8 Fakta Dibalik Implementasi Pendidikan Khas Kejogjaan di Sekolah Yogyakarta

Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) akan berlaku di semua sekolah & PT DIY mulai 2026/2027. Ini integrasi karakter & tata krama Jogja, bukan mapel baru.

Budi Arista Romadhoni
Kamis, 26 Februari 2026 | 12:05 WIB
8 Fakta Dibalik Implementasi Pendidikan Khas Kejogjaan di Sekolah Yogyakarta
Ilustrasi Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ).
Baca 10 detik
  • Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) akan berlaku di seluruh jenjang pendidikan DIY mulai tahun ajaran 2026/2027 atas arahan Gubernur.
  • PKJ merupakan integrasi nilai karakter berbasis budaya Jogja, bukan mata pelajaran baru, yang telah diuji coba di 10 sekolah.
  • Kebijakan ini bertujuan menanamkan karakter ungguh-ungguh dan ngajeni kepada peserta didik hingga tingkat perguruan tinggi.

SuaraJogja.id - Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) dipastikan akan diberlakukan di seluruh sekolah dan perguruan tinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mulai tahun ajaran 2026/2027. Kebijakan ini merupakan arahan langsung Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, usai pertemuan dengan Dewan Pendidikan DIY di Gedhong Wilis, Kompleks Kepatihan, Senin (23/2/2026).

Program ini bukan sekadar tambahan kurikulum baru. PKJ dirancang sebagai penguatan karakter berbasis nilai-nilai khas Jogja yang selama ini menjadi identitas budaya masyarakat DIY. Berikut penjelasan lengkap mengenai delapan poin penting terkait penerapan PKJ.

1. Arahan Langsung Sri Sultan HB X

Ketua Dewan Pendidikan DIY, Sutrisna Wibawa, menjelaskan bahwa pertemuan tersebut digelar untuk melaporkan pelaksanaan uji coba PKJ yang sudah berjalan sejak 2024 di sejumlah sekolah.

Baca Juga:Meski Dana BOS Belum Cair, Sekolah Jalankan SE Pengecatan dan Pemasangan Foto Bupati Kulon Progo

Dalam pertemuan itu, Sri Sultan meminta agar program tersebut segera diberlakukan secara menyeluruh.

“Diminta untuk segera ada peresmian untuk dilakukan di semua sekolah, mulai dari tingkat PAUD, SD, SMP, SMA/SMK dan juga perguruan tinggi,” ujar Sutrisna.

Arahan tersebut menandai komitmen pemerintah daerah untuk memperluas penerapan PKJ ke seluruh jenjang pendidikan.

2. Efektif Berlaku Tahun Ajaran 2026/2027

PKJ ditargetkan mulai efektif diterapkan di seluruh sekolah DIY pada tahun akademik 2026/2027. Peresmian atau “kepyakan” direncanakan berlangsung antara April hingga Mei 2026, sebelum resmi diberlakukan pada Juli 2026.

Baca Juga:Royal Ambarrukmo Hadirkan 'Kampoeng Ramadhan Ambarrukmo' dengan Menu Buka Puasa Spesial

Dengan demikian, seluruh lembaga pendidikan di DIY akan menjalankan kebijakan ini secara serentak, dari pendidikan anak usia dini hingga perguruan tinggi.

3. Bukan Mata Pelajaran Baru

Salah satu hal yang ditekankan adalah PKJ bukan mata pelajaran tambahan yang berdiri sendiri.

“PKJ itu implementasi terintegrasi pada mata pelajaran terkait. Jadi PKJ bukan mata pelajaran, lebih ke perilakunya,” jelas Sutrisna.

Artinya, tidak ada tambahan jam pelajaran khusus. PKJ lebih merupakan pendekatan nilai yang disisipkan dalam mata pelajaran yang sudah ada.

4. Menanamkan Karakter dan Tata Krama Jogja

PKJ berfokus pada pendidikan karakter berbasis budaya lokal. Konsep utama yang diangkat adalah “ngajeni”, yaitu sikap menghormati dengan tata krama atau unggah-ungguh khas Yogyakarta.

“Kita juga sudah me-launching video ngajeni, jadi bagaimana murid harus berperilaku, perilaku menghormati,” ungkap Sutrisna.

Melalui pendekatan ini, peserta didik diharapkan tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki sikap santun, menghargai orang lain, serta memahami nilai budaya daerahnya.

