi. Sebut saja dalam insiden pelemparan batu terhadap rombongan bus warga Pati yang hendak berunjukrasa ke Jakarta.
Baca Juga: Film Animasi Indonesia Ajisaka Menuju Pasar Global, Sony Pictures hingga Netflix Mulai Melirik
Menurut dia, berbagai bentuk tekanan terhadap gerakan masyarakat bukan sesuatu yang mengejutkan. Ia mengaku sudah melihat pola tersebut sejak era mahasiswa.
"Kalau ini terjadi, ya jangan heran," katanya.
Menurutnya, masyarakat saat ini juga harus tetap berpegang pada nilai yang diyakini, terutama ketika menghadapi perubahan politik dan tekanan terhadap gerakan masyarakat sipil.
Menjaga konsistensi terhadap nilai yang diyakini menjadi hal penting. Ia mengaku prinsip tersebut tetap ia pegang hingga kini, meski telah berpindah dari aktivis mahasiswa menjadi musisi dan pembuat film saat ini
"Dulu kita waktu '98 menjalaninya, lolos. Ya kita jalanin aja sekarang. Gue cuma bisa percaya sama keyakinan gue. Gue jalan lurus. Dan itu yang gue lakukan sejak zaman gue mahasiswa '98," katanya.
Edy menambahkan berbagai gerakan masyarakat sipil yang belakangan muncul merupakan bentuk penting dari kontrol masyarakat terhadap negara. Ia mencontohkan gerakan masyarakat di Pati yang menurutnya menarik karena menunjukkan masyarakat sipil mampu memberikan tekanan terhadap pemerintah.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- 5 Lipstik Wardah yang Tahan Lama Saat Hujan dan Tidak Mudah Luntur Saat Makan
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Duh! 53 Orang Bunuh Diri di DIY, Depresi Jeratan Pinjol hingga Faktor Ekonomi Jadi Pemicu
-
Soroti Tata Kelola Negara, Emak-Emak di Yogyakarta: Remuk!
-
Menjaga Berkah di Dapur Subuh: Perjalanan Inspiratif Penjual Dimsum yang Berhasil Mandiri Finansial
-
Dugaan Ormas Dibenturkan dengan Demonstrans saat Kerusuhan Malioboro, Sultan Klaim Tak Tahu
-
Dua Peserta Demo di Malioboro Sempat Hilang, LBH Laporkan Sudah Pulang