alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Kisah Bupati Banjarnegara, Divonis Tewas Overdosis Lalu Mualaf Usai Mimpi di Kamar Mayat

Galih Priatmojo Selasa, 13 Juli 2021 | 14:53 WIB

Kisah Bupati Banjarnegara, Divonis Tewas Overdosis Lalu Mualaf Usai Mimpi di Kamar Mayat
Bupati Banjarnegara Budhi Sarwono bercerita kisahnya saat mualaf di acara Hotman Paris Show pada Oktober 2019 silam. [Hotman Paris Show / YouTube]

Bupati Banjarnegara Budhi Sarwono pernah jadi bandar narkoba sebelum kemudian bertaubat dan menjadi mualaf

SuaraJogja.id - Selain nama Ganjar Pranowo atau Anies Baswedan, sosok kepala daerah yang belakangan mencuri perhatian yakni Bupati Banjarnegara Budhi Sarwono. Sosok yang sempat membuat pernyataan kontroversi terkait Covid-19 itu nyatanya memiliki kisah suram yang kemudian mengantarkannya jadi seorang mualaf.

Seperti diketahui, sosok Bupati Banjarnegara Budhi Sarwono bukan baru sekali ini saja jadi perhatian publik. Sebelum mencuat perihal pernyataan kontroversialnya bab Covid-19, kader PDI Perjuangan tersebut sempat viral seusai slip gajinya sebagai bupati tersebar di media sosial.

Nah, di balik kisah kontroversialnya, pria yang memiliki nama kecil Kho Wing Chin tersebut punya kisah kelam yang kemudian membawanya menjadi mualaf.

Bupati Banjarnegara, Budhi Sarwono saat blusukan ke Pasar Karangkobar, Sabtu (6/2/2021). [Hestek.id/Inung]
Bupati Banjarnegara, Budhi Sarwono saat blusukan ke Pasar Karangkobar, Sabtu (6/2/2021). [Hestek.id/Inung]

Seperti dilansir dari channel YouTube Hotman Paris Show, pria kelahiran 27 November 1962 itu saat usia muda akrab dengan dunia hitam. Ia mengaku dahulu merupakan bandar narkoba.

Baca Juga: 5 Bule Mualaf Setelah Menikah dengan Artis Indonesia, Harmonis Hingga Kini

"Dulu saya kepala pengepul pil atau mungkin bisa dibilang bandar ekstasi. Saya mengedarkan narkoba itu sejak tahun 1993 hingga berhenti di tahun 1998," ungkapnya.

Ia mengaku semenjak berhenti mengedarkan narkoba di tahun 1998, di saat itu pulalah bertaubat dan menjadi mualaf.

Mantan ketua DPP PITI Indonesia itu berkisah keputusannya untuk menjadi mualaf dilalui dengan cukup miris. Saat itu, ia sempat overdosis lantaran mengonsumsi banyak obat-obatan terlarang.

Gegara itu, ia sempat divonis meninggal dan diletakkan di kamar mayat dengan posisi tangan dan kaki sudah terikat, dibungkus layaknya mayit yang akan dikebumikan.

"Di kamar mayat itu saya teriak-teriak. Saya mati suri kala itu. Kemudian dokter datang dan menanyakan kondisi saya. Saya ketika itu teriak lantaran bermimpi digebuki oleh sejumlah orang berjubah putih," katanya.

Baca Juga: Arti Bacaan Sholat, Lengkap dari Awal Sampai Salam, Mudah Dihafal Anak-anak dan Mualaf

"Lalu, ketika saya kesakitan muncul seorang anak meminta saya mengucap istighfar. Karena saya Katolik, saya tak tahu apa itu istighfar, lalu saya digebuki hingga merasa lemas. Di saat itulah saya kemudian meminta ampun Ya Tuhan ampuni saya. Lalu ada suara tanya kamu mau masuk agama apa, saya kepingin Islam. Setelah itu saya mengucap syahadad. Seusai itu saya merasa tenang," lanjutnya.

Semenjak resmi menjadi mualaf, Budhi kemudian secara perlahan membuang semua sisa-sisa masa lalunya yang kelam. Semua barang-barang narkoba yang masih ada di rumah ia buang.

Ekstasi [suara.com/Muhamad Yasir]
Ekstasi [suara.com/Muhamad Yasir]

"Semenjak itu, saya buang semua ekstasi, hasil kekayaan saya saya kasih ke orang-orang," tambahnya.

Sementara itu, dilansir dari channel YouTube Banjarnegara Kab, Budhi Sarwono mengaku kenakalannya sebetulnya sudah terlihat semenjak duduk di bangku SMP. Ia mengaku dulu kerap mengambil barang-barang emas dagangan milik orang tuanya lalu dijual.

"Hasilnya ya cuma buat jajan bareng temen-temen dan dibagikan ke tukang becak. Itu saya kecanduan dan ga kapok meski sering ketahuan dan digebuki sama om," katanya.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait