Wisata Kolaps, Perajin Tas banting Setir Buat APD dan Face Shield

M Nurhadi | Hiskia Andika Weadcaksana
Wisata Kolaps, Perajin Tas banting Setir Buat APD dan Face Shield
Yulianto sedang membuat baju hazmat di rumahnya yang berada di Dusun Taruban Kulon, Tuksono, Kapanewon Sentolo, Senin, (18/5/2020). [Suarajogja.id / Hiskia Andika]

"Sejak ada corona ini kan pasar dan tempat wisata pada tutup jadi ngga ada pemasukan dari jual tas-tas ini terus ada yang nyuruh bikin APD dan face shield aja," ujar Yulianto.

SuaraJogja.id - Pandemi COVID-19 yang masih membayangi aktivitas masyarakat menyebabkan pasar dan sejumlah tempat wisata tutup untuk sementara waktu. Hal ini membuat perajin pernak-pernik seperti tas, baju dan yang lainnya mau tidak mau harus memutar otak lebih keras agar usahanya tetap berjalan.

Salah satunya home Industri tas dan pernak-pernik milik Yulianto yang berada di Dusun Taruban Kulon, Tuksono, Kapanewon Sentolo. Usahanya semula adalah memproduksi tas dari bahan batik dan benang rajut, namun belakangan ia memutuskan untuk beralih memproduksi baju hazmat dan face shield.

"Sejak ada corona ini kan pasar dan tempat wisata pada tutup jadi ngga ada pemasukan dari jual tas-tas ini terus ada yang nyuruh bikin APD dan face shield aja," ujar Yulianto, Senin, (18/5/2020).

Sampai saat ini, sudah lebih dari 100 buah baju hazmat dan sekitar 3000 buah face shield diproduksi olehnya. Yulianto mengaku, saat ini hanya mengerjakan pesanan dalam jumlah banyak saja yang kebanyakan didistribusikan ke Jogja dan Bandung.

Yulianto mengatakan, dalam proses pembuatannya, rata-rata perorang bisa memproduksi hingga 10 baju hazmat dalam sehari. Sekurang-kurangnya, ada 15 orang yang membantu Yulianto dalam pembuatannya.

"Iya kurang lebih bisa sampai 100 buah lebih dalam produksinya sehari," ungkapnya.

Bahan yang digunakannya dalam membuat hazmat tersebut adalah spunbond yang dibedakan menurut beratnya, ada yang 75 gram dan 50 gram. Bahan ini biasanya hanya bisa digunakan untuk sekali pakai.

Ia juga melayani apabila ada pihak yang ingin membeli baju hazmat dengan partai kecil. Per baju hazmat ia hargai Rp80.000 sedangkan untuk face shield perbuahnya dihargai Rp.25.000.

Pihaknya mengakui, awalnya ia dan beberapa rekannya sempat kesulitan untuk beradaptasi atau membiasakan diri untuk membuat baju hazmat dan face shield tersebut. Namun, seiring berjalannya waktu ia dan karyawannya sudah semakin terbiasa dalam menemukan pola yang sesuai.

"Awalnya sulit, tukangnya juga masih lama. Satu hari hanya dapat lima buah, lalu pas sudah tau cara dan langkahnya jadi makin lancar dan bisa tambah hasilnya," imbuhnya.

Kesulitan lainnya ada pada bahan baku pembuatannya sendiri. Hal tersebut, Yulianto menyebut, kemungkinan terjadi karena banyaknya permintaan sehingga bahan baku susah untuk ditemukan.

"Kemarin itu, agak sulit nyarinya. Kalau sekarang sudah ada namun untuk permintaan banyak tetap harus pesan jauh-jauh hari dulu," tandasnya.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS