Digelar Sederhana, Tawur Agung Kesanga di Prambanan Tanpa Ogoh-Ogoh

Upacara Tawur Agung dilaksanakan sebagai proses penyucian manusia dapat hidup selaras dengan alam semesta dan melestarikan keharmonisan dengan alam.

Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana
Minggu, 14 Maret 2021 | 14:34 WIB
Digelar Sederhana, Tawur Agung Kesanga di Prambanan Tanpa Ogoh-Ogoh
Umat Hindu menggelar ritual Upacara Tawur Agung Kesanga di plataran Candi Prambanan, Yogyakarta, Sabtu (13/3/2021). - (Kontributor SuaraJogja.id/Julianto)

SuaraJogja.id - Umat Hindu menggelar ritual Upacara Tawur Agung Kesanga sebagai rangkaian menyambut hari raya Nyepi di plataran Candi Prambanan, Yogyakarta, Sabtu (13/3/2021). Namun kali ini, ritual Tawur Agung Kesanga tanpa ogoh-ogoh.

Ketua Panitia Nyepi 1 Saka 1943 I Wayan Tartama mengatakan, perayaan Hari Raya Umat Hindu ini mengangkat tema ‘Memayu Hayuning Bhuwana dan Meningkatkan Harmoni Menuju Indonesia Sehat'.

Upacara Tawur Agung dilaksanakan sebagai proses penyucian manusia dapat hidup selaras dengan alam semesta dan melestarikan keharmonisan dengan alam.

"Biasanya, Ritual Tawur Agung diisi oleh beragam kegiatan seperti tari Ogoh-Ogoh dan pentas tari budaya. Tahun ini, ritual jelang Nyepi ini diselenggarakan secara sederhana dan penuh khidmat," ujarnya, Sabtu.

Baca Juga:Suasana Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1943 di Bali

Untuk perayaan Nyepi kali ini, pihaknya memang membatasi jumlah orang yang datang langsung. Paling banyak memang di Prambanan dengan jumlah 100 peserta. Di tempat lain hanya 50 orang.

Pihaknya mengikuti apa yang dianjurkan pemerintah demi ikut serta menurunkan kurva pandemi, mengingat saat ini pandemi Covid-19 masih mengkhawatirkan.

Wayan menyebutkan, Tawur Agung Kesanga terdiri dari beberapa prosesi, seperti prosesi Mendak Tirta alias menjemput air suci. Dalam rituali ini, para umat beriringan mengara kumbul-umbul, berbagai persembahan yang diiringi gamelan menuju ke Candi Siwa.

Setelah itu, rombongan berjalan mengelilingi Candi Dewa Siwase banyak tiga kali searah jarum jam. Prosesi Pradaksina kali ini berjalan dalam suasana yang khusyuk, mengingat peserta dalam jumlah terbatas dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Setelah itu, rombongan pembawa Tirta disambut dengan tari penyambut Tirta yang bertajuk Tari Rejang Dewa. Tari klasik ini merupakan tari yang mengiringi tirta Tawur Kesanga yang nantinya menjadi medium penyucian peserta upacara.

Baca Juga:Tahun Baru Saka, Umat Hindu Banjarmasin Gelar Upacara Tawur Kesanga

"Semua ini mengajak umat untuk refleksi terhadap kondisi saat ini dan membangun kehidupan yang lebih baik lagi," tambahnya.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini

Tampilkan lebih banyak