SuaraJogja.id - Seorang perempuan bernama Emmanuella Tanzil, yang tinggal di Liverpool, Inggris mencari orang tua biologisnya yang disebutnya warga Sleman, DI Yogyakarta. Diadopsi sejak berusia delapan bulan, ia ingin bisa menemui orang tua kandungnya.
Melalui akun Twitter-nya, Emanuella menyampaikan bahwa saat kelas 6 SD sempat ada teman yang mengatakan dirinya tidak mirip dengan kedua orang tuanya. Ia memiliki warna kulit gelap, sementara orang tuanya berkulit terang. Saat itu, ia mengaku mirip dengan neneknya yang memiliki darah Yogyakarta.
"Saya gak pernah tanya orangtua kenapa saya beda. Percaya saya mirip nenek. Tapi moment itu yang buat saya mikir," tulis @EmmanuellaTanz1 dalam utasnya.
Saat kelas 1 SMP, ia membongkar lemari ibu yang dipanggilnya "mami". Emanuella menemukan foto ibunya pada Juli 1985, yang seharusnya tengah mengandung, tetapi malah perutnya rata. Pada momen tersebut, Emanuella baru menyadari bahwa ia bukanlah anak biologis dari kedua orang tuanya di Inggris.
Baca Juga:Beredar Surat Protes Warga soal Ucapan Natal di Kampung Kauman Yogyakarta
Namun dia tidak pernah menanyakan hal tersebut kepada kedua orang tuanya. Entah kenapa, mungkin, kata dia, karena ia masih berusia belia dan tidak terpikirkan olehnya untuk bertanya. Kendati demikian, kecurigannya makin kuat terkonfirmasi saat SMA, ketika ia menjalani tes golongan darah.
Tidak mungkin golongan darahnya bisa sama dengan kedua orang tuanya, kata dia. Meski begitu, peristiwa tersebut belum mendorong Emanuella untuk bertanya pada kedua orang tuanya. Belum ada keinginan juga darinya untuk mencari tahu lebih lanjut.
Pada 2006, kekasih yang saat ini menjadi suaminya menyarankan agar perempuan ini mencari tahu lebih lanjut. Pada 2012, ia dan suami lalu bertanya kepada neneknya dan diberi tahu bahwa ia diadopsi di panti asuhan Katolik di Yogyakarta.
"Tapi saya tidak lanjuti. Entah kenapa, perasaan tidak enak kalau tanya mami. Selain itu saya harap mami yang akan cerita," imbuh Emanuella.
Selanjutnya pada 2013, ia pindah ke Inggris. Setahun kemudian, di 2014 ia melahirkan anak ke-3 dan 4, kembar non-identik. Hal yang mendorongnya untuk mencari tahu adalah rasa penasaran jika saja ia memiliki saudara kembar atau ibunya memiliki saudara kembar. Hatinya pun tergerak, tetapi belum ada tindakan.
Baca Juga:Sambut Maulid Nabi, Keraton Yogyakarta Gelar Grebeg Maulud Khusus Internal
Lalu pada 2015 dan 2017 ibunya berkunjung ke Inggris, sedangkan ayahnya sudah meninggal. Banyak kesempatan yang muncul untuk bertanya, tetapi ia urungkan. Di sisi lain, Emanuella berharap, ibunya sendiri yang akan bercerita. Ia bertekad bertanya pada 2019 dan 2020 saat ibunya berkunjung, tetapi gagal karena berhalangan datang.