5. Sudah Diuji Coba di 10 Sekolah

Sebelum diterapkan secara luas, PKJ telah diuji coba sejak 2024 di 10 sekolah di DIY dengan melibatkan sekitar 300 siswa.

Evaluasi dilakukan menggunakan indikator pengukuran karakter dengan skala 1 hingga 5. Hasilnya menunjukkan dampak positif.

“Rerata nilai sikap 4,1 dari nilai 1–5. Artinya ini sudah bagus,” kata Sutrisna.

Nilai rata-rata tersebut menjadi dasar bahwa PKJ dinilai layak untuk diterapkan secara menyeluruh di seluruh sekolah.

6. Disisipkan dalam Berbagai Mata Pelajaran

PKJ tidak berdiri sendiri sebagai pelajaran khusus. Nilai-nilai khas Jogja akan diintegrasikan ke berbagai mata pelajaran.

Bahasa Jawa menjadi salah satu ruang yang paling mudah untuk menyisipkan nilai budaya. Namun, materi PKJ juga dapat dimasukkan dalam Pendidikan Agama, terutama saat membahas filosofi “sangkan paraning dumadi”, yang mengajarkan tentang asal-usul dan tujuan hidup manusia.

Selain itu, Bahasa Indonesia dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) juga dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan wacana dan nilai ke-Jogja-an kepada siswa.

7. Tindak Lanjut Gagasan Sejak 2019

Perumusan PKJ merupakan tindak lanjut dari pidato Gubernur DIY pada 2019 mengenai pentingnya pendidikan khas kebudayaan.

DIY sebagai daerah dengan status keistimewaan memiliki kekhasan budaya yang ingin terus dijaga. PKJ menjadi bentuk konkret untuk memastikan bahwa sistem pendidikan tetap berakar pada identitas lokal, tanpa mengabaikan perkembangan zaman.

8. Berlaku Hingga Perguruan Tinggi

Penerapan PKJ tidak hanya terbatas pada pendidikan dasar dan menengah. Perguruan tinggi di DIY juga akan menerapkan program ini.

Nilai-nilai khas Jogja direncanakan masuk sejak masa pengenalan kampus bagi mahasiswa baru. Dengan demikian, seluruh generasi muda DIY akan mendapatkan penguatan karakter berbasis kearifan lokal sejak dini hingga jenjang pendidikan tinggi.

Menguatkan Identitas di Tengah Globalisasi

Penerapan PKJ memunculkan diskusi luas di masyarakat. Di tengah derasnya arus digitalisasi dan globalisasi, pendidikan berbasis kearifan lokal dinilai penting untuk menjaga identitas budaya.

Nilai-nilai seperti unggah-ungguh, ngajeni, serta filosofi sangkan paraning dumadi dianggap relevan untuk membangun karakter generasi muda yang berakar pada budaya sendiri.

Di sisi lain, muncul pula pertanyaan mengenai efektivitas implementasinya. Apakah integrasi nilai budaya dalam mata pelajaran akan benar-benar membentuk karakter siswa? Atau justru berpotensi menjadi pendekatan yang kurang terasa dalam praktik sehari-hari?

Bagi Dewan Pendidikan DIY, hasil uji coba menunjukkan dampak yang cukup meyakinkan.

“Karena itu kami pun merasa sekolah lain perlu untuk melaksanakannya juga,” ujar Sutrisna.

Kebijakan ini bukan hanya soal perubahan pendekatan pembelajaran, tetapi tentang arah masa depan generasi DIY. PKJ diharapkan mampu melahirkan peserta didik yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter kuat yang mencerminkan nilai-nilai Jogja.

Mulai tahun ajaran 2026/2027, wajah pendidikan di DIY akan semakin menegaskan identitas budaya sebagai bagian penting dalam membentuk generasi masa depan.

Kontributor : Dinar Oktarini

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Seberapa Sehat Jam Tidurmu Selama Bulan Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Paling Cocok Jadi Takjil Apa saat Buka Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis: Jajal Seberapa Jawamu Lewat Tebak Kosakata Jatuh
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tebak Jokes Bapak-bapak, Cek Seberapa Lucu Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Matematika Kelas 9 SMP Materi Statistika dan Peluang
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Bahasa Indonesia Kelas 9 SMP dengan Kunci Jawaban dan Penjelasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Fiksi dan Eksposisi dengan Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak