Indeks Terpopuler News Lifestyle

Selama Lima Bulan Pandemi, DLH Kota Jogja Sebut Kualitas Udara Relatif Baik

Chandra Iswinarno | Muhammad Ilham Baktora Rabu, 05 Agustus 2020 | 23:54 WIB

Selama Lima Bulan Pandemi, DLH Kota Jogja Sebut Kualitas Udara Relatif Baik
Suasana malioboro pascaramai sejak akhir pekan kemarin, Senin (8/6/2020). [Muhammad Ilham Baktora / SuaraJogja.id]

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta Suyana menjelaskan, menurunnya aktivitas masyarakat akan berdampak terhadap kualitas udara.

SuaraJogja.id - Setelah lima bulan Kota Yogyakarta dilanda Virus Covid-19, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) setempat mengungkapkan kualitas udara berada dalam kondisi baik.

Hal tersebut dimungkinkan terjadi lantaran aktivitas masyarakat Yogyakarta berkurang banyak dalam beberapa bulan terakhir.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta Suyana menjelaskan, menurunnya aktivitas masyarakat akan berdampak terhadap kualitas udara. Seperti halnya, penggunaan kendaraan bermotor di jalan-jalan umum yang terpantau tidak terlalu padat.

"Seperti aktivitas masyarakat yang keluar dengan motor maupun mobil kemana-mana. Jogja juga tidak ada kemacetan, semua lancar. Artinya, traffic juga tidak padat dan berimbas kepada meningkatnya kualitas udara yang membaik," ujar Suyana dihubungi wartawan, Rabu (5/8/2020). 

Berdasarkan hasil pemantauan kualitas udara di sejumlah titik, hasilnya menunjukkan jika kualitas udara di wilayah Kota Yogyakarta berada di warna hijau. Artinya, kualitas udara bagus. 

"Kami mengambil sampel di banyak tempat, seperti di lokasi yang lalu lintasnya tinggi seperti di Tugu Pal Putih, Malioboro, Titik Nol, tempat parkir Senopati. Jika kepadatan rendah seperti di perumahan, perkantoran. Bahkan, tempat yang menjadi wilayah industri juga kami ambil. Kemudian kami buat rata-ratanya," jelasnya. 

Indikator yang digunakan oleh DLH Kota Yogyakarta sendiri adalah warna. Jika warna hijau berarti baik. Sedangkan, kuning artinya sedang. Adapun warna jingga sendiri yang artinya tidak sehat untuk masyarakat rentan. Terakhir, warna merah yang berarti tidak sehat. 

"Sejak aktivitas masyarakat dikurangi Maret lalu itu semua warnanya hijau. Masyarakat kan diimbau untuk tidak keluar rumah. Kemudian, tempat wisata juga tidak ada pengunjungnya. Traffic (lalu lintas di jalan raya) juga rendah. Kualitas udara juga menjadi bagus," jelas Suyana.

Meskipun aktivitas masyarakat di wilayah kota Jogja kembali bergeliat. Seperti, jumlah kendaraan bermotor yang kembali ramai dan lumayan padat di jam-jam tertentu, hal tersebut tidak berdampak terhadap kualitas udara. 

"Saya kira yang paling memberikan andil terhadap kualitas udara di wilayah kota Jogja adalah masyarakat yang berasal dari wilayah luar kota Jogja. Itu yang memberikan andil paling besar terhadap kualitas udara. Karena nanti kan pasti akan crowded. Sekarang masih hijau dan dibawah ambang batas semua," katanya.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait