Sultan Khawatir Lava Lewat "Jalan Tol" jika Merapi Erupsi Besar

Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana
Sultan Khawatir Lava Lewat "Jalan Tol" jika Merapi Erupsi Besar
Gubernur DIY Sri Sultan HB X ditemui di Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Senin (27/1/2020).- (Suara.com/Putu)

Sultan pun meminta masyarakat di sekitar lereng Merapi untuk bisa memahami kondisi tersebut.

SuaraJogja.id - Pascaerupsi Gunung Merapi, Kamis (13/2/2020), Gubernur DIY Sri Sultan HB X meminta warga masyarakat lebih waspada jika suatu hari terjadi erupsi skala besar. Pasalnya, tidak ada lagi hutan di sekitar lereng Merapi.

Menurut Sultan, jika Merapi mengalami erupsi besar, tidak ada pepohonan yang bisa menghambat laju material dari puncak gunung, sehingga luncuran akan lebih cepat.

"Dengan adanya lava tour, berarti tidak ada hutan lagi, jadi nanti kalau lava besar itu keluar ya [seolah-olah] lewat "jalan tol" [bebas dari segala hambatan], karena tidak ada yang menganggu. Ora ming cepet [tidak hanya cepat], [tetapi] banter [sangat cepat]. Jadi, batunya ngglundhung, ya ora ana sing [batu menggelinding tidak ada yang] menahan," kata SUltan di Kompleks Kepatihan, Kamis, dilansir HarianJogja.com.

Sultan pun meminta masyarakat di sekitar lereng Merapi untuk bisa memahami kondisi tersebut, sekaligus mengharuskan mereka untuk meningkatkan kewaspadaan karena saat ini tidak ada lagi hutan seperti sebelum erupsi 2010 silam.

"Itu yang harus dipahami masyarakat Cangkringan. Jadi lebih waspada, harus hati-hati, kalau dulu kan masih ada hutan dan sebagainya, kalau sekarang kan enggak karena untuk lava tour," ucap Sultan.

Dalam imbauannya, Sultan juga menyinggung tak adanya hutan yang mengurangi pasokan air di lereng Merapi.

"Yang jelas di sana cari air susah, otomatis mata air susah didapat, saya kira begitu. Itu konsekuensi karena memang tidak memungkinkan untuk ada mata air karena tidak ada hutan lagi," tutur dia.

Gunung Merapi, yang berada di perbatasan Kabupaten Sleman dan Jawa Tengah, mengalami erupsi pada Kamis (13/2/2020) pukul 05:16 WIB, dengan tinggi kolom abu teramati ± 2000 meter di atas puncak. Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu, dengan intensitas sedang, ke arah barat laut.

Kepala BPPTKG Yogyakarta Hanik Humaida menjelaskan, sebelumnya pada periode September hingga November 2019, Merapi telah mengalami letusan sebanyak empat kali diiringi aktivitas kegempaan vulkanik dalam.

Kejadian letusan serupa, kata dia, diprediksi masih bakal terjadi sebagai indikasi bahwa suplai magma dari dapur magma masih berlangsung. Meski begitu, ia meminta masyarakat untuk tetap tenang dan beraktivitas seperti biasa, terutama mereka yang berada di luar radius 3 km dari puncak Gunung Merapi.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS