Ekonom UII: Bereskan Kesehatan dan Ekonomi Dulu, Urusan Politik Belakangan

Ia memandang, pandemi melahirkan perdebatan dua mazhab yang berbeda, yaitu pro pemulihan kesehatan dan pro pemulihan ekonomi.

Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana
Minggu, 27 Desember 2020 | 18:40 WIB
Ekonom UII: Bereskan Kesehatan dan Ekonomi Dulu, Urusan Politik Belakangan
Ilustrasi Pandemi. (Pexels)

SuaraJogja.id - Ekonom Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Islam Indonesia (FBE UII) Suwarsono Muhammad menilai bahwa ekonomi di masa pandemi COVID-19 memiliki wajah kembar.

Pandemi menurutnya bukan hanya memiliki sisi negatif, melainkan juga punya sisi positif yang masih jarang dikulik. Ia mengungkapkan, pandemi, yang sudah berlangsung selama hampir satu tahun ini, telah membuat bumi seolah hampir berhenti berputar.

“Saya melihat, seburuk apa pun pandemi, tapi mereka tetap punya wajah kembar. Jangan pernah lupakan krisis, lihat bahwa jangan-jangan di balik krisis ada peluang bisnis yang tidak ditengok orang,” ungkap eks Penasihat Komisi Pemberantasan Korupsi RI itu dalam keterangannya, Minggu (27/12/2020).

Pandemi merupakan krisis yang berbeda dari krisis lain. Ia memandang, pandemi melahirkan perdebatan dua mazhab yang berbeda, yaitu pro pemulihan kesehatan dan pro pemulihan ekonomi. Keduanya ini harus dijalankan secara beriringan untuk mendapatkan keseimbangan yang ideal.

Baca Juga:Pandemi Covid-19 Bikin Tren Wisata Berubah, Jadi Bagaimana?

Suwarsono menuturkan, ada dua pokok persoalan dalam sisi publik pada masa pandemi ini, baik dalam sisi teknis dan dalam sisi politik. Sayangnya, negara berkembang memiliki kecenderungan penanganan krisis dimulai dari memulihkan sisi politiknya terlebih dahulu.

"Harusnya dimulai dari aspek teknis. Jadi kalau lagi pandemi, yang dibereskan adalah kesehatan dan ekonomi dulu, politiknya belakangan," jelasnya di sela peluncuran majalah elektronik FBE UII edisi pertama, bertajuk "Pandemi dan Krisis Ekonomi".

Sementara itu, seorang Diplomat Indonesia Adib Zaidani Abdurrohman mengatakan, salah satu kemajuan yang dihadirkan pandemi COVID-19 adalah teknologi. Hal ini menuntut orang-orang juga harus mampu berkembang dalam teknologi.

Dalam praktik seperti yang ia jalani selama ini, hubungan tatap muka dan hubungan personal yang erat merupakan hal yang sangat krusial dalam diplomasi antar bangsa.

Namun, pandemi memaksanya untuk berkomunikasi secara virtual dengan bantuan teknologi.

Baca Juga:Innalillahi! 234 Kiai dan Tokoh NU Wafat Selama Pandemi Covid-19

“Kenyataannya banyak sekali kedutaan besar yang memiliki IT budget yang sangat rendah. Hal ini berdampak saat kita sedang negosiasi jadi terhambat, koneksi terputus. Tentu ini mengurangi wibawa dari seseorang saat harus berada secara virtual,” ujar Negosiator Indonesia di Komite 5 PBB, New York, Amerika Serikat itu.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini

Tampilkan lebih banyak