Prihatin Kasus Covid-19, Aliansi Jaga Jogja Minta Masyarakat Jangan Terlena

Galih Priatmojo
Prihatin Kasus Covid-19, Aliansi Jaga Jogja Minta Masyarakat Jangan Terlena
Aliansi Jaga Jogja ingatkan masyarakat DIY akan bahaya Covid-19 yang masih terus mengancam lewat banner besar di Tugu Golong Gilig atau dikenal Tugu Jogja, Sabtu (1/8/2020). [Dok. Aliansi Jaga Jogja]

Gerakan ini disertai pemasangan banner peringatan "aja lena, aja sembrana" di salah satu ikon Jogja yakni Tugu Golong Gilig atau dikenal Tugu Jogja

SuaraJogja.id - Beberapa waktu lalu Provinsi DIY sempat mendapat pujian dari Presiden Jokowi atas keberhasilannya meredam dan menangani penyebaran pandemi Covid-19

Namun, seiring dilonggarkannya PSBB di sejumlah wilayah, hal tersebut nyatanya turut memengaruhi tingkat kewaspadaan masyarakat di DIY. Hal itu tampak dari tingkat kepatuhan yang menurun dalam menerapkan protokol kesehatan.

Efeknya, dalam beberapa pekan terakhir, jumlah kasus positif Covid-19 di DIY terus mengalami peningkatan secara signifikan.

Berangkat dari keresahan tersebut sejumlah elemen masyarakat pun membentuk aliansi untuk bergotong-royong menjaga Jogja.

Juru bicara aliansi, Nurholis Majid yang juga Korwil Mafindo Yogyakarta, menjelaskan,”Aliansi ini terdiri dari berbagai elemen masyarakat Jogja yang memiliki kesadaran bahwa upaya untuk menahan dampak pandemi COVID-19 adalah upaya berkelanjutan hingga nanti pandemi ini enyah dari Bumi Pertiwi.

"Sebelum pandemi ini nyata-nyata punah, maka masyarakat Jogja akan terus mempertahankan kewaspadaan dengan menjaga sikap aja lena, aja sembrana," katanya seperti rilis yang diterima SuaraJogja, Sabtu (1/8/2020).

Ada lebih dari 20 lembaga yang bergabung di antaranya, MAFINDO Yogyakarta, AJI Yogyakarta, LKK PWNU DIY, Sentra Advokasi Perempuan Difabel dan Anak (SAPDA), GP Ansor DIY, GERKATIN DIY, Gerkatin Kabupaten Sleman, Rumah Perubahan LPP, PR2Media, Perkumpulan Sinergi Sehat Indonesia (PSSI), Rifka Annisa, MIK UAJY, Yayasan Dinamika Edukasi Dasar, Sekretariat Anak Merdeka Indonesia (SAMIN), Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB), Himmikom Atmajaya, Jogja Sehat Tanpa Tembakau (JSTT), Ikatan Sarjana Katholik Indonesia (ISKA) DIY, DEMA FISHUM UIN Sunan Kalijaga, PUSBISINDO, GEMAYOMI, dan KKPKC KAS

"Ada kawan-kawan aktivis, akademisi, jurnalis, profesional, dan mahasiswa yang tergabung dalam gerakan ini. Sebagai gerakan terbuka dan non partisan, diharapkan aliansi ini mampu berkontribusi untuk menggerakkan semangat gotong-royong antara elemen masyarakat, instansi pemerintah, tokoh masyarakat, tetua agama, media massa dan organisasi masyarakat sipil. Kami akan terus melakukan gethok-tular mengajak masyarakat Jogja saling menjaga, patuh pada protokol kesehatan seperti menggunakan masker di ruang publik, rajin mencuci tangan, menjaga jarak fisik, dan menghindari keramaian. Intinya PHBS plus," sambung Nurholis.

Ketua Presidium MAFINDO, Septiaji Eko Nugroho, menjelaskan bahwa aliansi ini juga akan berperan untuk memerangi infodemi, yaitu kabar bohong yang mengikuti pandemi COVID-19, dan tidak kalah berbahaya dibanding virusnya sendiri. Infodemi ini ditengarai menjadi salah satu penyebab turunnya ketidakpatuhan masyarakat, bahkan di beberapa tempat memicu ketidakpercayaan dan intimidasi kepada tenaga kesehatan dan rumah sakit.

"Infodemi ini menimbulkan problem besar tidak hanya di Indonesia. Gelombang penolakan masker di Amerika hingga pembakaran tower 5G di Inggris diperparah dengan maraknya hoaks dan teori konspirasi. Indonesia pun kebanjiran infodemi berupa hoaks dan teori konspirasi dengan jumlah yang sangat besar, hampir 100 topik setiap bulan, dan kita patut berjuang untuk memerdekakan masyarakat dari penyakit informasi ini supaya mereka bisa mengambil keputusan atas informasi yang benar," jelas Septiaji.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS