Anggap Lazim Azan Jihad, Cak Nun Singgung Rekayasa Rezim

Di luar perspektif itu, Cak Nun mengatakan, ada teori lain kenapa azan hayya alal jihad begitu masif dan viral.

Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana
Rabu, 02 Desember 2020 | 16:22 WIB
Anggap Lazim Azan Jihad, Cak Nun Singgung Rekayasa Rezim
Azan ajak jihad sambil bawa pedang dan celurit. (Twitter @SantorinisSun)

Sedangkan dari sudut pandang secara fiqih, azan hayya alal jihad tidak lazim karena bukan demikian ajaran dan tradisi baku sejak Rasulullah SAW. Untuk itu, menurut Cak Nun, lazim juga andaikan ada ulama yang menyebutkan bahwa azan hayya alal jihad itu melanggar syariat, bid’ah, atau bahkan sesat.

“Kalau dilihat dari fiqih, menurut saya penggantian lafal azan dengan kata jihad, hal tersebut dinilai sebagai hal yang tak lazim dilakukan,” ungkap Cak Nun.

Meski demikian, Cak Nun menegaskan bahwa pandangannya ini tidak bisa dijadikan dasar, sehingga masyarakat diminta untuk tidak kaget jika ada ulama ataupun kiai lain yang memiliki penilaian yang berbeda terkait penggantian kalimat azan dengan kata jihad.

“Itu pandangan saya, tapi jangan kaget jika nanti ada ulama yang menyebut hal tersebut sebagai bid’ah atau bahkan bid’ah kubro terkait adanya penggantian kalimat tersebut,” katanya.

Baca Juga:Polisi Satroni ke Rumah Habib Rizieq Disambut Teriakan Jihad Laskar FPI

Di luar perspektif itu, Cak Nun mengatakan, ada teori lain kenapa azan hayya alal jihad begitu masif dan viral. Itu bisa jadi adalah rekayasa rezim penguasa, kata dia.

“Kita tidak mengklaim juga tak menuduh, tapi ada teori seperti itu. Mungkin saja yang bikin yang berkuasa, secara teori politik strategis memang ada [teorinya]” ujarnya.

Budayawan NU itu mengatakan, teori lain soal geopolitik menyebutkan, kekuatan Islam yang keras sengaja dimunculkan sebuah kekuatan supaya memungkinkan institusi negara atau institusi global menumpas Islam keras tersebut. Wujud yang bisa dilihat adalah munculnya fenomena terorisme.

“Tapi ada teori lain. Misalnya kalau ada kelompok Islam yang sangat keras, itu kemungkinan lain rekayasa dari yang berkuasa. Itu bisa terjadi dalam negara dan politik internasional, tokoh Islam sangat keras bagian dari rezim. Itu sebuah teori, saya tak mengatakan ada kemungkinan begitu,” kata dia.

Selanjutnya, Cak Nun mengatakan, jika perspektif pandangnya diperluas, maka akan ditemukan spektrum di mana subjek-subjeknya sangat banyak: globalisasi, penjajahan Dajjal dan Ya’juj Ma’juj, imperialisme, kapitalisme global, amr, dan iradah Allah SWT sendiri.

Baca Juga:Gaduh, Azan Isi Ajakan Jihad sambil Bawa Pedang dan Celurit

Dari perspektif ini, Cak Nun membaca munculnya berbagai fenomena itu sebagai tanda bakal ada tatanan peradaban baru.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak