Suparmin hanya bisa bertahan dengan kondisi saat ini. Dirinya tetap memproduksi meski pendapatannya jauh dari kata cukup.
"Saya menjualnya per ember. Nah satu ember saya hargai Rp95-100 ribu. Saat ini saya naikkan sedikit menjadi Rp115 ribu. Jika terlalu tinggi konsumen nanti protes lagi. Berapa hasilnya disyukuri saja," kata dia.
Seorang pedagang tahu, Hardono (35) harus mengaku dilema dengan naiknya harga kedelai saat ini. Jika harus menaikkan harga tahu yang dia jual, akan banyak pembeli yang lari ke tempat lain. Namun jika tidak dinaikkan laba yang dihasilkan sedikit sekali.
"Takutnya banyak pembeli saya yang protes dan akhirnya pindah ke pedagang lain. Padahal harganya tidak jauh beda. Misal bedanya hanya Rp200, pembeli sudah tidak mau membeli di tempat saya lagi. Jadinya harus mempertahankan harga walau hasil (labanya) sedikit," katanya.
Baca Juga:Jatuh dari Motor, 3 Remaja Diduga Pelaku Klitih di Bantul Diamankan Warga
Hardono menjelaskan, harga kedelai di kisaran harga Rp7.000 sudah cukup menguntungkan pedagang seperti dirinya yang mengambil tahu langsung dari produsen. Pendapatannya bisa disisihkan untuk kebutuhan yang lain.
"Dengan harga itu (Rp7.000) kami bisa lebih mudah mendapatkan untung. Jika naiknya sampai Rp9.500, otomatis barang jadi (tahu) juga akan naik. Tapi masalahnya kami naikkan pembeli malah protes. Jika mereka (pembeli) bisa memahami keadaan yang terjadi, mungkin tidak masalah," ujar dia.
Baik Hardono dan Suparmin berharap agar pemerintah bisa mengambil langkah untuk kembali menstabilkan harga kedelai. Minimal kembali dihargai Rp7.000 perkilonya
"Dulu pernah bertahan hampir 3 tahun kedelai dengan harga itu. Kami baik produsen atau pedagang tahu lebih mudah mengatur pendapatan. Harapannya itu bisa dilakukan lagi," jelas Hardono.
Baca Juga:Tak Tahu Ayah Bayinya, Motif DDT Lakukan Aborsi di Kos di Bantul