Puso, 93 Hektare Tanaman Padi Gagal Panen di Bantul

Sawah yang mengalami puso karena kekeringan letaknya di daerah dataran tinggi dan tidak memiliki saluran irigasi teknis.

Chandra Iswinarno
Jum'at, 05 Juli 2019 | 14:41 WIB
Puso, 93 Hektare Tanaman Padi Gagal Panen di Bantul
Ilustrasi sawah kekeringan. [Antara]

SuaraJogja.id - Hingga saat ini, Pemerintah Kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mendata tanaman padi yang mengalami puso atau gagal panen akibat musim kemarau tahun ini, seluas 93 hektare.

Catatan tersebut disampaikan Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bantul. Lebih lanjut, Kasi Perbenihan dan Perlindungan Tanaman, Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan Bantul Umi Fauziah mengatakan ada laporan dari beberapa kecamatan terkait ancaman kekeringan pada lahan pertanian, bahkan diantaranya sudah mengalami puso.

"Total lahan pertanian yang puso seluas 93 hektare, di Pajangan ada lima hektare, Imogiri dua hektare, kemudian Dlingo seluas 85 hektare dan Kasihan satu hektare, kebanyakan yang kekeringan ini komoditas padi," katanya seperti dilansir Antara di Bantul, Jumat (5/7/2019).

Menurutnya, sawah yang mengalami puso karena kekeringan letaknya di daerah dataran tinggi dan tidak memiliki saluran irigasi teknis. Sehingga, praktis hanya mengandalkan air hujan.

Baca Juga:Jakarta Terancam Kekeringan Ekstrem sampai September 2019

"Seperti di Dlingo itu sebenarnya (sawah) sudah bisa dipanen karena umur padinya antara 80 sampai 85 hari, dan untuk musim tanam berikutnya mereka tidak dianjurkan untuk menanam padi, karena kebanyakan yang kekeringan ini komoditas padi," katanya.

Dia mengatakan di wilayah Kecamatan Sedayu sebenarnya ada ancaman kekeringan lahan pertanian, namun oleh petani masih bisa diantisipasi dengan mengambil air irigasi dari aliran Sungai Progo, meski mengeluarkan biaya operasional tinggi.

"Di Kecamatan Sedayu itu khususnya di daerah Cawan itu ada satu hamparan yang sudah tanam padi, namun umur tanam baru satu bulan terjadi kekwringan, tetapi dari kelompok tani mengambil langkah dengan cara mengambil air di Sungai Progo," katanya.

"Jarak antara sungai sama persawahan itu sebetulnya terlalu tinggi, jadi (untuk mengambil air) memerlukan bahan bakar yang banyak, namun petani sendiri untuk korbankan pertanian tidak mau karena umurnya sudah satu bulan," katanya.

Sementara itu, Kasi Pemasaran dan Pengolahan Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan Bantul Aribowo mengatakan sawah yang puso itu luasannya masih relatif kecil dibandingkan luasan tanam padi pada musim tanam periode Juni-Juli yang seluas 10.400 hektare.

Baca Juga:Kekeringan Ekstrem, 1.040 Hektare Padi di Ciamis Terancam Gagal Panen

"Kalau untuk tanaman lain (yang kekeringan) tidak ada, karena kalau untuk palawija seperti sayuran dan kedelai masih tahan. Memang sudah ada petani yang tanam palawija, tapi tidak bermasalah, beda dengan padi yang butuh banyak air," katanya. (Antara)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Seberapa Sehat Jam Tidurmu Selama Bulan Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Paling Cocok Jadi Takjil Apa saat Buka Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis: Jajal Seberapa Jawamu Lewat Tebak Kosakata Jatuh
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak