- Penyandang disabilitas di Yogyakarta menghadapi kendala aksesibilitas dan minimnya informasi rinci saat mengunjungi kawasan wisata sejarah Tamansari.
- Komunitas difabel mendesak penyediaan panduan multisensori, bahasa isyarat, serta detail navigasi ruang agar wisata lebih inklusif dan aman.
- Pihak Keraton Yogyakarta mulai menghadirkan audio guide, video bahasa isyarat, dan dokumen Braille untuk mendukung wisata yang setara.
SuaraJogja.id - Bagi sebagian besar wisatawan, kawasan wisata sejarah seperti Tamansari mungkin hanya soal lorong estetik, spot foto, dan jejak romantisme masa lalu Kesultanan Yogyakarta.
Namun bagi kaum difabel, perjalanan ke lokasi wisata sering kali berubah menjadi pengalaman penuh kecemasan, benturan fisik hingga kebingungan akibat minimnya informasi aksesibilitas.
Tangga tanpa penanda, lorong rendah tanpa peringatan, jalur sempit, hingga ketiadaan pemandu bahasa isyarat masih menjadi kenyataan sehari-hari yang dihadapi penyandang disabilitas saat mengunjungi banyak kawasan wisata di Yogyakarta.
"Sering kali sistem layanan hanya memikirkan visual dan estetika tempat wisata, tapi lupa bahwa ada pengunjung yang membutuhkan informasi akses secara detail," ujar salah seorang difabel tunanetra, Taufiq dalam forum "Multisensori Inklusif: Menuju Pariwisata Budaya yang Aksesibel di Tamansari" di Yogyakarta, Jumat (22/5/2026).
Baca Juga:Jogja Darurat Pendidikan: 5.023 Anak Putus Sekolah, Nasib Guru Honorer di Ujung Tanduk
Bagi wisatawan tunanetra, persoalan paling mendasar justru bukan sekadar akses masuk, melainkan minimnya informasi rinci tentang kondisi medan yang akan dilalui.

Taufiq mengaku sering mengalami kesulitan karena penjelasan yang tersedia terlalu umum dan tidak menggambarkan kondisi nyata di lapangan.
"Misalnya sebelum sampai titik tertentu ada penjelasan 20 langkah lagi akan ada tangga setinggi sekitar 15 sentimeter atau ada dua anak tangga. Jadi kami bisa bersiap," jelasnya.
Ia menuturkan, wisatawan difabel netra membutuhkan deskripsi yang jauh lebih detail dibanding pengunjung umum. Informasi seperti tinggi anak tangga, bentuk lorong, posisi pintu rendah, hingga permukaan lantai sangat penting untuk menghindari benturan dan kecelakaan saat berjalan mandiri alih-alih informasi yang estetis.
“Kalau ada pintu yang rendah atau lorong sempit sebaiknya dijelaskan sebelumnya. Itu membantu kami menyiapkan posisi tubuh dan lebih aman," katanya.
Baca Juga:Rupiah Tembus Rp17.600, Aisyiyah: Pernyataan Prabowo 'Desa Tak Butuh Dolar' Cederai Rakyat
Selama ini, banyak fasilitas wisata disebut hanya mengejar tampilan artistik tanpa memikirkan bagaimana ruang tersebut dapat diakses oleh semua kalangan. Audio penjelasan yang tersedia pun kerap lebih fokus pada cerita sejarah dibanding membantu orientasi ruang bagi penyandang disabilitas.
Tak hanya tunanetra, wisatawan tuli juga menghadapi persoalan serupa. Salah teman tuli, Jaka mengaku selama ini lebih sering mengandalkan pencarian informasi di internet. Sebab hampir tidak pernah tersedia pemandu wisata yang menguasai bahasa isyarat.
"Biasanya kami cari sendiri di Google. Kalau ada video atau penjelasan visual itu lebih membantu," ujarnya.
Kondisi itu membuat banyak wisatawan tuli kesulitan memahami konteks sejarah maupun alur wisata ketika berkunjung ke situs budaya. Mereka hanya bisa menikmati bangunan secara visual tanpa benar-benar memahami cerita yang ingin disampaikan.
Karena itu, komunitas tuli mengusulkan agar setiap lokasi wisata memiliki video penjelasan bahasa isyarat yang dapat diakses melalui kode QR. Selain itu adanya pemandu wisata yang mampu berkomunikasi langsung dengan pengunjung tuli.
"Kalau ada video bahasa isyarat yang bisa di-scan lewat ponsel tentu akan sangat membantu," katanya.