Membebaskan Pendidikan Lewat Pembelajaran yang Kontekstual

Pendidikan yang membebaskan juga harus membuat peserta didik memahami permasalahan yang ada di sekitarnya

Rendy Adrikni Sadikin | Fitri Asta Pramesti
Kamis, 02 Juli 2020 | 11:54 WIB
Membebaskan Pendidikan Lewat Pembelajaran yang Kontekstual
Direktur Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus Kemendikbud Dr. Samto

SuaraJogja.id - Sistem pendidikan Indonesia yang kental dengan penyeragaman memunculkan keresahan akan terhambatnya daya kreativitas yang penting untuk menjawab beraneka permasalahan di masyarakat.

Direktur Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus Kemendikbud Dr. Samto, mengatakan pendidikan harusnya memicu individu untuk mengenali dirinya sendiri dan memahami realitas.

Pernyataan tersebut disampaikan pada Samto pada Kongres Kebudayaan Desa yang digelar melalui webinar, berpusat di Desa Panggungharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta, Kamis (2/7/2020), menyoroti paradigma pendidikan urban terkait pendidikan yang membebaskan.

Samto menyoal bagaimana pendidikan urban yang dikenal selama ini telah menyeragamkan peserta didik, termasuk apa yang harus dipelajari. Padahal, tiap individu akan memiliki permasalahan yang berbeda.

Baca Juga:Akankah Perekonomian Membaik di Era New Normal?

Pendidikan urban, di mana sistem ini cenderung memberikan hal yang sama, disebutkan dapat menumpulkan kreativitas. Sebab, kreativitas datang dari pikiran yang merdeka.

Alih-alih menerapkan pendidikan yang menyeragamkan, Samto mengatakan pembelajaran kontekstual merupakan langkah yang lebih tepat untuk menyiapkan peserta didik menjawab tantangan kehidupan.

"Pembelajaran kontekstual mengajak masyarakat memahami dirinya dan apa yang ada di sekitarnya," ujar Samto.

"Misalkan masyarakat Wonogiri dengan desa yang tandus, harus belajar bagaimana terkait pengairan yang desa yang efisien," sambungnya.

Pendidikan yang membebaskan juga harus membuat peserta didik memahami permasalahan yang ada di sekitarnya. Sehingga memicu untuk berpikir kritis hingga nantinya memecahkan masalah tersebut.

Untuk menjawab beragam tantangan kehidupan, Samto menyebut tidak bisa hanya mengandalkan kompetensi akademik. Tetapi juga membutuhkan kompetensi komunikasi, kolaborasi, berpikir kritis dan kreativitas.

Baca Juga:IBF 2020 : Pola Konsumsi dan Perilaku Pasar Tak Berubah Pasca Pandemi

Sekadar informasi, webinar seri 3 Kongres Kebudayaan Desa yang digelar pada Kamis (2/7) berupaya mengulik pemasalahan pendidikan dan menawarkan pendidikan alternatif. Mulai dari bagaimana cara memulai pendidikan yang membabaskan dari tataran desa.

Hingga apa saja syarat yang dibutuhkan untuk membangun pendidikan yang mendukung nilai-nilai luhur, seperti kejujuran dan budaya anti korupsi. Karena, pendidikan butuh peran aktif orangtua dan masyarakat. Mereka tidak bisa sekadar menitipkan anaknya di sekolah lalu lepas tangan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak